Hasil Review SEC, Ada Klaim yang Tidak Sesuai dalam Pengelolaan Dana Bertema ESG

Senin, 12 April 2021 | 17:33 WIB
Hasil Review SEC, Ada Klaim yang Tidak Sesuai dalam Pengelolaan Dana Bertema ESG
[ILUSTRASI. Logo Stock Exchange di pintu masuk bursa New York, New York City, AS, 29 Maret 2021. REUTERS/Brendan McDermid]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (AS) atau SEC, akhir pekan lalu, menyatakan, ada klaim yang “berpotensi menyesatkan” dan kontrol yang tidak memadai seputar investasi bertema environmental, social and governance (ESG). Pernyataan itu merujuk ke hasil pengkajian SEC atas kegiatan penasihat investasi dan dana.

Regulator memperingatkan para pengelola dana bahwa hasil evaluasi memperlihatkan ada ketidaksesuaian di antara pendekatan investasi yang dideklarasi dengan yang sesungguhnya terjadi. Salah satu bentuknya adalah bagaimana perusahaan menangani pemungutan suara atas nama investor, serta "klaim yang tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan" mengenai strategi investasi yang bertanggung jawab secara sosial.

Peringatan pekan lalu merupakan yang terbaru dari serangkaian tindakan yang diambil  SEC untuk memasukkan risiko iklim dan masalah sosial dan pemerintahan ke dalam kerangka kerjanya. Kebijakan itu diambil SEC sejak Joe Biden dilantik sebagai Presiden AS.

Baca Juga: Saham-saham ini banyak ditadah asing saat IHSG tumbang 2% pada Senin (12/4)

Bulan lalu, SEC mengerahkan tim untuk mengawasi pengungkapan risiko perubahan iklim. Regulator bursa itu juga telah memperbarui panduan bagi perusahaan publik tentang berbagi informasi yang perlu mereka ungkap ke publik sehubungan denga climate risk. SEC menjadikan topik tersebut sebagai prioritas untuk pemeriksaan 2021.

Pengelolaan dana yang berorientasi ke tanggung jawab sosial semakin populer di kalangan investor dalam beberapa tahun terakhir. Dana yang mengalir masuk ke reksadana berkelanjutan mencapai US$ 51 miliar di tahun 2020 saja, menurut Morningstar. Itu adalah rekor dana masuk tertinggi.

Seiring dengan popularitasnya yang membumbung, reksadana itu juga menuai kritikan. Banyak pengamat yang menilai pengelola dana melebih-lebihkan kredensial pengelolaan dananya demi menarik uang tunai.

Penelitian SEC menemukan contoh di mana perusahaan tidak memiliki proses formal untuk investasi bercorak ESG, kendati mereka mengklaim demikian. Dalam beberapa kasus, SEC mengatakan penasihat tidak memiliki cara untuk "melacak secara wajar" atau menyaring investasi di industri tertentu.

Dalam kasus pemungutan suara proxy, SEC mengatakan menemukan contoh di mana beberapa investor diberitahu bahwa mereka dapat memberikan suara secara terpisah pada proposal terkait ESG, tetapi kemudian tidak pernah diberi kesempatan itu.

Selanjutnya: Perkuat permodalan, berikut daftar calon bank BUKU IV

 

Bagikan

Berita Terbaru

Aksi Akuisisi Grup Djarum Makin Agresif, Portofolio Bisnis Kian Beragam
| Jumat, 31 Juli 2026 | 22:38 WIB

Aksi Akuisisi Grup Djarum Makin Agresif, Portofolio Bisnis Kian Beragam

Aneka manuver bisnis Gru[ Djarum bukan didasari oleh sifat serakah, melainkan dilandasi oleh rasa tidak aman (insecure).

Kinerja Semester I Sektor Ritel Merekah, Saham Mana yang Paling Menarik?
| Jumat, 31 Juli 2026 | 12:00 WIB

Kinerja Semester I Sektor Ritel Merekah, Saham Mana yang Paling Menarik?

Kinerja impresif emiten ritel tidak hanya didorong oleh lonjakan saat Ramadan dan Lebaran, termasuk ketahanan dari kelompok menengah atas.

Sejumlah Stimulus Tak Terserap Optimal
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:36 WIB

Sejumlah Stimulus Tak Terserap Optimal

Realisasi insentif PPN DTP pembelian rumah tapak dan satuan rumah susun sepanjang tahun lalu hanya 86,02%

Laba Fintech GoPay Lampaui Gojek, Bisnis Fintech Kini Jadi Lokomotif Kinerja GOTO
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:30 WIB

Laba Fintech GoPay Lampaui Gojek, Bisnis Fintech Kini Jadi Lokomotif Kinerja GOTO

Untuk pertama kalinya, profitabilitas bisnis fintech (GoPay) melampaui bisnis on demand services (Gojek) pada kuartal II-2026.

Meski Melandai, Risiko Inflasi Masih Mengintai
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:26 WIB

Meski Melandai, Risiko Inflasi Masih Mengintai

Ekonom memperkirakan laju inflasi bulanan dan tahunan Juli 2026 turun dari bulan sebelumnya         

Sektor Hulu Tekstil Masih Tertekan
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:05 WIB

Sektor Hulu Tekstil Masih Tertekan

Kinerja sektor hulu di semester I mengalami penurunan produksi 5% yoy. Hal ini terkait dengan permintaan di sektor hilir yang sedikit menurun.

Sempat Bullish, Saham Bukalapak.com (BUKA) Patut Dicermati
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:00 WIB

Sempat Bullish, Saham Bukalapak.com (BUKA) Patut Dicermati

Keberlanjutan tren positif BUKA di semester II-2026 sangat bergantung pada kemampuannya menjaga pertumbuhan pendapatan berkualitas.

El Nino Ikut Mendorong Pertumbuhan Bisnis AMDK
| Jumat, 31 Juli 2026 | 07:53 WIB

El Nino Ikut Mendorong Pertumbuhan Bisnis AMDK

Cuaca yang lebih panas dan kering umumnya meningkatkan kebutuhan hidrasi masyarakat sehingga bisa meningkatkan permintaan AMDK.

Andalkan Home Appliances, Selaras Citra (SCNP) Kejar Pendapatan Rp 388,8 Miliar
| Jumat, 31 Juli 2026 | 07:46 WIB

Andalkan Home Appliances, Selaras Citra (SCNP) Kejar Pendapatan Rp 388,8 Miliar

SCNP juga membidik laba bersih sebesar Rp 24,30 miliar dengan target volume produksi mencapai 1.594.062 unit hingga akhir tahun.

Rebalancing Indeks SMC Liquid, Simak Saham Pilihan Analis
| Jumat, 31 Juli 2026 | 07:43 WIB

Rebalancing Indeks SMC Liquid, Simak Saham Pilihan Analis

Bursa Efek Indonesia melakukan evaluasi mayor terhadap indeks small mid cap (SMC) Liquid yang berisi saham berkapitalisasi kecil dan menengah 

INDEKS BERITA

Terpopuler