Simak Prospek Saham Perbankan di Tengah Perubahan Suku Bunga hingga PSAK Baru

Senin, 05 Agustus 2019 | 07:54 WIB
Simak Prospek Saham Perbankan di Tengah Perubahan Suku Bunga hingga PSAK Baru
[]
Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah ketidakpastian pemangkasan suku bunga lanjutan dari The Federal Reserve, prospek industri perbankan di Indonesia mulai cerah. Apalagi, Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan suku bunga.

Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma menilai, keputusan BI menurunkan BI 7-day repo rate (BI 7-DRR) pada pertengahan bulan Juli lalu membawa angin segar bagi industri perbankan. Alhasil, saham emiten perbankan dapat mencetak hasil positif di sisa tahun ini.

Menurut Suria, tren bunga rendah menjadi celah bagi perbankan untuk memperbaiki net interest margin (NIM). Ia memperkirakan, penurunan suku bunga acuan pun masih berlanjut, baik di dalam negeri maupun di AS.

Baca Juga: Saham BBCA (Bank BCA) turun 0,72%, ini PER dan PBV terbaru (2/8)

Sebab, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan mengenakan tarif impor 10% terhadap produk asal China dengan nilai impor US$ 300 miliar mulai 1 September mendatang. Ini dilakukan karena negosiasi dagang antara AS dan China belum menemukan titik terang.

Trump juga menilai Presiden China Xi Jinping melanggar kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Jika perang dagang kembali memanas, probabilitas bagi The Fed kembali memangkas suku bunga acuan di sisa tahun ini kian tinggi.

Perkiraan analis, bank sentral AS tersebut bisa kembali menurunkan suku bunga pada rapat FOMC di September dan Desember. "Dengan kondisi tersebut, BI punya peluang lebih tinggi untuk memangkas suku bunga acuannya," kata Suria, Sabtu (3/8).

Baca Juga: IHSG tertekan, masih ada peluang menguat tipis pada hari ini

Menurut hitungan Suria, BI 7-DRR bisa turun tiga kali lagi jika keadaan ini terjadi. "Suku bunga bisa dipangkas tiga kali lagi di tahun ini, tapi tentu juga dengan memperhitungkan apa yang terjadi dengan The Fed," jelas dia.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas menambahkan, prospek saham perbankan ke depannya akan lebih baik. Permintaan pinjaman kredit diharapkan akan meningkat.

Dengan begitu, kinerja emiten perbankan akan bertahan di jalur positif. "Tapi, investor perlu waspada bila ada kejadian yang tidak diharapkan pasar, yakni jika The Fed ternyata menurunkan suku bunga acuannya hanya sekali saja, dan penurunan suku bunga akan berlanjut tahun depan," jelas Sukarno, Minggu (4/8).

Tekanan NPL

Dari sentimen domestik, Suria menjelaskan, sentimen yang paling mempengaruhi pergerakan emiten perbankan adalah masalah likuiditas. Ini karena rasio pinjaman terhadap simpanan alias loan to deposit ratio (LDR) di industri perbankan mencapai 96%.

Baca Juga: Saham BBTN (Bank BTN) turun 3,33%, ini PER dan PBV terbaru (2/8)

Untungnya rasio pinjaman bermasalah atawa non performing loan (NPL) industri perbankan hingga semester I-2019, rata-rata sudah membaik. "Namun memang, ada beberapa pinjaman yang mulai diwaspadai karena berpotensi menjadi NPL akibat kasus, seperti Duniatex dan lain-lain," jelas Suria.

Ke depan, masih ada beberapa sentimen domestik yang bakal mempengaruhi kinerja emiten perbankan. Di antaranya implementasi PSAK 71. Hal ini tengah diantisipasi oleh banyak bank.

Perubahan penghitungan CKPN sesuai standar baru tersebut akan mempengaruhi keuangan bank. Untuk itu, bank-bank yang memiliki coverage ratio NPL yang rendah harus menaikkan cadangan mereka. Selain itu, masih ada ancaman penurunan CAR.

Baca Juga: Saham BMRI (Bank Mandiri) turun 1,29%, Ini PER dan PBV terbaru (2/8)

Nah, untuk perbankan yang berada di BUKU IV, Suria menilai kondisi tersebut tidak akan menjadi masalah. Di sisi lain, ada isu dari sentimen eksternal yang juga perlu menjadi perhatian ke depan, yakni perkembangan perang dagang antara AS dan China.

Perang dagang diprediksi masih akan berkepanjangan. "Apalagi pernyataan Trump yang membalikkan persepsi bisa muncul tiba-tiba dan kapan saja," ungkap dia.

Meskip begitu, untuk jangka panjang, Sukarno meyakini prospek saham perbankan akan tetap positif. Adapun saham perbankan pilihannya yakni saham yang berada di kategori BUKU IV.

Secara sektoral, Suria masih memberikan peringkat overweight bagi sektor perbankan. Dia merekomendasikan beberapa saham seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Menurut dia, kedua bank tersebut masih memiliki valuasi yang menarik, meski memang NIM kedua bank tersebut lebih rendah di antara bank besar lainnya. Suria menargetkan harga saham BBTN di akhir tahun bisa mencapai Rp 2.850 per saham.

Sementara, untuk BBNI, Suria menyarankan beli dengan target harga Rp 10.600 per saham. Adapun untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), meskipun memiliki kinerja paling mantap, namun valuasi kedua perbankan tersebut terbilang premium. Suria memasang rekomendasi hold untuk kedua saham tadi.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Bidik 5.000 Kampung Nelayan Hingga 2029
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 09:10 WIB

Bidik 5.000 Kampung Nelayan Hingga 2029

Program ini akan dilengkapi dengan pembangunan pabrik es hingga cold storage, hingga dukungan kendaraan operasional

Kebut Belanja Kejar Ekonomi Tumbuh 6%
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:54 WIB

Kebut Belanja Kejar Ekonomi Tumbuh 6%

Belanja negara Rp809 triliun digelontorkan di awal 2026. Mampukah dorong ekonomi RI tumbuh 6%? Cari tahu pendorong lainnya!

IHSG Sepekan Menguat, Diwarnai Beragam Sentimen Domestik
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:21 WIB

IHSG Sepekan Menguat, Diwarnai Beragam Sentimen Domestik

Pasar saham di akhir pekan melemah, akibat aksi ambil untung atau profit taking menjelang libur panjang Imlek.

Ini Dia Sektor Paling Cuan di Tahun Kuda Api
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:19 WIB

Ini Dia Sektor Paling Cuan di Tahun Kuda Api

Sektor bisnis yang memiliki elemen logam dan kayu dinilai menjadi unggulan pada tahun kuda api kali ini

Genteng dan Beras
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:10 WIB

Genteng dan Beras

Gentengisasi Prabowo mengingatkan kebijakan mantan mertuanya, Soeharto seperti merekayasa selera lidah orang Indonesia hingga bergantung beras.

Pembelajaran Oil Booming dari Meksiko
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:00 WIB

Pembelajaran Oil Booming dari Meksiko

Meksiko harus membayar mahal salah mengelola sumber daya alam yakni berupa minyak bumi yang melimpah.

Fondasi Bisnis SCG Semakin Kokoh
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 06:54 WIB

Fondasi Bisnis SCG Semakin Kokoh

Setoran bisnis SCG di Indonesia disebut berkontribusi signifikan terhadap resiliensi bisnis perusahaan secara keseluruhan.

Tips CEO Sucor Sekuritas: Jangan Lawan Tren Pasar Saham
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 06:15 WIB

Tips CEO Sucor Sekuritas: Jangan Lawan Tren Pasar Saham

CEO Sucor Sekuritas raup untung besar saat IHSG anjlok karena Covid-19. Simak strategi agresifnya agar bisa cuan

Rupiah Terseret Data Ekonomi dalam Sepekan Ini
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 06:00 WIB

Rupiah Terseret Data Ekonomi dalam Sepekan Ini

Rupiah melemah harian namun menguat dalam sepekan terakhir. Ketahui faktor pendorong dan proyeksinya pekan depan

Tanpa Insentif, Bisnis Kredit Motor Listrik Terancam Melambat
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 05:15 WIB

Tanpa Insentif, Bisnis Kredit Motor Listrik Terancam Melambat

Pemerintah tak memperpanjang subsidi sebesar Rp 7,5 juta untuk pembelian sepeda motor listrik mulai tahun ini. 

INDEKS BERITA

Terpopuler