Berita Market

Bank Bukopin Batal Merilis Obligasi, Humpuss Intermoda Tunda Tahun Depan

Kamis, 25 Juli 2019 | 05:10 WIB
Bank Bukopin Batal Merilis Obligasi, Humpuss Intermoda Tunda Tahun Depan

Reporter: Aloysius Brama | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi tak selalu menarik bagi sebagian emiten. Hal ini tercermin dari sejumlah emiten yang memutuskan untuk menunda penerbitan instrumen surat utang tersebut.

Terbaru, ada PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) yang urung menerbitkan obligasi tahun ini. Padahal, emiten perkapalan ini telah merancang obligasinya nanti memiliki nilai emisi Rp 1 triliun dengan tenor selama dua tahun.

Budi Haryono, Direktur Utama Humpuss, menjelaskan, urungnya penerbitan obligasi lantaran Fitch tak kunjung memberikan rating untuk obligasinya. Alasannya, menurut Budi, Fitch ingin melihat lebih jauh realisasi penggunaan kapal anyar Humpuss.

Apalagi, kerjasama pengangkutan dengan Pertamina sebelumnya batal. Fitch beranggapan hal ini bisa mempengaruhi prospek kinerja Humpuss, sehingga Fitch menunda pemberian rating.

Humpussmemperkirakan penerbitan obligasi baru terealisasi tahun depan. "Tapi lebih baik seperti itu, kami mendapat rating yang memadai," ujar Budi kepada KONTAN belum lama ini.

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) mengambil keputusan serupa. Alih-alih merilis obligasi Rp 1,5 triliun, perusahaan ini justru memilih menggelar rights issue.

Prospek kinerja dan kondisi pasar keuangan ke depan menjadi pertimbangan BBKP mengeksekusi rights issue. "Rights issue juga lebih efisien dari sisi biaya," ujar Direktur Keuangan BBKP Rachmat Kaimuddin.

Sebelumnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga menunda penerbitan obligasi global. Padahal, perusahaan ini sudah sempat melakukan pendekatan ke sejumlah calon investor.

Dari sisi makro, prospek pasar obligasi semester kedua ini sejatinya masih menarik. Penurunan suku bunga acuan diperkirakan akan terus berlanjut. Penurunan suku bunga akan mendorong kupon obligasi terdiskon. "Itu akan menurunkan cost of fund perusahaan," ujar Head of Research MNC Sekuritas Thendra Crisnanda

Meski begitu Thendra juga menggarisbawahi mengenai kebutuhan masing-masing perusahaan. Biasanya perusahaan cenderung akan memilih menerbitkan obligasi apabila dana akan digunakan perusahaan untuk ekspansi bisnis. "Karena pembayaran pokok pada akhir jatuh tempo serta bunga obligasi bersifat fixed," jelas dia.

Senada, Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebut kondisi makro ekonomi di semester dua lebih menarik bagi emiten untuk menerbitkan surat utang. Penurunan suku bunga membuat beban kupon obligasi lebih ringan. "Pada satu sisi, kepastian politik juga sudah relatif stabil," kata Wawan.

Menurut dia, tren penurunan suku bunga masih bisa berlanjut. "Sehingga, emiten yang menahan penerbitan obligasi, kemungkinan masih menanti penurunan itu terjadi," kata Wawan.


Baca juga