Beban Naik, Indofood (INDF) Tetap Menarik

Kamis, 06 Oktober 2022 | 04:00 WIB
Beban Naik, Indofood (INDF) Tetap Menarik
[]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di paruh kedua tahun ini dibayangi pergerakan harga komoditas yang melemah dan penguatan dollar Amerika Serikat (AS). Para analis menyebut, faktor utama yang bisa membantu kinerja INDF adalah daya beli masyarakat yang masih tumbuh di tengah laju inflasi.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto mengatakan, laba bersih INDF terpangkas pada semester pertama 2022 karena rugi selisih kurs. Beban keuangan INDF pada semester I-2022 mencapai Rp 3,3 triliun, melesat dibandingkan posisi tahun lalu yang sekitar Rp 2 triliun.

Pada kuartal III hingga masuk kuartal IV-2022, kurs rupiah terus melemah, bahkan menembus Rp 15.200 per dollar AS. Posisi ini lebih lemah dibandingkan kuartal II yang ada di Rp 14.900. 

Baca Juga: Meski Kinerja Keuangan Turun, Sejumlah Saham LQ45 Ini Punya Prospek Menarik

Artinya, beban keuangan INDF bakal ikut naik.  "Penguatan dollar AS baru-baru ini membayangi kinerja INDF. Jika penguatan terus berlanjut maka akan semakin berat mendongkrak laba, meskipun pendapatan membukukan pertumbuhan," terang Pandhu, Rabu (5/10). 

Di sisi lain, angin segar bertiup dari merosotnya harga komoditas bahan baku utama seperti gandum dan crude palm oil (CPO). Hitungan Pandhu, harga gandum dan CPO di kuartal III turun sekitar 30% dibanding kuartal II.

Kondisi ini bisa memperbaiki margin laba INDF. "Apalagi selama ini INDF memiliki fleksibilitas baik dalam mengatur harga jual dan diserap dengan baik oleh para konsumennya," imbuh Pandhu.

Analis Kanaka Hita Solvera Raditya Krisna Pradana juga percaya, permintaan produk Indofood tidak berubah signifikan meski inflasi tinggi. "Perilaku masyarakat selama inflasi berfokus memenuhi kebutuhan pokok. INDF salah satu emiten penyedia kebutuhan pokok," kata Raditya. Menurut dia, satu-satunya risiko dari INDF adalah beban keuangan dan risiko selisih mata uang.

Proyeksi kinerja

Analis MayBank Sekuritas Willy Goutama mengestimasikan, laba INDF tahun ini akan tumbuh 14,7%. Anak usahanya yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) akan menjadi motor pertumbuhan bagi INDF.

Baca Juga: Dibayangi Harga Komoditas, Inflasi dan Beban Kurs, Ini Prospek Saham Indofood (INDF)

Dari sisi bisnis komoditas, yakni tepung dan CPO, INDF masih punya prospek apik di tahun 2022 dan 2023. Meski tren harga soft commodity cenderung turun, tapi Willy memperkirakan, level harga gandum dan CPO pada 2022 dan 2023 masih akan di atas pra-pandemi tahun 2019.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto bilang, selama dua tahun terakhir, INDF telah diuntungkan dari harga CPO yang lebih tinggi. Hal ini mendukung margin laba pada divisi agribisnis.

Natalia dalam riset 5 September 2022 menaksir, ICBP dan Bogasari akan tetap menjadi pendorong pertumbuhan INDF. Terlebih, keduanya akan terpapar angin segar dari berlanjutnya pemulihan ekonomi dan harga komoditas yang lebih rendah. 

"Menuju tahun 2023, ICBP dan Bogasari diharapkan akan menjadi pendorong pendapatan berikutnya, yang diuntungkan dari biaya yang lebih rendah dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," terangnya.

Di tahun ini, Natalia memperkirakan, pendapatan dan laba bersih INDF bisa mencapai Rp 111,42 triliun dan Rp 7,17 triliun. Laba bersih INDF tersebut lebih rendah 18,7% dari proyeksi dia di awal tahun karena harga CPO yang melunak di semester II. 

Sedangkan di tahun 2023, pendapatan INDF bisa mencapai Rp 121,32 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 7,93 triliun. Proyeksi Natalia di tahun depan juga turun dari hitungan semula, yakni pendapatan Rp 128,69 triliun dan laba bersih Rp 9,38 triliun.

Karena itu, Natalia memangkas target harga saham INDF dari Rp 8.300 menjadi Rp 7.600. Namun, dia masih memasang rekomendasi beli. Willy juga menyarankan beli dengan target harga Rp 8.500.
Pandhu dan Raditya sama-sama menyarankan buy on weakness dengan target harga masing-masing Rp 6.650 dan Rp 6.800 per saham.            

Baca Juga: Laba Bersih Indofood CBP (ICBP) Turun di Semester I 2022, Ini Rekomendasi NH Korindo

Bagikan

Berita Terbaru

Strategi Petronella Soan: Perhiasan Bukan Sekadar Investasi, Tapi Penanda Hidup
| Sabtu, 04 April 2026 | 11:38 WIB

Strategi Petronella Soan: Perhiasan Bukan Sekadar Investasi, Tapi Penanda Hidup

Perhiasan itu beauty investment, bisa bisa dijual kembali dan bisa mendapat keuntungan. Perhiasan itu bisa jadi legacy, bisa diturunkan ke anak.

Pesona Labubu Mulai Luntur?
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:41 WIB

Pesona Labubu Mulai Luntur?

Dalam lima hari perdagangan terakhir hingga Selasa, saham Pop Mart International Group Ltd. anjlok lebih dari 30%.               

Laba Medco Energi (MEDC) Tergerus 72,48% Pada 2025
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:37 WIB

Laba Medco Energi (MEDC) Tergerus 72,48% Pada 2025

 Anjloknya laba bersih PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipicu kinerja pendapatan MEDC yang melambat 0,16% menjadi US$ 2,39 miliar.​

Dian Swastatika Sentosa DSSA Siap Stock Split Saham di Rasio 1:25
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:31 WIB

Dian Swastatika Sentosa DSSA Siap Stock Split Saham di Rasio 1:25

Emiten Grup Sinar Mas ini akan melakukan pemecahan saham atau stock split dari nilai nominal Rp 25 menjadi Rp 1 per saham.

Pendapatan Melesat Satu Digit, Laba ACES Merosot Dua Digit
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:26 WIB

Pendapatan Melesat Satu Digit, Laba ACES Merosot Dua Digit

Laba bersih  PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) di 2025 hanya Rp 668,72 miliar, atau turun 25,03% yoy dari Rp 892,04 miliar pada 2024.

Terpapar Efek Pidato Trump, IHSG Melemah 1,59% Dalam Sepekan
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:21 WIB

Terpapar Efek Pidato Trump, IHSG Melemah 1,59% Dalam Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah setelah harga minyak mentah berbalik menguat akibat pidato Trump terkait perang Iran.

Strategi Mendorong Transparansi Data di BEI
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:11 WIB

Strategi Mendorong Transparansi Data di BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengumumkan saham emiten dengan kepemilikan yang terkonsentrasi tinggi.

Gejolak Global Picu Tekanan, Ini Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:00 WIB

Gejolak Global Picu Tekanan, Ini Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian

Proyeksi harga emas spot bisa melesat hingga 30% di 2026. Simak pula target emas Antam yang menjanjikan cuan besar bagi investor.

Wiski Bali Libarron Merambah Singapura, Ini Peluang Lovina Beach Brewery (STRK)?
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:00 WIB

Wiski Bali Libarron Merambah Singapura, Ini Peluang Lovina Beach Brewery (STRK)?

STRK kini membidik 60% penjualan dari ekspor, mulai dengan wiski Libarron ke Singapura. Strategi ini diambil setelah pasar lokal lesu. 

Antisipasi Dampak B50
| Sabtu, 04 April 2026 | 06:10 WIB

Antisipasi Dampak B50

Jika B50 diterapkan tanpa mekanisme pengaman yang kuat, risiko lonjakan harga minyak goreng semakin besar.

INDEKS BERITA