Berebut Dana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Obligasi Ritel Negara 030 bakal mengembalikan pamor efek utang pelat merah itu di mata pemodal ritel. Kupon bunga untuk instrumen yang biasa disebut ORI itu, diumumkan pekan lalu.
Obligasi yang bisa dipesan mulai hari ini hingga 30 Juli 2020, memasang kupon 6,9% per tahun untuk tenor 3 tahun, dan 7% per tahun untuk periode 6 tahun.
Para pelaku pasar sudah memperkirakan pemerintah akan memasang kupon ORI030 lebih tinggi daripada SBN ritel yang dirilis di tahun ini. Mengingat, SBN ritel yang terakhir terbit, Sukuk Tabungan 016 (ST016), muncul sebelum Bank Indonesia (BI) menaikkan bunga acuan sebanyak dua kali hingga 50 basis poin pada Juni kemarin.
Kupon ORI30 terlihat menjulang jika disandingkan dengan imbal hasil yang ditawarkan tiga SBN ritel yang sudah lebih dulu diterbitkan di tahun ini. ST016 memberi kupon 6,05% dan 6,25% untuk tenor masing-masing dua tahun dan empat tahun.
Sukuk ritel 024 memberi kupon 5,55% untuk tenor tiga tahun dan 5,9T untuk enam tahun. Kupon ORI 029, SBN ritel pertama di tahun ini, lebih rendah lagi. Hanya 5,45% untuk tiga tahun dan 5,8% untuk masa enam tahun.
Jika diperbandingkan dengan imbal hasil SBN ritel yang bermunculan selama lima tahun terakhir sekali pun, ORI 030 tetap juara. SBN ritel sebelumnya yang memberi imbal hasil di kisaran 7% terbit pada 2020.
Untuk orang-orang yang masih memiliki dana untuk dikembangkan, kehadiran ORI 030 jelas ditunggu. Mengingat tak banyak instrumen pembiak kekayaan yang bisa mengembang hingga nyaris 7% per tahun selama tiga tahun.
Bunga deposito yang dipasang di konter untuk kisaran waktu setahun, saat ini masih berkisar 4% di kebanyakan bank. Memang, ada bank yang menawarkan hingga 5%, bahkan di atas 6%. Namun jumlahnya terbatas.
Return dari saham lebih mengenaskan lagi di masa kini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini telah turun 34,74% per 3 Juli kemarin.
Namun, keputusan pemerintah mengerek tinggi bunga ORI030 sebagai sesuatu yang mencemaskan, bahwa tanda-tanda crowding out semakin jelas. Apalagi, BI juga sangat gencar menyerap dana Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
Di saat pemerintah dan BI ikut rebutan likuiditas, kemungkinan yang paling besar terjadi biaya dana terkerek naik. Jika ini terjadi, investasi dan belanja sektor swasta dipastikan menyusut.
