Berebut Dana

Senin, 06 Juli 2026 | 06:10 WIB
Berebut Dana
[ILUSTRASI. TAJUK - Thomas Hadiwinata (KONTAN/Indra Surya)]
Thomas Hadiwinata | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Obligasi Ritel Negara 030 bakal mengembalikan pamor efek utang pelat merah itu di mata pemodal ritel. Kupon bunga untuk instrumen yang biasa disebut ORI itu, diumumkan pekan lalu. 

Obligasi yang bisa dipesan mulai hari ini hingga 30 Juli 2020, memasang kupon 6,9% per tahun untuk tenor 3 tahun, dan 7% per tahun untuk periode 6 tahun.

Para pelaku pasar sudah memperkirakan pemerintah akan memasang kupon ORI030 lebih tinggi daripada SBN ritel yang dirilis di tahun ini. Mengingat, SBN ritel yang terakhir terbit, Sukuk Tabungan 016 (ST016), muncul sebelum Bank Indonesia (BI) menaikkan bunga acuan sebanyak dua kali hingga 50 basis poin pada Juni kemarin.

Kupon ORI30 terlihat menjulang jika disandingkan dengan imbal hasil yang ditawarkan tiga SBN ritel  yang sudah lebih dulu diterbitkan di tahun ini. ST016 memberi kupon 6,05% dan 6,25% untuk tenor masing-masing dua tahun dan empat tahun.

Sukuk ritel 024 memberi kupon 5,55% untuk tenor tiga tahun dan 5,9T untuk enam tahun. Kupon ORI 029, SBN ritel pertama di tahun ini, lebih rendah lagi. Hanya 5,45% untuk tiga tahun dan 5,8% untuk masa enam tahun.

Jika diperbandingkan dengan imbal hasil SBN ritel yang bermunculan selama lima tahun terakhir sekali pun, ORI 030 tetap juara. SBN ritel sebelumnya yang memberi imbal hasil di kisaran 7% terbit pada 2020.

Untuk orang-orang yang masih memiliki dana untuk dikembangkan, kehadiran ORI 030 jelas ditunggu. Mengingat tak banyak instrumen pembiak kekayaan yang bisa mengembang hingga nyaris 7% per tahun selama tiga tahun. 

Bunga deposito yang dipasang di konter untuk kisaran waktu setahun, saat ini masih berkisar 4% di kebanyakan bank. Memang, ada bank yang menawarkan hingga 5%, bahkan di atas 6%. Namun jumlahnya terbatas.

Return dari saham lebih mengenaskan lagi di masa kini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini telah turun 34,74% per 3 Juli kemarin. 

Namun, keputusan pemerintah mengerek tinggi bunga ORI030 sebagai sesuatu yang mencemaskan, bahwa tanda-tanda crowding out semakin jelas. Apalagi, BI juga sangat gencar menyerap dana Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. 

Di saat pemerintah dan BI ikut rebutan likuiditas, kemungkinan yang paling besar terjadi biaya dana terkerek naik. Jika ini terjadi, investasi dan belanja sektor swasta dipastikan menyusut.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Nilai Transaksi Melorot, Asing Masih Hengkang, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 06 Juli 2026 | 07:24 WIB

Nilai Transaksi Melorot, Asing Masih Hengkang, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Selama investor asing belum berbalik melakukan akumulasi secara konsisten, potensi volatilitas pasar masih tetap tinggi. 

Erling Haaland dan Bangkitnya Investor Aktivis
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:49 WIB

Erling Haaland dan Bangkitnya Investor Aktivis

Norwegia tak hanya punya Haaland, tapi juga SWF terbesar di dunia. AUM US$2,2 triliun, investasi etis, dan transparan. 

Margin Emiten Poultry Diproyeksi Membaik di Semester II 2026
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:30 WIB

Margin Emiten Poultry Diproyeksi Membaik di Semester II 2026

Sektor unggas diprediksi menarik pada separuh kedua 2026. Perbaikan margin pakan dan pasokan terkendali jadi katalis positif.

BI Rate Tinggi, Kupon ORI030 Tetap Kompetitif? Ini Analisanya
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:15 WIB

BI Rate Tinggi, Kupon ORI030 Tetap Kompetitif? Ini Analisanya

Pemerintah tawarkan ORI030 dengan kupon fixed rate hingga 7% yang dibayar bulanan. Amankan investasi Anda sekarang.

Anomali Piala Dunia 2026: Kenapa Tak Semeriah Dulu?
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:10 WIB

Anomali Piala Dunia 2026: Kenapa Tak Semeriah Dulu?

Piala dunia menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh pebisnis. Masihkah cuan Piala Dunia tahun ini menjanjikan?

 
Berebut Dana
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:10 WIB

Berebut Dana

Namun, keputusan pemerintah mengerek tinggi bunga ORI030 sebagai sesuatu yang mencemaskan, bahwa tanda-tanda crowding out semakin jelas.

Nasib Rupiah: Data AS Lemah, Bisakah Terus Perkasa Pekan Ini?
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:00 WIB

Nasib Rupiah: Data AS Lemah, Bisakah Terus Perkasa Pekan Ini?

Rupiah ditutup menguat 0,18% Jumat lalu. Kini data ketenagakerjaan AS yang lemah memicu penguatan lanjutan, namun sentimen domestik bisa menahan

Kimia Farma (KAEF) Mengejar Target Kinerja Positif di Tahun Ini
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:56 WIB

Kimia Farma (KAEF) Mengejar Target Kinerja Positif di Tahun Ini

Hingga akhir 2026, KAEF menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran single digit hingga low double digit. 

Mesin Pabrik Melambat, Ancaman PHK Mengintai
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:46 WIB

Mesin Pabrik Melambat, Ancaman PHK Mengintai

Perlambatan industri manufaktur tersebut dipengaruhi oleh melemahnya permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor

Dapen Harus Lebih Cermat Atur Likuiditas
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:35 WIB

Dapen Harus Lebih Cermat Atur Likuiditas

MK mengabulkan permohonan uji materi yang membuka ruang bagi peserta untuk mencairkan manfaat pensiun secara sekaligus.

INDEKS BERITA

Terpopuler