Bisnis Data Center Berkembang, SEMA Terciprat Berkahnya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Agresifnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial inteligence (AI) serta digitalisasi melahirkan peluang bagi PT Semacom Integrated Tbk (SEMA). Emiten penyediaan sistem kelistrikan ini membaca peluang di balik pembangunan fasilitas penyimpanan dan pengolahan data tersebut.
Dalam riset terbarunya tertanggal 14 Oktober 2026, Phintraco Sekuritas menyorot besarnya eksposur SEMA terhadap proyek data center. Berdasarkan paparan manajemen saat kunjungan ke fasilitas produksi SEMA di Bogor, Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga mencatat, bahwa lebih dari 70% bisnis SEMA saat ini berkaitan dengan data center.
Kontribusi tersebut juga berkembang signifikan dalam dua hingga tiga tahun terakhir, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur kelistrikan untuk menopang ekspansi pusat data atau data center.
Sebagai gambaran, getolnya pengembangan pusat data dan infrastruktur digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi juga menjadi salah satu agenda pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlanga Hartanto pernah menyampaikan nilai ekonomi digital Indonesia dinilai mendekati US$ 100 miliar pada 2025, dan diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.
Baca Juga: Ancaman Terselubung di Balik Maraknya Data Center di Indonesia
Airlangga menyampaikan ambisinya agar pertumbuhan ekonomi Indonesia ingin tumbuh lebih dari 8% melalui digital economy dengan AI sebagai kuncinya. "AI itu akan ada kalau ada infrastrukturnya, jika ada data centernya," papar Airlangga.
Pemerintah juga mencatat minat investasi tambahan di sektor ini ada sekitar 1,3 GW data center di Indonesai, dengan nilai mencapai US$ 15 hingga US$ 20 miliar. Dengan kata lain, setiap tambahan 100 MW merepresentasikan sekitar US$ 1,2 hingga US$ 1,5 miliar investasi .
Sementara SEMA merupakan perusahaan penyedia solusi kelistrikan yang telah berdiri sejak tahun 2009. Perusahaan ini juga memproduksi panel listrik yang digunakan untuk mendistribusikan dan mengelola pasokan listrik sesuai dengan kebutuhan pelanggan, termasuk untuk bangunan komersial, fasilitas industri hingga data center.
Dalam menjalankan bisnisnya ini, SEMA menggandeng dengan beberapa pemain penting global. Di antaranya adalah Siemens dan Hyundai Electric melalui sejumlah portofolio produk yakni SIVACON dan SIMOPRIME dari Siemens serta HiMCC dan HMS dari Hyundai Electric.
"Melalui kerja sama tersebut, perusahaan memiliki akses terhadap teknologi dan standar produk global, sekaligus mendukung ketersediaan bahan baku serta memperkuat kapabilitas perseroan," urai Aditya dalam risetnya yang dikutip KONTAN, Rabu (14/19).
Adapun saat ini SEMA mengoperasikan fasilitas pabrik seluas 7.000 meter persegi di Bogor dengan kapasitas produksi sebanyak 200 unit panel per bulan atau sekitar 2.400 unit per tahun.
Perseroan juga memiliki fleksibilitas untuk ekspansi volume melalui skema long shift saat kenaikan permintaan terjadi. Di luar penjualan unit panel, SEMA menyediakan layanan after sales berupa maintenance pasca-garansi berakhir.
Dari sisi produk, panel listrik bertegangan rendah yang diproduksi SEMA, dibanderol dengan harga sekitar Rp 200 juta hingga Rp 300 juta per unit. Adapun panel bertegangan menengah memiliki kisaran harga yang lebih tinggi yakni sekitar Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar per unit.
"Perbedaan ini dipengaruhi oleh spesifikasi dan kompleksitas produk, sehingga nilai kontrak SEMA dapat bervariasi bergantung pada jenis panel yang dipesan," imbuhnya.
SEMA juga menyediakan layanan pemeliharaan atau maintenance setelah masa garansi berakhir. Walau kontribusi pendapatan terhadap total penjualan masih relatif terbatas, yaitu sebesar kurang dari 10%, bisnis after sales ini berpotensi memberikan pendapatan berulang (reccuring income) melalui kontrak pemeliharaan berkala sekaligus menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Walaupun SEMA memiliki peluang pertumbuhan dari ekspansi data center ini, Phintraco Sekuritas menilai bahwa prospek tersebut masih perlu diimbangi dengan perbaikan kinerja keuangannya.
