Bisnis Data Center Berkembang, SEMA Terciprat Berkahnya

Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:00 WIB
Bisnis Data Center Berkembang, SEMA Terciprat Berkahnya
[ILUSTRASI. PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) (Dok/SEMA)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Agresifnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial inteligence (AI) serta digitalisasi melahirkan peluang bagi PT Semacom Integrated Tbk (SEMA). Emiten penyediaan sistem kelistrikan ini membaca peluang di balik pembangunan fasilitas penyimpanan dan pengolahan data tersebut.

Dalam riset terbarunya tertanggal 14 Oktober 2026, Phintraco Sekuritas menyorot besarnya eksposur SEMA terhadap proyek data center. Berdasarkan paparan manajemen saat kunjungan ke fasilitas produksi SEMA di Bogor, Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga mencatat, bahwa lebih dari 70% bisnis SEMA saat ini berkaitan dengan data center.

Kontribusi tersebut juga berkembang signifikan dalam dua hingga tiga tahun terakhir, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur kelistrikan untuk menopang ekspansi pusat data atau data center.

Sebagai gambaran, getolnya pengembangan pusat data dan infrastruktur digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi juga menjadi salah satu agenda pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlanga Hartanto pernah menyampaikan nilai ekonomi digital Indonesia dinilai mendekati US$ 100 miliar pada 2025, dan diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.

Baca Juga: Ancaman Terselubung di Balik Maraknya Data Center di Indonesia

Airlangga menyampaikan ambisinya agar pertumbuhan ekonomi Indonesia ingin tumbuh lebih dari 8% melalui digital economy dengan AI sebagai kuncinya. "AI itu akan ada kalau ada infrastrukturnya, jika ada data centernya," papar Airlangga.

Pemerintah juga mencatat minat investasi tambahan di sektor ini ada sekitar 1,3 GW data center di Indonesai, dengan nilai mencapai US$ 15 hingga US$ 20 miliar. Dengan kata lain, setiap tambahan 100 MW merepresentasikan sekitar US$ 1,2 hingga US$ 1,5 miliar investasi .

Sementara SEMA merupakan perusahaan penyedia solusi kelistrikan yang telah berdiri sejak tahun 2009. Perusahaan ini juga memproduksi panel listrik yang digunakan untuk mendistribusikan dan mengelola pasokan listrik sesuai dengan kebutuhan pelanggan, termasuk untuk bangunan komersial, fasilitas industri hingga data center.

Dalam menjalankan bisnisnya ini, SEMA menggandeng dengan beberapa pemain penting global. Di antaranya adalah Siemens dan Hyundai Electric melalui sejumlah portofolio produk yakni SIVACON dan SIMOPRIME dari Siemens serta HiMCC dan HMS dari Hyundai Electric.

"Melalui kerja sama tersebut,  perusahaan memiliki akses terhadap teknologi dan standar produk global, sekaligus mendukung ketersediaan bahan baku serta memperkuat kapabilitas perseroan," urai Aditya dalam risetnya yang dikutip KONTAN, Rabu (14/19).

Adapun saat ini SEMA mengoperasikan fasilitas pabrik seluas 7.000 meter persegi di Bogor dengan kapasitas produksi sebanyak 200 unit panel per bulan atau sekitar 2.400 unit per tahun.

Perseroan juga memiliki fleksibilitas untuk ekspansi volume melalui skema long shift saat kenaikan permintaan terjadi. Di luar penjualan unit panel, SEMA menyediakan layanan after sales berupa maintenance pasca-garansi berakhir.

Dari sisi produk, panel listrik bertegangan rendah yang diproduksi SEMA, dibanderol dengan harga sekitar Rp 200 juta hingga Rp 300 juta per unit. Adapun panel bertegangan menengah memiliki kisaran harga yang lebih tinggi yakni sekitar Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar per unit.

"Perbedaan ini dipengaruhi oleh spesifikasi dan kompleksitas produk, sehingga nilai kontrak SEMA dapat bervariasi bergantung  pada jenis panel yang dipesan," imbuhnya.

SEMA juga menyediakan layanan pemeliharaan atau maintenance setelah masa garansi berakhir. Walau kontribusi pendapatan terhadap total penjualan masih relatif terbatas, yaitu sebesar kurang dari 10%, bisnis after sales ini berpotensi memberikan pendapatan berulang (reccuring income) melalui kontrak pemeliharaan berkala sekaligus menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Walaupun SEMA memiliki peluang pertumbuhan dari ekspansi data center ini, Phintraco Sekuritas menilai bahwa prospek tersebut masih perlu diimbangi dengan perbaikan kinerja keuangannya.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Efektivitas Pengawasan BGN Masih Lemah
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 07:19 WIB

Efektivitas Pengawasan BGN Masih Lemah

Kepatuhan dalam pengelolaan anggaran dan pertanggungjawaban atas setiap rupiah uang negara menjadi ukuran keberhasilan program.

Tiga Bulan Harga Melonjak 171%, Emiten Afiliasi Haji Isam ini Diversifikasi Bisnis
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 07:17 WIB

Tiga Bulan Harga Melonjak 171%, Emiten Afiliasi Haji Isam ini Diversifikasi Bisnis

Rencana diversifikasi TEBE yang saat ini masih dalam tahap perizinan dan kajian, ternyata mampu membawa optimisme pelaku pasar.

Operasional Kopdes Perlu Dikawal
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 07:14 WIB

Operasional Kopdes Perlu Dikawal

Sekitar 1.900 manajer atau 11% di antaranya ditempatkan lintas provinsi. Penempatan dilakukan untuk mengisi kekurangan SDM di daerah

Pemerintah Bersiap  Menebar Ponsel Gratis
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 07:03 WIB

Pemerintah Bersiap Menebar Ponsel Gratis

Warga penerima bansos akan mendapat ponsel gratis yang dilengkapi akun digital atau rekening bank bersaldo Rp 50.000

Persepsi Risiko Indonesia Masih Rentan
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Persepsi Risiko Indonesia Masih Rentan

Pergerakan CDS Indonesia yang kembali naik dalam sepekan terakhir menunjukkan persepsi investor terhadap risiko Indonesia masih rapuh. 

Genjot Produksi di Pabrik Unit 7, Laba ISSP Berpotensi Tumbuh
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:19 WIB

Genjot Produksi di Pabrik Unit 7, Laba ISSP Berpotensi Tumbuh

Ekspansi pabrik unit 7 berpotensi meningkatkan laba bersih ISSP pada 2027 dan 2028 masing-masing menjadi Rp 870 miliar dan Rp 1,1 triliun. 

Pefindo Terima Mandat Obligasi Korporasi Rp 56 Triliun hingga September 2026
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Pefindo Terima Mandat Obligasi Korporasi Rp 56 Triliun hingga September 2026

Pefindo mengantongi mandat pemeringkatan surat utang korporasi mencapai Rp 56,19 triliun per September 2026 dari sekitar 40 perusahaan

Biaya Eksplorasi Tinggi Tak Menjamin Kinerja Emiten Pertambangan Seksi
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:14 WIB

Biaya Eksplorasi Tinggi Tak Menjamin Kinerja Emiten Pertambangan Seksi

Emiten pertambangan mineral, minyak dan gas bumi (migas) telah melaporkan pengeluaran biaya untuk kegiatan eksplorasi hingga kuartal III-2026.  ​

Insentif Pengemplang
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Insentif Pengemplang

Jangan sampai niat untuk meningkatkan kepatuhan pajak, justru menghasilkan kebiasaan wajib pajak menunggu pengampunan.

Bisnis Data Center Berkembang, SEMA Terciprat Berkahnya
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Bisnis Data Center Berkembang, SEMA Terciprat Berkahnya

Phintraco Sekuritas menyorot besarnya eksposur SEMA terhadap proyek data center, yang mencapai lebih dari 70% bisnis perusahaan saat ini

INDEKS BERITA

Terpopuler