Bukit Asam (PTBA) Batasi Produksi Batubara Kalori Tinggi

Jumat, 16 September 2022 | 04:50 WIB
Bukit Asam (PTBA) Batasi Produksi Batubara Kalori Tinggi
[ILUSTRASI. ]
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - TANJUNG ENIM. Kenaikan harga batubara ternyata tidak membuat PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mudah menjual semua produk batubara yang dimiliki. Emiten pelat merah ini mengaku kesulitan menjual batubara kalori tinggi. 

General Manager PTBA Unit Pertambangan Tanjung Enim Venpri Sagara menyebut, Bukit Asam menjaga atau maintenance tingkat produksi batubara kalori tinggi sekitar 2 juta sampai 3 juta ton per tahun. "Tahun ini setengah mati tidak ada yang mau beli karena harganya US$ 400 per ton. Kami stok batubara ada, tapi yang beli mikir-mikir," kata Venpri, Selasa (13/9).

Baca Juga: Harga Naik, Batubara Bukit Asam (PTBA) Ini Ternyata Kurang Laris

Sebagai gambaran, harga batubara kontrak September 2022 di pasar ICE Newcastle berada US$ 444,20 per ton pada Kamis (15/9). Sementara, harga batubara ICE Rotterdam juga berada di US$ 340 per ton untuk kontrak September 2022.

Venpri menyebut, kebutuhan akan batubara kalori tingkat ini masih akan diperlukan untuk industri metalurgi yang bakal membeli batubara tersebut di harga berapapun. Walaupun Bukit Asam sudah memasang target produksi sebesar 50 juta ton batubara untuk 2024, tapi emiten pelat merah ini akan menjaga produksi batubara kalori tinggi di 2 juta ton-3 juta ton. 

Penjualan batubara kalori tinggi bakal menyasar pasar terbuka, terutama untuk pasar ekspor. Teranyar, PTBA menyasar pasar Eropa seperti Italia, Jerman dan Polandia. 

Porsi ekspor PTBA telah mencapai 35% dari seluruh penjualan di semester I-2022. Pertumbuhan ekspor ini disebabkan naiknya ekspor ke India yang meningkat 2 juta ton secara tahunan. 

Penjualan batubara PTBA per semester-I 2022 sebanyak 14,6 juta ton, tumbuh 13% secara tahunan. Di sisi lain, total produksi PTBA mencapai 15,9 juta ton. India berkontribusi 18% dari penjualan. Disusul Korea Selatan sebesar 4%, Thailand 3%, China 2% dan Kamboja 2%. 

Baca Juga: Berambisi Jadi Produsen Batubara Terbesar di Indonesia, Bukit Asam (PTBA) Lakukan Ini

Bagikan

Berita Terbaru

Ketidakpastian Masih Tinggi, Premi Risiko Investasi Mendaki
| Kamis, 05 November 2026 | 08:37 WIB

Ketidakpastian Masih Tinggi, Premi Risiko Investasi Mendaki

 Kenaikan credit default wwap (CDS) mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tekanan global dan domestik. 

Kinerja ANTM Masih Solid, Tapi Tantangan Ini Menghantui Margin Jangka Menengah
| Kamis, 05 November 2026 | 08:32 WIB

Kinerja ANTM Masih Solid, Tapi Tantangan Ini Menghantui Margin Jangka Menengah

Prospek ANTM ke depan juga dibayangi tantangan, seperti pelemahan penjualan emas dan harga bijih nikel yang dapat menekan profitabilitas.

Penyadap Pengusaha
| Kamis, 05 November 2026 | 08:31 WIB

Penyadap Pengusaha

Penyadapan bisa menciptakan efek gentar (chilling effect) di pengusaha. Mereka menjadi berhati-hati berkomunikasi dan membicarakan strategi.

Prospek Saham Poultry Kuartal IV-2026, JPFA dan CPIN Masih Punya Peluang Tumbuh
| Kamis, 05 November 2026 | 08:21 WIB

Prospek Saham Poultry Kuartal IV-2026, JPFA dan CPIN Masih Punya Peluang Tumbuh

Kenaikan biaya bahan baku pakan serta pelemahan nilai tukar rupiah dapat menekan margin segmen pakan ternak.

Menanti Sentimen Positif Lokal,  Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis (5/11)
| Kamis, 05 November 2026 | 08:04 WIB

Menanti Sentimen Positif Lokal, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis (5/11)

Harapan ada perubahan terhadap ekonomi global. Terutama kebijakan fiskal, perdagangan internasional, suku bunga,dolar AS dan hubungan geopolitik. 

Membedah Prospek Saham ESSA: Ditopang Kontrak Gas 20 Tahun dan Tantangan Harga Amonia
| Kamis, 05 November 2026 | 08:04 WIB

Membedah Prospek Saham ESSA: Ditopang Kontrak Gas 20 Tahun dan Tantangan Harga Amonia

Penurunan harga amonia menjadi salah satu risiko utama bagi kinerja PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) pada kuartal IV-2026. 

Ketergantungan Terhadap Raffi Ahmad & Nagita Bikin Efek Cancel Culture Buruk ke RANS
| Kamis, 05 November 2026 | 07:31 WIB

Ketergantungan Terhadap Raffi Ahmad & Nagita Bikin Efek Cancel Culture Buruk ke RANS

Hanya dalam hitungan bulan, RANS kehilangan kepercayaan di pasar modal dan ditinggalkan oleh 628.438 investor.

Pendapatan dan Laba Tumbuh, Prospek CMRY Masih Gurih
| Kamis, 05 November 2026 | 07:16 WIB

Pendapatan dan Laba Tumbuh, Prospek CMRY Masih Gurih

Momentum di akhir tahun bakal jadi katalis pendorong kinerja emiten produsen susu ini. Salah satunya, periode musiman Natal dan Tahun Baru 2027.​

Permintaan Domestik Membaik, Kinerja Emiten Semen Mendaki
| Kamis, 05 November 2026 | 07:13 WIB

Permintaan Domestik Membaik, Kinerja Emiten Semen Mendaki

Mayoritas emiten semen berhasil mengemas pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di sepanjang Sembilan 2026.

Titik Api Karhutla Meningkat di Kalteng dan Sumsel
| Kamis, 05 November 2026 | 07:08 WIB

Titik Api Karhutla Meningkat di Kalteng dan Sumsel

 Terdapat enam provinsi yang menjadi perhatian dengan total fire spot (titik api) sebanyak 864 titik dan luas lahan dalam penanganan 1.615 ha.

INDEKS BERITA

Terpopuler