Bursa Efek Zimbabwe
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejarah mencatat Jumat, 16 Oktober 2026 sebagai hari paling kelam bagi pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor penurunan harian terbesar sepanjang masa usai anjlok -11,57%. Pemicunya, manuver mengejutkan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memulai konsultasi untuk mendepak pasar saham Indonesia ke kategori standalone market.
Tak terbayangkan sebelumnya jika Indonesia akan terisolir dan diperlakukan selevel dengan pasar-pasar yang tengah dilanda krisis hebat berskala kronis, seperti Zimbabwe, Ukraina, dan Palestina.
Langkah MSCI ini mengirimkan gelombang kejut yang melumpuhkan rasionalitas pasar karena berada jauh di luar batas ekspektasi. Sebelumnya, skenario paling apes yang bisa dibayangkan adalah downgrade ke frontier market.
Dalam skenario tersebut, passive fund tidak sepenuhnya kabur. Namun, dijerumuskan ke standalone market berarti lonceng kematian. Passive fund global akan melakukan eksodus total, sementara investor lain juga akan sibuk menyelamatkan duit masing-masing.
Regulator pasar modal seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) jelas memikul tanggung jawab besar. Jangan malah mengeluarkan pernyataan diplomatis, apalagi sampai terkesan menganggap enteng masalah. Keengganan untuk melakukan penegakan hukum pasar modal secara cepat, tuntas, dan transparan sejak awal tak boleh dimaklumi.
Sanksi denda total Rp 2,1 triliun terhadap BREN, DSSA, dan CUAN yang diumumkan belakangan tak berhasil menahan koreksi IHSG. Langkah otoritas bursa malah seperti orang gelagapan, apalagi informasi soal pemberian sanksi atas manipulasi harga dan perdagangan terkoordinasi sudah tersebar luas sejak Senin pekan ini. Kabarnya bakal diumumkan pada 13 Oktober 2026 namun tak jelas juntrungannya hingga MSCI turun tangan.
Tak ada lagi jalan mundur; hukum pasar modal harus ditegakkan seadil-adilnya tanpa pandang bulu. Tak cuma di emiten yang terkait dengan klien-klien kakap MSCI.
Sebab, dalam pusaran badai ini, investor ritel jadi pihak yang paling menderita. Pasar saham berubah menjadi kuburan massal bagi modal-modal kecil. Ketika pasar mendadak runtuh akibat sentimen yang berada di luar kendali dan pemahaman mereka, kerugian yang dialami bukan sekadar angka di portofolio, melainkan hilangnya kepercayaan dan tabungan masa depan.
