BYAN Dominates Indonesian Coal Mining Industry with Impressive 2022 Performance

Minggu, 12 Maret 2023 | 17:22 WIB
BYAN Dominates Indonesian Coal Mining Industry with Impressive 2022 Performance
[ILUSTRASI. Taipan Low Tuck Kwong. BYAN Dominates Indonesian Coal Mining Industry with Impressive 2022 Performance ]
Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bayan Resources Tbk (BYAN) Posts Impressive Performance with Net Income of US$2.17 Billion in 2022

Indonesia's coal mining companies have been performing remarkably well in recent years, and 2022 appears to be no exception.

The latest financial report from PT Bayan Resources Tbk (BYAN), released on Friday (10/3) on the Indonesia Stock Exchange, shows that the coal mining giant owned by Low Tuck Kwong recorded a net profit of US$2.17 billion in 2022.

Indonesian Government Bond Market: Challenges and Opportunities for Investors

Converted to Indonesian Rupiah, BYAN's net profit reached Rp 33.73 trillion, up 79.7% annually from its 2021 achievement of US$1.2 billion. The increase in BYAN's net income was supported by its growing revenue.

BYAN's revenue in 2022 was US$4.70 billion, up 64.8% annually from US$2.85 billion in 2021. The company's revenue was dominated by third-party coal sales, which reached US$4.39 billion, followed by coal sales to related parties worth US$300.31 million.

Some of BYAN's major customers who contributed more than 10% of its revenue were China National Machinery Import and Export Corporation, valued at US$577.63 million, and TNB Fuel Service Sdn. Bhd., valued at US$319.2 million.

PTBA Remains Upbeat Despite Turbulent Coal Market

Geographically, BYAN's coal sales were mostly exported to Southeast Asian markets, including Malaysia, Singapore, the Philippines, and Vietnam, with sales amounting to US$2.26 billion.

The company also sold coal to East Asia, including China, Japan, Korea, and Taiwan, worth US$1.08 billion, South Asia to India, Pakistan, and Bangladesh worth US$873.13 million, and Europe worth US$6.63 million.

However, despite the impressive performance, BYAN's stock performance has yet to reflect the company's success. Yesterday, BYAN's stock was still in the red zone, down slightly by 0.13% from the previous day, to reach Rp 18,650. This has accumulated a decline of 11.19% since the beginning of the year.

Investing in BUMN Companies: Opportunities Arise as 2022 Performance Soars

Head of Research at Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, believes that the declining coal prices, especially at the beginning of 2023, is one of the reasons behind the correction in coal mining stocks. This is due to the news that the number of coal-fired power plants reactivated in Europe was not as much as expected.

"Profit-taking cannot be ruled out as a factor behind the decline in coal mining stocks at the beginning of this year," said Valdy.

Bagikan

Berita Terbaru

Melihat Arah Akuisisi dan Ekspansi Perusahaan Sawit Pasca Bencana Sumatra
| Rabu, 21 Januari 2026 | 18:07 WIB

Melihat Arah Akuisisi dan Ekspansi Perusahaan Sawit Pasca Bencana Sumatra

Lanskap industri sawit Indonesia mengalami perubahan struktural yang signifikan, terutama pasca rangkaian bencana banjir di Sumatra.

Perusahaan Nikel Dengan Skor ESG Tinggi Jajaki Pendanaan Bunga Rendah Lewat SLL
| Rabu, 21 Januari 2026 | 17:46 WIB

Perusahaan Nikel Dengan Skor ESG Tinggi Jajaki Pendanaan Bunga Rendah Lewat SLL

Pendanaan industri nikel melalui pinjaman bank konvensional semakin sulit karena adanya berbagai sentimen yang mendera industri ini.

BI Tahan Suku Bunga BI Rate 4,75%, Fokus Jaga Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
| Rabu, 21 Januari 2026 | 15:48 WIB

BI Tahan Suku Bunga BI Rate 4,75%, Fokus Jaga Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global

BI Rate tetap 4,75% pada hari ini (21/1) di saat nilai tukar rupiah mencapai level paling lemah sepanjang sejarah.

Rebound PANI & CBDK Pasca Rights Issue, Prospek 2026 Cukup Menjanjikan
| Rabu, 21 Januari 2026 | 11:00 WIB

Rebound PANI & CBDK Pasca Rights Issue, Prospek 2026 Cukup Menjanjikan

Kembalinya minat investor terhadap saham PANI dan CBDK mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek jangka menengah.

Prospek Emas Dongkrak Laba & Saham ANTM 2026
| Rabu, 21 Januari 2026 | 10:00 WIB

Prospek Emas Dongkrak Laba & Saham ANTM 2026

Kenaikan harga emas berpotensi langsung mengerek pendapatan dan margin segmen emas yang menjadi salah satu kontributor utama laba ANTM.

Mengawasi Manipulasi Bukan Menghukum Kenaikan
| Rabu, 21 Januari 2026 | 09:14 WIB

Mengawasi Manipulasi Bukan Menghukum Kenaikan

Istilah saham gorengan bermasalah karena bukan terminologi baku di pasar modal. Istilah lebih tepat dan dikenal luas adalah manipulasi pasar. 

Rupiah Dekati Rp 17.000, Potensi Rugi Hantui Pasar Saham, Cek Proyeksi IHSG Hari Ini
| Rabu, 21 Januari 2026 | 08:41 WIB

Rupiah Dekati Rp 17.000, Potensi Rugi Hantui Pasar Saham, Cek Proyeksi IHSG Hari Ini

Nilai tukar rupiah semakin mendekati Rp 17.000. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas makro dan potensi aliran keluar dana asing.

Via Dana Rights Issue IRSX Masuk Bisnis Hiburan, Peluang Besar dengan Risiko Eksekusi
| Rabu, 21 Januari 2026 | 08:35 WIB

Via Dana Rights Issue IRSX Masuk Bisnis Hiburan, Peluang Besar dengan Risiko Eksekusi

Kinerja emiten lain yang lebih dulu bermain di bisnis hiburan pada tahun 2025 tidak selalu konsisten naik.

Fundamental Sektor Tambang Mineral Diklaim Oke, Saham MDKA bisa Terbang ke 3.800?
| Rabu, 21 Januari 2026 | 08:23 WIB

Fundamental Sektor Tambang Mineral Diklaim Oke, Saham MDKA bisa Terbang ke 3.800?

Reli harga saham nikel belakangan ini lebih didorong oleh ekspektasi pasar dan posisi spekulatif ketimbang penguatan fundamental murni.

Euforia Meikarta Jadi Rusun Subsidi Meredup, Saham LPCK Longsor Usai Sempat Melejit
| Rabu, 21 Januari 2026 | 08:06 WIB

Euforia Meikarta Jadi Rusun Subsidi Meredup, Saham LPCK Longsor Usai Sempat Melejit

Fundamental PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) mulai membaik, terlepas dari isu Meikarta yang bakal diubah jadi rusun bersubsidi.

INDEKS BERITA

Terpopuler