Cuma BI yang Mau

Senin, 29 Juni 2026 | 06:10 WIB
Cuma BI yang Mau
[ILUSTRASI. Wahyu Tri Rahmawati (KONTAN/Steve GA)]
Wahyu Tri Rahmawati | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Porsi kepemilikan Bank Indonesia (BI) pada surat berharga negara (SBN) makin tebal. BI memiliki SBN Rp 2.052 triliun per 25 Juni 2026. Kepemilikan ini hampir 30% dari total utang pemerintah yang dapat diperdagangkan, sebesar Rp 6.944 triliun.

Angka ini bukan sekadar rekor baru. Angka ini juga mengirimkan pesan yang lebih dalam: pasar obligasi domestik semakin bergantung pada kehadiran BI.

Perbandingan sejarah menunjukkan betapa luar biasanya posisi tersebut. Pada puncak krisis keuangan global 2008, ketika sistem perbankan Amerika Serikat (AS) berada di ambang kehancuran dan dunia menghadapi resesi terbesar sejak Great Depression, Federal Reserve memegang sekitar 9%-16% dari total US Treasury yang beredar. Porsi The Fed baru sempat mendekati 25% saat pandemi Covid-19.

Di Indonesia, pada masa Covid-19, ketika pemerintah dan BI menjalankan skema burden sharing, kepemilikan BI atas SBN berada di kisaran 10%–17%.

Kini, tanpa pandemi, tanpa krisis perbankan global, dan tanpa status darurat ekonomi nasional, porsi kepemilikan BI justru telah mencapai hampir 30%. Ini adalah fakta yang patut mengundang perenungan.

Apalagi kenaikan kepemilikan BI terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran dari perbankan. Sejak awal bulan hingga 25 Juni, porsi kepemilikan perbankan turun dari 17,62% menjadi 15,02%.

Artinya, pasar tidak sedang menyaksikan masuknya permintaan. Yang terjadi justru perpindahan kepemilikan dari sektor perbankan ke neraca bank sentral.

Tanpa pembelian masif dari BI, sangat mungkin harga SBN merosot akibat aksi jual. Tekanan jual akan mencari keseimbangan melalui harga yang lebih rendah dan imbal hasil yang lebih tinggi.

Salah satu tugas bank sentral memang menjaga stabilitas sistem keuangan. Ketika pasar terganggu, intervensi dapat dibenarkan. 

Pertanyaan yang patut diajukan sekarang adalah: mengapa, dalam kondisi ekonomi yang tidak sedang dilanda pandemi atau krisis finansial global, BI justru memegang porsi SBN yang sangat besar?

Pasar obligasi yang sehat adalah pasar yang ditopang oleh kepercayaan investor, bukan oleh kemampuan satu institusi untuk terus membeli dalam jumlah yang semakin besar. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak SBN yang mampu dibeli oleh BI, melainkan mengapa pihak lain memilih untuk tidak membelinya.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang

Analis mengingatkan perlu berhati-hati agar tidak menganggap seluruh nilai ekonomi dari bursa karbon akan otomatis masuk ke kantong emiten EBT.

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:00 WIB

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M

Pasar sedang berspekulasi tinggi terhadap JGLE seiring dengan adanya rencana rights issue sambil mengejar tren harga saham yang terbaca uptrend.

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:30 WIB

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?

Menurut analis, BRMS menarik karena ada kombinasi antara harga emas yang tinggi dan potensi peningkatan produksi emas di Poboya secara bertahap.

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026

Dalam laporannya, Stockbit menyebutkan konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah pada 2027 berada di US$ 44.750 per ton.

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:00 WIB

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?

Mengingat jumlah pemegang saham GOTO mencapai lebih dari 456 ribu, risiko panic selling begitu nyata ketika batas psikologis Rp 50 hilang.

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:17 WIB

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?

Peningkatan frekuensi dividen BBCA cukup efektif dalam menjaga minat investor, khususnya investor yang mengutamakan pendapatan tunai dari saham.

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:20 WIB

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat

Di balik humor girl math di media sosial, pembenaran atas belanja impulsif ternyata bisa berdampak panjang. Simak ulasannya!

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:00 WIB

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?

Sukuk Ritel seri SR025 menawarkan jaminan negara dan imbalan rutin di tengah ketidakpastian pasar. Simak pertimbangan sebelum berinvestasi!

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:34 WIB

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air

Di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air yang berkelanjutan, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) menawarkan solusi pengola

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:31 WIB

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah

Persaingan bisnis taksi di layanan segmen menengah kini semakin masif. Siuapa yang dibidik dan seperti apa pasarnya? 

 
INDEKS BERITA

Terpopuler