Cuma BI yang Mau
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Porsi kepemilikan Bank Indonesia (BI) pada surat berharga negara (SBN) makin tebal. BI memiliki SBN Rp 2.052 triliun per 25 Juni 2026. Kepemilikan ini hampir 30% dari total utang pemerintah yang dapat diperdagangkan, sebesar Rp 6.944 triliun.
Angka ini bukan sekadar rekor baru. Angka ini juga mengirimkan pesan yang lebih dalam: pasar obligasi domestik semakin bergantung pada kehadiran BI.
Perbandingan sejarah menunjukkan betapa luar biasanya posisi tersebut. Pada puncak krisis keuangan global 2008, ketika sistem perbankan Amerika Serikat (AS) berada di ambang kehancuran dan dunia menghadapi resesi terbesar sejak Great Depression, Federal Reserve memegang sekitar 9%-16% dari total US Treasury yang beredar. Porsi The Fed baru sempat mendekati 25% saat pandemi Covid-19.
Di Indonesia, pada masa Covid-19, ketika pemerintah dan BI menjalankan skema burden sharing, kepemilikan BI atas SBN berada di kisaran 10%–17%.
Kini, tanpa pandemi, tanpa krisis perbankan global, dan tanpa status darurat ekonomi nasional, porsi kepemilikan BI justru telah mencapai hampir 30%. Ini adalah fakta yang patut mengundang perenungan.
Apalagi kenaikan kepemilikan BI terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran dari perbankan. Sejak awal bulan hingga 25 Juni, porsi kepemilikan perbankan turun dari 17,62% menjadi 15,02%.
Artinya, pasar tidak sedang menyaksikan masuknya permintaan. Yang terjadi justru perpindahan kepemilikan dari sektor perbankan ke neraca bank sentral.
Tanpa pembelian masif dari BI, sangat mungkin harga SBN merosot akibat aksi jual. Tekanan jual akan mencari keseimbangan melalui harga yang lebih rendah dan imbal hasil yang lebih tinggi.
Salah satu tugas bank sentral memang menjaga stabilitas sistem keuangan. Ketika pasar terganggu, intervensi dapat dibenarkan.
Pertanyaan yang patut diajukan sekarang adalah: mengapa, dalam kondisi ekonomi yang tidak sedang dilanda pandemi atau krisis finansial global, BI justru memegang porsi SBN yang sangat besar?
Pasar obligasi yang sehat adalah pasar yang ditopang oleh kepercayaan investor, bukan oleh kemampuan satu institusi untuk terus membeli dalam jumlah yang semakin besar. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak SBN yang mampu dibeli oleh BI, melainkan mengapa pihak lain memilih untuk tidak membelinya.
