Dari Hormuz ke Dapur

Rabu, 08 April 2026 | 06:10 WIB
Dari Hormuz ke Dapur
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dampak perang mulai merembes ke sendi-sendi perekonomian dalam negeri, bahkan bagi kantong rumah tangga. 

Pintu masuk dampak perang ke anggaran dapur ibu-ibu adalah ancaman kenaikan harga atawa inflasi. Paling tidak ada 3 sumber ancaman inflasi. Pertama, lonjakan harga energi, langsung menjalar ke sektor transportasi dan logistik. Dampaknya sudah terlihat: harga tiket pesawat bakal melonjak meski sudah dipatok pemerintah maksimal 13%. 

Ini bukan sekadar kenaikan biaya perjalanan, tetapi sinyal awal kenaikan biaya distribusi secara luas. Dalam ekonomi yang masih sangat bergantung pada logistik berbasis BBM, setiap kenaikan energi akan cepat merambat ke harga barang.

Kedua, industri menghadapi tekanan biaya. Harga bahan baku berbasis minyak dan kemasan plastik naik, sementara sektor pangan menghadapi ancaman lonjakan harga pupuk. Ada pula risiko elnino. Ini menciptakan tekanan berlapis pada produsen, yang pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen. 

Ketiga, pelemahan rupiah yang telah menembus Rp 17.100 per dolar AS memperparah tekanan. Bank  sentral menghitung, setiap depresiasi rupiah 1% dapat menambah inflasi impor 0,2%–0,3%. Artinya, jika rupiah kian loyo, selain dari dalam negeri, inflasi juga “diimpor” melalui harga barang dan bahan baku.

Pemerintah tampak memilih strategi defensif: menahan harga BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, serta mematok kenaikan tarif transportasi. Langkah ini efektif dalam jangka pendek untuk meredam inflasi. Namun, kebijakan ini bukan tanpa biaya. Beban fiskal meningkat dan ruang APBN semakin tertekan.

Pertaruhan ini hanya akan aman jika perang mereda dan harga minyak segera turun. Jika tidak, misalnya harga bertahan di kisaran US$ 100 per barel hingga akhir tahun, risiko fiskal membesar. Defisit bisa melebar, dan bantalan seperti saldo anggaran lebih (SAL) maupun efisiensi belanja kementerian/lembaga tidak cukup. Pemerintah akan dihadapkan pada pilihan sulit: menambah utang, mengurangi subsidi, atau memangkas belanja prioritas.

Program-program besar, termasuk makan bergizi gratis (MBG), bisa masuk dalam radar evaluasi. Bukan karena tidak penting, tetapi karena keterbatasan fiskal memaksa prioritas ulang. Tanpa disiplin fiskal yang ketat, ruang stabilisasi ekonomi akan semakin sempit.

Masalahnya, inflasi akan menggerus daya beli dan konsumsi serta menjadi pintu masuk bagi tekanan ekonomi yang lebih dalam.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Kredit Konstruksi Melaju, Namun Kredit Macet Masih Membayangi
| Selasa, 21 April 2026 | 23:33 WIB

Kredit Konstruksi Melaju, Namun Kredit Macet Masih Membayangi

​Kredit konstruksi melesat di awal 2026, tetapi lonjakan NPL, terutama dari proyek perumahan lama, masih menjadi tantangan utama perbankan.

Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Saham Migas yang Layak Dicermati
| Selasa, 21 April 2026 | 15:50 WIB

Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Saham Migas yang Layak Dicermati

Berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran pada 22 April 2026 berpotensi menjadi game changer arah sektoral di pasar saham.

Asing Kabur Terus dari Pasar Saham, Mampukah Likuiditas Domestik Menyelamatkan IHSG?
| Selasa, 21 April 2026 | 09:35 WIB

Asing Kabur Terus dari Pasar Saham, Mampukah Likuiditas Domestik Menyelamatkan IHSG?

IHSG Belum berpijak pada fondasi yang kokoh, melainkan masih rentan karena sekadar bergantung pada perputaran likuiditas yang tersisa.

Menyelisik Jejak Pengendali Baru BIKE, Dimiliki Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat
| Selasa, 21 April 2026 | 08:31 WIB

Menyelisik Jejak Pengendali Baru BIKE, Dimiliki Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat

Pemegang saham mayoritas PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) punya track record buruk di saham MENN.

Pendapatan Turun dan Rugi Bengkak Rp 5,4 T, Anak Usaha ADHI Kini Hadapi Gugatan PKPU!
| Selasa, 21 April 2026 | 08:05 WIB

Pendapatan Turun dan Rugi Bengkak Rp 5,4 T, Anak Usaha ADHI Kini Hadapi Gugatan PKPU!

Jerat PKPU yang membelit anak usaha ADHI merupakan manifestasi dari tekanan likuiditas sistemik yang menghantui BUMN Karya.

Indointernet (EDGE) Go Private, Pengendali Tawarkan Tender Sukarela
| Selasa, 21 April 2026 | 07:43 WIB

Indointernet (EDGE) Go Private, Pengendali Tawarkan Tender Sukarela

Harga penawaran tender sukarela Rp 11.500 per saham. Nilai ini mencerminkan premi 141,2%, di atas rata-rata harga tertinggi selama 90 hari.

Kantongi Restu RUPS, Wahana Interfood (COCO) Bakal Menggelar Rights Issue
| Selasa, 21 April 2026 | 07:38 WIB

Kantongi Restu RUPS, Wahana Interfood (COCO) Bakal Menggelar Rights Issue

Aksi rights issue akan digelar COCO usai mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Jumat, (17/4).​

Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit
| Selasa, 21 April 2026 | 07:32 WIB

Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mulai mengeksekusi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 4.

Tahun 2025, Kinerja Emiten Jasa Konstruksi Bervariasi
| Selasa, 21 April 2026 | 07:26 WIB

Tahun 2025, Kinerja Emiten Jasa Konstruksi Bervariasi

Jika ditelisik, kinerja emiten konstruksi swasta, baik dari sisi top line maupun bottom line lebih unggul dibandingkan emiten BUMN karya.

Ketika BEI Butuh Penyedia Likuiditas Agar Bursa Berkualitas
| Selasa, 21 April 2026 | 07:06 WIB

Ketika BEI Butuh Penyedia Likuiditas Agar Bursa Berkualitas

BEI mengklaim, liquidity provider dapat meningkatkan kualitas perdagangan melalui penyempitan bid-ask spread.

INDEKS BERITA

Terpopuler