Daya Tarik ADHI Terganjal Utang

Selasa, 16 Agustus 2022 | 04:20 WIB
Daya Tarik ADHI Terganjal Utang
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berhasil membukukan kenaikan kontrak baru sepanjang enam bulan pertama di tahun ini. Pada periode tersebut, emiten konstruksi ini mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 12,2 triliun atau naik 82% secara tahunan.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto mengatakan, realisasi kontrak baru tersebut memenuhi 69% dari target tahun ini. Manajemen ADHI menargetkan kontrak baru tahun ini akan mencapai Rp 17,5 triliun. "Dengan realisasi tersebut, kami cukup optimistis target kontrak baru sepanjang tahun ini akan dapat tercapai pada tahun ini," kata Pandhu, Senin (15/8). 

Pendapatan ADHI pada kuartal I-2022 pun ikut naik 79% secara year on year (yoy) menjadi Rp 3,78 triliun. Sementara laba bersih naik 6% menjadi Rp 7,1 miliar pada kuartal I-2022. Pandu menilai perolehan laba ADHI masih jauh dari yang diharapkan. 

Baca Juga: Realisasi Kontrak Baru Solid, Simak Rekomendasi Saham Adhi Karya (ADHI)

Menurut dia, hambatan utama ADHI datang dari tingginya rasio utang. Debt to equity ratio (DER) ADHI mencapai 5,44 kali sehingga menggerus laba operasional. "Rencana ADHI rights issue pada tahun ini menjadi langkah yang tepat memperbaiki kondisi keuangan," kata Pandhu. 

Via rights issue, struktur permodalan ADHI akan jadi lebih sehat dan bisa mengurangi beban, sehingga ADHI bisa meningkatkan profitabilitas. ADHI berniat rights issue maksimal 7,2 miliar saham.

Porsi utang ADHI

Analis UOB Kay Hian Sekuritas Selvi Ocktaviani dalam risetnya juga menganalisa,  upaya emiten ini menjaga porsi utang dengan bunga tetap cukup positif. Maklum, ke depan akan ada tren kenaikan bunga yang berpotensi meningkatkan beban bunga. 

Baca Juga: Catat 21 Saham yang Masuk Indeks Kompas100 Periode Agustus 2022-Januari 2023

Saat ini, profil utang ADHI 54% yang bunga tetap, sementara sisanya floating rate. "ADHI juga negosiasi pemberi kredit untuk mengubah utang dengan floating rate menjadi bunga tetap," ungkap Selvi. 

Dia melihat, tahun ini ketatnya arus kas tidak akan menjadi masalah bagi ADHI. Pasalnya, dua proyek flagship ADHI, yakni LRT dan jalan tol Aceh-Sigli yang bernilai Rp 30 triliun direncanakan rampung tahun ini. Hingga Maret 2022, ADHI masih membukukan piutang yang belum ditagih senilai Rp 6,38 triliun. 

ADHI menargetkan mendapatkan pembayaran Rp 5 triliun dari kedua proyek tersebut. ADHI juga akan mendapatkan Rp 2 triliun dari suntikan PMN. Hitungan Selvi, net gearing ratio ADHI tahun ini turun jadi 1,2 kali dari 1,9 kali pada 2021. 

Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya meyakini, proyek pembangunan ibukota Negara (IKN) baru masih akan menjadi sentimen bagus bagi emiten konstruksi. Tahun depan, pemerintah mengalokasikan anggaran infrastruktur Rp 368 triliun-Rp 418 triliun atau naik 14% dibanding tahun ini, termasuk untuk pengembangan IKN Rp 27 triliun-Rp 30 triliun. 

Pandhu menilai saham ADHI masih menarik untuk trading jangka pendek. Pasalnya, ADHI tengah bergerak dalam tren kenaikan, dengan target harga sebesar Rp 880 per saham. Adapun, baik Selvi maupun Cheril saat ini sama-sama merekomendasikan hold untuk saham ADHI dengan masing-masing target harga Rp 775 dan Rp 840 per saham

Baca Juga: Rights Issue Ramai di Tengah Ekspansi dan Kenaikan Bunga, Cermati Hal Berikut

Bagikan

Berita Terbaru

Tarif PNBP Naik, UMKM dan Pebisnis Tambang Bakal Tertekan?
| Rabu, 02 September 2026 | 12:00 WIB

Tarif PNBP Naik, UMKM dan Pebisnis Tambang Bakal Tertekan?

Kenaikan tarif PNBP mulai dirasakan oleh pelaku uusaha saha UMKM yang masih membutuhkan layanan pemerintah dalam mengembangkan bisnisnya.

Pendapatan Jalan Tol Tumbuh, Prospek JSMR Masih Cerah
| Rabu, 02 September 2026 | 08:38 WIB

Pendapatan Jalan Tol Tumbuh, Prospek JSMR Masih Cerah

Penopang kinerja PT Jasa Marga Tbk (JSMR) adalah pertumbuhan bisnis jalan tol dan peluang perbaikan margin.

Pergerakan IHSG Disetir Rilis Data Ekonomi Domestik
| Rabu, 02 September 2026 | 08:36 WIB

Pergerakan IHSG Disetir Rilis Data Ekonomi Domestik

Pelaku pasar cenderung merespons positif sejumlah indikator ekonomi domestik terbaru yang dirilis, kemarin.

Menakar Prospek Saham ASII di Tengah Pelemahan Penjualan Mobil dan Tender Offer AUTO
| Rabu, 02 September 2026 | 08:34 WIB

Menakar Prospek Saham ASII di Tengah Pelemahan Penjualan Mobil dan Tender Offer AUTO

Peningkatan kepemilikan ASII di AUTO dapat memperbesar kontribusi bisnis komponen terhadap kinerja konsolidasi Astra.

Membedah Dampak Arbitrase Gunvor Terhadap Kinerja Keuangan dan Prospek Saham PGAS
| Rabu, 02 September 2026 | 08:02 WIB

Membedah Dampak Arbitrase Gunvor Terhadap Kinerja Keuangan dan Prospek Saham PGAS

Efek putusan arbitrase yang diajukan Gunvor ke kinerja keuangan PGAS bergantung pada nilai ganti rugi dan waktu penyelesaian.

ITSEC Asia Mencetak Laba Usaha Rp 23,01 Miliar, Meroket 1.171% yoy
| Rabu, 02 September 2026 | 07:49 WIB

ITSEC Asia Mencetak Laba Usaha Rp 23,01 Miliar, Meroket 1.171% yoy

Kinerja kuartal kedua mencerminkan pertumbuhan pendapatan yang terus berlanjut serta realisasi sejumlah proyek utama pada periode tersebut.

Harga Saham KOTA Sudah Melambung Tinggi, Investor Disarankan Tak Kejar Momentum
| Rabu, 02 September 2026 | 07:49 WIB

Harga Saham KOTA Sudah Melambung Tinggi, Investor Disarankan Tak Kejar Momentum

Kenaikan harga saham PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) kemungkinan telah jauh melampaui fundamental perseroan. 

Valuasi Jauh di Bawah Rata-Rata Lima Tahun, TPIA Jadi Saham Big Caps Paling Terdiskon
| Rabu, 02 September 2026 | 07:31 WIB

Valuasi Jauh di Bawah Rata-Rata Lima Tahun, TPIA Jadi Saham Big Caps Paling Terdiskon

Rata-rata target harga konsensus saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berada di Rp 2.990 per saham.

Nilai Pasar Industri Kosmetik Bisa Tembus US$ 10 Miliar
| Rabu, 02 September 2026 | 07:27 WIB

Nilai Pasar Industri Kosmetik Bisa Tembus US$ 10 Miliar

Selama ini produk kosmetik dan perawatan diri digunakan oleh hampir seluruh kelompok usia dan gender.

Sinyal Hawkish Datang Dari AS, Rupiah Terancam Kembali Merosot ke Rp 18.000?
| Rabu, 02 September 2026 | 07:12 WIB

Sinyal Hawkish Datang Dari AS, Rupiah Terancam Kembali Merosot ke Rp 18.000?

Analis memperkirakan jika The Fed semakin hawkish, risiko rupiah kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS tetap terbuka.

INDEKS BERITA

Terpopuler