Dilema BI Rate
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) Fed Funds Rate (FFR) sudah diprediksikan terjadi pada September ini, efeknya tetap terasa. Efek kenaikan suku bunga ini terutama tampak pada penguatan dolar AS terhadap mata uang lain.
Efek ini juga sudah terasa pada nilai tukar rupiah yang melemah sembilan hari perdagangan beruntun hingga jadwal Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) bulan ini. Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan menunjukkan tekanan dari pasar agar BI mengerek suku bunga acuan.
Kenaikan FFR yang kini berada di 3,75%-4,00% mempersempit selisih dengan BI Rate. Tetapi BI telah agresif menaikkan suku bunga BI Rate total 100 basis points pada Mei-Juni lalu dari 4,75% menjadi 5,75%.
Jika BI kembali mengerek suku bunga acuan pada rapat September demi memperlebar selisih suku bunga dengan AS, ruang untuk menjaga stabilitas rupiah memang akan semakin terbuka. Tapi pilihan tersebut bukan tanpa konsekuensi.
Dalam situasi seperti ini, BI menghadapi dilema yang tidak sederhana. Menahan BI Rate berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perekonomian untuk bergerak melalui kredit dan konsumsi. Sebaliknya, menaikkan suku bunga dapat memberikan tambahan bantalan terhadap tekanan nilai tukar, tetapi berpotensi membuat biaya pembiayaan semakin mahal.
Karena itu, keputusan BI dalam RDG 22-23 September tidak semestinya hanya dilihat dari apakah BI menaikkan atau mempertahankan BI Rate. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana bank sentral mengombinasikan kebijakan suku bunga dengan intervensi pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, serta kebijakan makroprudensial.
BI pada RDG Agustus masih mempertahankan BI Rate 5,75% sembari memperluas berbagai kebijakan untuk memperkuat stabilitas rupiah. Pendekatan bauran kebijakan menjadi penting karena menjaga rupiah tidak selalu harus dilakukan melalui suku bunga. Terlebih, stabilitas kurs dan pertumbuhan ekonomi merupakan dua kepentingan yang sama-sama perlu dijaga.
Rupiah memang perlu dijaga dari tekanan yang berlebihan. Tapi respons kebijakan juga perlu memperhitungkan dampaknya terhadap dunia usaha, pasar keuangan, kredit perbankan, dan daya beli masyarakat. Pada akhirnya, tantangan BI adalah menemukan titik keseimbangan antara stabilitas rupiah dan kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
