Dilema BI Rate

Rabu, 23 September 2026 | 12:01 WIB
Dilema BI Rate
[ILUSTRASI. Wahyu Tri Rahmawati (KONTAN/Steve GA)]
Wahyu Tri Rahmawati | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) Fed Funds Rate (FFR) sudah diprediksikan terjadi pada September ini, efeknya tetap terasa. Efek kenaikan suku bunga ini terutama tampak pada penguatan dolar AS terhadap mata uang lain.

Efek ini juga sudah terasa pada nilai tukar rupiah yang melemah sembilan hari perdagangan beruntun hingga jadwal Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) bulan ini. Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan menunjukkan tekanan dari pasar agar BI mengerek suku bunga acuan.

Kenaikan FFR yang kini berada di 3,75%-4,00% mempersempit selisih dengan BI Rate. Tetapi BI telah agresif menaikkan suku bunga BI Rate total 100 basis points pada Mei-Juni lalu dari 4,75% menjadi 5,75%.

Jika BI kembali mengerek suku bunga acuan pada rapat September demi memperlebar selisih suku bunga dengan AS, ruang untuk menjaga stabilitas rupiah memang akan semakin terbuka. Tapi pilihan tersebut bukan tanpa konsekuensi.

Dalam situasi seperti ini, BI menghadapi dilema yang tidak sederhana. Menahan BI Rate berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perekonomian untuk bergerak melalui kredit dan konsumsi. Sebaliknya, menaikkan suku bunga dapat memberikan tambahan bantalan terhadap tekanan nilai tukar, tetapi berpotensi membuat biaya pembiayaan semakin mahal.

Karena itu, keputusan BI dalam RDG 22-23 September tidak semestinya hanya dilihat dari apakah BI menaikkan atau mempertahankan BI Rate. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana bank sentral mengombinasikan kebijakan suku bunga dengan intervensi pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, serta kebijakan makroprudensial.

BI pada RDG Agustus masih mempertahankan BI Rate 5,75% sembari memperluas berbagai kebijakan untuk memperkuat stabilitas rupiah. Pendekatan bauran kebijakan menjadi penting karena menjaga rupiah tidak selalu harus dilakukan melalui suku bunga. Terlebih, stabilitas kurs dan pertumbuhan ekonomi merupakan dua kepentingan yang sama-sama perlu dijaga.

Rupiah memang perlu dijaga dari tekanan yang berlebihan. Tapi respons kebijakan juga perlu memperhitungkan dampaknya terhadap dunia usaha, pasar keuangan, kredit perbankan, dan daya beli masyarakat. Pada akhirnya, tantangan BI adalah menemukan titik keseimbangan antara stabilitas rupiah dan kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Bagikan

Berita Terbaru

Dilema BI Rate
| Rabu, 23 September 2026 | 12:01 WIB

Dilema BI Rate

Tantangan BI adalah menemukan titik keseimbangan antara stabilitas rupiah dan kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah Evaluasi Hambatan Garmen dan TPT
| Rabu, 23 September 2026 | 09:01 WIB

Pemerintah Evaluasi Hambatan Garmen dan TPT

Khusus di hilir terkait dengan garmen,gangguan impor ballpress segera ditertibkan                   

Pemerintah Lanjutkan Penagihan Piutang BLBI
| Rabu, 23 September 2026 | 08:52 WIB

Pemerintah Lanjutkan Penagihan Piutang BLBI

Pemerintah telah melunasi kewajiban utang kepada BI terkait penanganan krisis keuangan 1997-1998 dengan total Rp 640 triliun

300.000 Lebih Surat Cinta untuk Wajib Pajak
| Rabu, 23 September 2026 | 08:39 WIB

300.000 Lebih Surat Cinta untuk Wajib Pajak

Sebanyak 304.994 surat cinta yang diterbitkan Ditjen Pajak merupakan SP2DK dalam rangka pengawasan  

Daya Ungkit APBD Tertahan Belanja Modal
| Rabu, 23 September 2026 | 08:19 WIB

Daya Ungkit APBD Tertahan Belanja Modal

Realisasi belanja modal pemerintah daerah hingga 21 September 2026 baru mencapai 27%                

El Nino Ancam Produksi Kopi hingga Gula, Margin MYOR dan FORE Berpotensi Tertekan
| Rabu, 23 September 2026 | 08:12 WIB

El Nino Ancam Produksi Kopi hingga Gula, Margin MYOR dan FORE Berpotensi Tertekan

Produksi kopi, kakao, dan gula membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk kembali pulih setelah diterjang El Nino.

Produksi Meningkat, Laba Bersih Medco Melesat
| Rabu, 23 September 2026 | 08:06 WIB

Produksi Meningkat, Laba Bersih Medco Melesat

Kinerja MEDC ditopang pertumbuhan produksi minyak dan gas (migas), beroperasinya proyek baru, serta kontribusi investasi di sektor tambang.

Selektif Memilih Saham Danantara
| Rabu, 23 September 2026 | 08:04 WIB

Selektif Memilih Saham Danantara

Tekanan jual investor asing yang masih besar dan sentimen tata kelola membayangi emiten-emiten di bawah Danantara

Kantongi Restu RUPSLB, PBSA Siap Stock Split dengan Rasio 1:2
| Rabu, 23 September 2026 | 07:51 WIB

Kantongi Restu RUPSLB, PBSA Siap Stock Split dengan Rasio 1:2

Sesuai keputusan RUPSLB, emiten jasa konstruksi ini akan memecah nominal saham dari Rp 50 jadi Rp 25 per saham. ​

Saham BSSR Melesat Jelang Cum Date Dividen Interim, Masih Amankah Dibeli?
| Rabu, 23 September 2026 | 07:48 WIB

Saham BSSR Melesat Jelang Cum Date Dividen Interim, Masih Amankah Dibeli?

Kenaikan harga saham BSSR merupakan kombinasi antara ekspektasi dividen yang besar dan dukungan fundamental.

INDEKS BERITA

Terpopuler