Fiskal Terjepit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:05 WIB
Fiskal Terjepit
[ILUSTRASI. Wahyu Tri Rahmawati (KONTAN/Steve GA)]
Wahyu Tri Rahmawati | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki kuartal IV-2026, pemerintah menghadapi ujian fiskal yang berat. Kenaikan harga minyak dunia mendorong Indonesian Crude Price (ICP) September 2026 mencapai US$112,81 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Pada saat bersamaan, pemerintah masih harus menjaga daya beli masyarakat melalui bantuan sosial, termasuk Bantuan Subsidi Upah (BSU) yang disiapkan untuk periode Oktober hingga Desember.

Kenaikan harga minyak berisiko meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi jika pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi. Namun, jika kenaikan biaya dibebankan kepada konsumen, daya beli masyarakat dapat tertekan dan menghambat konsumsi domestik, penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pemerintah menyiapkan anggaran BSU sekitar Rp 12 triliun untuk 13,3 juta pekerja. Selain itu, bantuan pangan beras bagi sekitar 33,24 juta keluarga diperkirakan membutuhkan Rp 17,5 triliun.

Kebutuhan belanja ini perlu dicermati karena realisasi subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp 376,8 triliun hingga September. Defisit APBN 2026 pun diperkirakan mencapai 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB), mendekati batas 3%.

Karena itu, pemerintah perlu lebih selektif dalam menentukan prioritas anggaran. Subsidi energi harus semakin tepat sasaran.

Sementara penyaluran BSU perlu didukung data penerima yang valid agar manfaatnya optimal. Pemerintah juga perlu menghemat belanja kementerian dan lembaga yang tidak mendesak tanpa mengorbankan layanan publik serta program perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran.

Di sisi penerimaan, optimalisasi pajak dan sumber pendapatan negara lainnya perlu diperkuat. Pemerintah juga harus menyiapkan skenario fiskal jika harga minyak bertahan tinggi. Pemerintah pun tetap perlu memperhitungkan nilai tukar rupiah dan kebutuhan impor energi yang selama puluhan tahun menyumbang defisit perdagangan.

Pada akhirnya, tantangan APBN bukan sekadar memilih antara subsidi energi dan bantuan sosial, melainkan memastikan keduanya berjalan efektif tanpa mengabaikan keberlanjutan fiskal. Kenaikan harga minyak memang sulit dikendalikan. Tetapi ketepatan sasaran bantuan, disiplin belanja, dan kualitas pengelolaan anggaran tetap dapat diperbaiki. Di situlah keseimbangan fiskal perlu dijaga hingga akhir 2026.

Bagikan

Berita Terbaru

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:21 WIB

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027

Pemerintah mulai membuka periode pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan mineral dan batubara tahun 2027 

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:04 WIB

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan

 PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menyambut mitra strategis yang akan mengakuisisi anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom). 

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:01 WIB

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026

PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) optimistis mencapai target pertumbuhan kinerja keuangan di sepanjang tahun ini dari ekspansi gerai Mitra10.

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:15 WIB

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%

Bali menunjukkan sumber pertumbuhan baru sudah muncul; yang dibutuhkan kini kecepatan, keberanian dan disiplin.

Fiskal Terjepit
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:05 WIB

Fiskal Terjepit

Tantangan APBN bukan memilih antara subsidi energi dan bansos, tapi memastikan keduanya berjalan efektif tanpa mengabaikan keberlanjutan fiskal.

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:01 WIB

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global

Risiko outflow membayangi emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi (HSC) yang masuk ke indeks global

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:56 WIB

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati

Di tengah pelemahan IHSG pada perdagangan Selasa (13/10), dana asing tercatat net buy sebesar Rp 570,4 miliar.  

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T

Jika Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) digunakan, akan diperoleh penghematan nilai subsidi sebesar Rp 28,54 triliun. 

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November

Sentimen global yang membaik belum tentu cukup untuk memicu reli IHSG secara berkelanjutan selama ketidakpastian terkait MSCI belum terjawab.

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis

Emiten dengan merek yang kuat, jaringan distribusi luas, dan efisiensi operasional lebih berpeluang menjaga kinerja fundamentalnya.

INDEKS BERITA