Geber Ekspansi, ACES Buka 14 Gerai Baru Sampai Agustus

Kamis, 25 September 2025 | 06:49 WIB
Geber Ekspansi, ACES Buka 14 Gerai Baru Sampai Agustus
[ILUSTRASI. Gerai peralatan dan perlengkapan rumah tangga Azko.]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) terus melakukan ekspansi gerai untuk menggenjot bisnisnya. Sampai dengan Agustus, perusahaan menambah 14 gerai baru dengan tambahan luasan sekitar 28.100 meter persegi.

Abyan Habib Yuntoharjo, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dalam risetnya tanggal 22 September 2025 bilang ekspansi ini dilakukan untuk menjaga kinerja pertumbuhan sepanjang tahun. 

ACES tetap agresif menambah jaringan gerai baru dan rebranding AZKO. Sepanjang Agustus 2025, perusahaan membuka tiga gerai baru sehingga total penambahan sepanjang tahun mencapai 14 gerai dengan ekspansi lebih banyak difokuskan di wilayah Jawa di luar Jakarta serta di luar Jawa.

Namun, ekspansi ini bukan tanpa tantangan. Dengan tren SSSG yang negatif, kontribusi utama terhadap pertumbuhan pendapatan berasal dari penambahan gerai. Produktivitas gerai baru berpotensi lebih lambat karena daya beli konsumen yang masih melemah. Meski begitu, manajemen tetap menargetkan penambahan gerai baru hingga akhir tahun.

Tak hanya ekspansi, strategi lain yang dijalankan adalah mendorong penjualan produk private label. Pada September 2025, ACES menggelar kampanye khusus bagi anggota dengan fokus pada produk private label, yang diharapkan bisa meningkatkan trafik pelanggan sekaligus margin keuntungan.

Tak hanya itu, ACES juga berpartisipasi dalam ajang Retail Summit Expo 2025, dengan menampilkan produk unggulan seperti Krisbow Sync dan Klaz. Kehadiran di pameran besar ini menjadi bagian dari strategi memperkuat positioning merek di tengah permintaan produk diskresioner yang masih melemah.

Menurut manajemen, strategi promosi dan penetrasi gerai baru di kota-kota potensial akan menjadi penopang kinerja di paruh kedua tahun ini. Langkah ini dilakukan secara hati-hati mengingat kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Namun, Abyan juga menyoroti kinerja penjualan ACES yang cenderung melambat selama delapan bulan tahun ini. Pada Agustus 2025, penjualan perusahaan tercatat Rp 719 miliar atau tumbuh tipis 1,7% year on year (YoY). Secara kumulatif, penjualan sepanjang delapan bulan pertama 2025 mencapai Rp 5,7 triliun, naik 3,3% YoY, setara dengan sekitar 64% target sepanjang tahun. 

Kinerja ini masih sejalan dengan tren historis, namun jelas pertumbuhan tidak sekuat tahun lalu yang mampu membukukan pertumbuhan dua digit. Lemahnya daya beli konsumen menjadi faktor utama yang menekan pertumbuhan.

Baca Juga: Kinerja Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) Merosot, Begini Strategi Bisnisnya

Dari sisi penjualan same store sales growth (SSSG), kondisi justru menunjukkan tren negatif. Pada Agustus 2025, SSSG tercatat turun 4,1% YoY, sehingga secara year to date (YtD) berada di level minus 3,0%. Penurunan paling tajam terjadi di wilayah Jakarta (-5,9%) dan Jawa di luar Jakarta (-5,3%). Sebaliknya, wilayah luar Jawa lebih resilien dengan penurunan hanya -1,8%, sehingga sedikit menahan angka nasional.

Selain pelemahan daya beli, faktor eksternal juga menekan kinerja. Yuntoharjo menilai kerusuhan sosial yang terjadi pada akhir Agustus ikut mengganggu penjualan. Namun demikian, faktor utama tetap berasal dari tingginya basis pertumbuhan tahun lalu serta pengeluaran diskresioner masyarakat yang lebih rendah.

Sejalan dengan pencapaian tahun berjalan, Mirae Asset Sekuritas melakukan sedikit penyesuaian pada proyeksi laba per saham (EPS) ACES. Untuk tahun 2025, EPS diperkirakan turun tipis -2,7%, sementara untuk 2026 diproyeksikan naik 13,3%. Penyesuaian ini mencerminkan tantangan konsumsi yang masih menekan di wilayah Jakarta dan Jawa non-Jakarta.

Secara keseluruhan, ekspansi gerai baru tetap menjadi motor pertumbuhan AZKO. Namun, proses adopsi pasar diperkirakan lebih lambat akibat kehati-hatian konsumen dalam berbelanja. Dengan kombinasi strategi promosi, perluasan jaringan, serta penguatan produk private label, perusahaan diharapkan dapat menjaga momentum meski harus menghadapi tekanan daya beli yang belum pulih sepenuhnya.

Sementara itu, Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan, Analis Indo Premier Sekuritas menilai bahwa kinerja ACES di tahun 2025 berpotensi tertekan oleh kondisi makro ekonomi yang lemah serta proses rebranding yang sedang berjalan. 

Sepanjang tujuh bulan pertama 2025, ACES mencatat same store sales growth (SSSG) sebesar -2,9% YoY, jauh di bawah target perseroan yang memproyeksikan pertumbuhan positif 1% YoY. Lemahnya kinerja ini terutama disebabkan oleh penurunan penjualan di wilayah Jawa dengan SSSG -4,1% YoY, sementara wilayah luar Jawa tercatat -0,9% YoY.

Kinerja ACES juga terdampak kerusuhan pada minggu keempat Agustus 2025, mengingat sekitar 60% toko ACES berlokasi di pusat perbelanjaan. Selain itu, efek basis tinggi dari Agustus 2024, yang mencatat SSSG mencapai +11,1% YoY turut membuat kinerja di Agustus terlihat tertekan. 

Indo Premier melihat kinerja Agustus 2025 kembali mencatatkan SSSG negatif di kisaran mid-single digit. Melihat tren tersebut, keduanya memperkirakan outlook makro yang masih lemah serta proses rebranding yang tengah berlangsung berpotensi menekan kinerja hingga akhir 2025.

Baca Juga: Prospek Diadang Lemahnya Daya Beli Masyarakat, Saham ACES Berpotensi Masih Tertekan

Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, Indo Premier mempertahankan proyeksi SSSG tahun 2025 di level -2% atau lebih rendah dibandingkan proyeksi manajemen perseroan yang menargetkan +1% YoY. Sejalan dengan revisi ini, estimasi laba bersih tahun ini juga dipangkas sebesar -8%. Penurunan estimasi ini mencerminkan ekspektasi kinerja yang melemah akibat penjualan yang kurang solid dan margin yang tertekan.

Berdasarkan diskusi Indopremier dengan manajemen ACES, perusahaan berencana fokus pada pertumbuhan penjualan selama periode rebranding. Strategi tersebut diwujudkan melalui percepatan ekspansi gerai dengan membuka sebanyak 25–30 gerai baru di 2025, naik dari 20 gerai pada 2024, serta intensifikasi program promosi seperti potongan harga hingga boom sale.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Surplus Dagang RI Merosot Tajam, Ada Apa dengan Ekspor Januari?
| Senin, 02 Maret 2026 | 18:08 WIB

Surplus Dagang RI Merosot Tajam, Ada Apa dengan Ekspor Januari?

Nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$ 22,16 miliar & impor US$ 21,20 miliar. Neraca perdagangan mencatat surplus US$ 0,95 miliar.

Free Float Besar Tak Menjamin Bebas Gorengan
| Senin, 02 Maret 2026 | 18:03 WIB

Free Float Besar Tak Menjamin Bebas Gorengan

Dalam pandangan Teguh Hidayat, banyak emiten yang sejak awal IPO memang bukan untuk ekspansi bisnis, melainkan sebagai sarana exit liquidity.

Inflasi Tertinggi 3 Tahun Terakhir, Harga Pangan Melonjak
| Senin, 02 Maret 2026 | 17:52 WIB

Inflasi Tertinggi 3 Tahun Terakhir, Harga Pangan Melonjak

Inflasi Februari 2026 melonjak 4,76%, tertinggi 3 tahun. Harga beras, cabai, telur pemicu utama. Pahami dampaknya pada daya beli Anda.

Pemimpin Tertinggi Iran Wafat, Harga Emas Melesat, Cek Rekomendasi Sahamnya
| Senin, 02 Maret 2026 | 17:35 WIB

Pemimpin Tertinggi Iran Wafat, Harga Emas Melesat, Cek Rekomendasi Sahamnya

Jika harga minyak terdorong naik signifikan, ekspektasi inflasi bisa kembali menguat dan itu biasanya menjadi katalis positif tambahan bagi emas.

Agreement on Reciprocal Trade (ART) dan Industri Unggas: Ancaman Oversupply Mengintai
| Senin, 02 Maret 2026 | 12:28 WIB

Agreement on Reciprocal Trade (ART) dan Industri Unggas: Ancaman Oversupply Mengintai

Analis mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor poultry, dengan proyeksi dinamika supply-demand yang masih solid sepanjang 2026.

Tiga Nama yang Masuk Bursa Calon Pimpinan OJK, Dari Politikus Hingga Ahli Keuangan
| Senin, 02 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tiga Nama yang Masuk Bursa Calon Pimpinan OJK, Dari Politikus Hingga Ahli Keuangan

Hari ini Panitia Seleksi (Pansel) menutup pendaftaran calon pengganti antarwaktu anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK).

Selat Hormuz Tutup Harga Minyak Meletup, Simak Saham-Saham Pilihan Analis
| Senin, 02 Maret 2026 | 11:23 WIB

Selat Hormuz Tutup Harga Minyak Meletup, Simak Saham-Saham Pilihan Analis

Penutupan Selat Hormuz mulai Minggu, 1 Maret 2026 sebagai imbas serangan AS-Israel ke wilayah Iran memicu kenaikan lanjutan harga minyak dunia.

Pilah-Pilih Valas Jagoan Penghasil Cuan Sekaligus Aset Hedging
| Senin, 02 Maret 2026 | 08:10 WIB

Pilah-Pilih Valas Jagoan Penghasil Cuan Sekaligus Aset Hedging

Performa major currencies mengalahkan rupiah hingga Februari ini. Manakah mata uang yang diunggulkan potensi cuannya tahun ini?

Cuan Wangi dari Saham Pengelola Sampah
| Senin, 02 Maret 2026 | 07:33 WIB

Cuan Wangi dari Saham Pengelola Sampah

Danantara dalam waktu dekat mengumumkan pemenang tender pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).

Investor Asing Agresif di Saham Ritel Jelang Lebaran, MAPI Paling Banyak Dibeli
| Senin, 02 Maret 2026 | 07:15 WIB

Investor Asing Agresif di Saham Ritel Jelang Lebaran, MAPI Paling Banyak Dibeli

Secara historis penjualan emiten ritel di Ramadan dan Idulfitri mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik ketimbang momentum musiman lainnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler