Harga Ayam Pulih, Emiten Unggas Dapat Angin Segar Hingga Akhir Tahun
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemulihan harga ayam dinilai akan membawa angin segar bagi emiten unggas. Data Mirae Asset Sekuritas yang diakses Selasa (20/10), menunjukkan bahwa harga day old chicken (DOC) naik 3,9% secara bulanan atau month on month (MoM) menjadi Rp 7.559 Per ekor pada September 2026. Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juli 2023.
Sebaliknya, harga ayam broiler terkoreksi 3,2% MoM menjadi Rp 23.580 per kilogram setelah mencetak rekor pada Agustus 2026.
Adapun secara kuartalan, rata-rata harga DOC pada kuartal III-2026 mencapai Rp 6.707 per ekor, sedangkan harga ayam broiler berada di level Rp 22.197 per kilogram. Pada periode yang sama pula, salah satu bahan baku utama pakan ayam, yaitu jagung, adalah sebesar Rp 6.584 per kilogram.
Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai bahwa kenaikan harga DOC menjadi Rp 7.559 per ekor pada September 2026 dan harga broiler yang masih relatif tinggi berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten unggas seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), serta Malindo Feedmill Tbk (MAIN) bahkan juga untuk PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU).
"Pemulihan harga jual bisa memberikan ruang bagi perbaikan margin, terutama jika perusahaan mampu menjaga biaya produksi tetap terkendali," papar Alrich kepada KONTAN, Rabu (21/10).
Walaupun begitu, besarnya pemulihan laba masih akan sangat bergantung pada keseimbangan antara harga jual produk unggas dan biaya input, khususnya pakan utamanya harga jagung yang rata-rata mencapai Rp 6.584 per kilogram di kuartal III-2026.
Hal ini dapat menggerus margin jika tak diimbangi oleh harga jual ayam yang memadai.
Baca Juga: Prospek CPIN Ditopang Pemulihan Harga Unggas
Ditambah lagi, realisasi permintaan di tengah efisiensi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) pun menjadi faktor yang perlu dicermati.
Pelemahan daya beli masyarakat berpotensi membatasi konsumsi protein hewani masyarakat, sedangkan perubahan kebijakan impor dan pasokan bibit ayam bisa mempengaruhi keseimbangan pasar.
