Harga Emas dan Perak Redup Dua Bulan Terakhir, Koreksi Bersifat Sementara
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dan perak tengah berkurang kilaunya karena kedua logam mulia ini kompak merosot harganya ke level terendah dalam dua bulan terakhir.
Per Jumat (9/10), harga emas telah merosot 5,26% ke level US$ 4.177,44 per ons troi dalam dua bulan terakhir. Sementara perak jatuh sedalam 9,08% ke US$ 60,16 per ons troi. Sementara per Rabu (7/10) lalu, harga emas dunia turun 1,3% ke US$ 4.110,55 per ons troi dan membawa harga emas ke level terendah sejak 4 Agustus 2026.
Tekanan lebih dalam dialami perak, akibat terkoreksi 2,5% ke US$ 60,15 per ons troi pada periode yang sama, sekaligus menjadi level terendahnya dalam dua bulan terakhir.
Dalam rentang hariannya, harga emas dan perak kini tengah menikmati penguatannya lebih dari 1% per Jumat (9/10). Setali tiga uang, harga perak spot naik 1,4%.
Adapun penguatannya ini ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meredanya harga minyak mentah.
Pelaku pasar juga masih mencermati risiko inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Melihat dinamika pergerakan harga emas dan perak, Pengamat Komoditas dan Pendiri Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono mencermati bahwa beberapa waktu belakangan pasar komoditas logam mulia saat ini tengah menghadapi tekanan jual yang cukup kuat, membawa harga emas dan perak terperosok ke level terendahnya dalam dua bulan terakhir per Rabu (7/10).
"Penurunan ini terjadi di tengah sentimen kebijakan moneter global dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah," ujarnya kepada KONTAN, belum lama ini.
Dia pun mengatakan bahwa koreksi tajam yang membawa emas dan perak ke kisaran US$ 4.110, 55 per ons troi dan US$ 60,15 per ons troi beberapa waktu lalu, lebih bersifat teknikal yang sehat dalam tren naik jangka menengah, sekaligus respons jangka pendek terhadap penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Dia juga melihat bahwa menjelang akhir 2026, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi karena pasar terus mencermati data inflasi bulanan AS serta kepastian langkah militer di kawasan Teluk.
Tetapi, selama fundamental moneter global masih cenderung potensial melakukan pelonggaran dalam jangka panjang dan akumulasi cadangan oleh bank sentral dunia belum surut, penurunan ini belum dapat dikonfirmasi sebagai pembalikan tren jangka panjang (bear market), melainkan fase konsolidasi di bawah bayang-bayang pengetatan moneter sementara.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong pun turut melihat bahwa Penurunan emas dan perak terutama dipicu oleh penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury, yang membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.
"Untuk perak, tekanan lebih besar karena volatilitasnya lebih tinggi dan sentimen industrinya juga ikut memengaruhi harga," jelas dia saat dihubungi oleh KONTAN.
Senada dengan apa yang disampaikan oleh Wahyu, Lukman pun menilai koreksi ini masih lebih bersifat sementara dan belum menunjukkan perubahan tren jangka panjang.
Namun, dia memproyeksi bahwa hingga akhir 2026 emas dan perak masih berpotensi bergerak volatil dan tertekan jika dolar dan yield AS tetap tinggi.
Untuk emas, permintaan safe haven dan pembelian bank sentral masih menjadi penopang, sementara perak juga mendapat dukungan dari permintaan industri.
Wahyu di sisi lain melihat, secara konsensus, sejumlah lembaga keuangan global dan analis komoditas memproyeksikan harga emas spot bergerak di rentang US$ 4.300 hingga US$ 5.000 per ons troi menjelang penutupan tahun 2026.
Dalam pandangan optimisnya, jika outlook The Fed akhirnya lebih cenderung melonggar maka bullish medium term potensial akan terus berlanjut bukan mustahil harga emas spot bisa potensial menguji atau bahkan menembus titik all time high (ATH) akhir tahun.
Sementara dalam skenario moderat, emas diperkirakan stabil menguji area US$ 4.500 per ons troi. Wahyu berargumen, jika inflasi global mereda sementara tensi geopolitik menjadi new normal, atau dalam kata lain status quo dan tidak ada eskalasi signifikan, maka reli lanjutan menuju batas atas konsensus di kisaran US$ 4.800 hingga US$ 4.900 per ons troi tetap terbuka lebar.
Dia juga menyuarakan skenario pesimisnya jika The Fed kembali memberi sinyal pengetatan agresif lebih dari perkiraan pasar, level koreksi wajar potensial berada di area penyangga kuat sekitar US$ 4.000–US$ 3.500 per ons troi.
Adapun untuk perak, dia mengatakan saat ini pergerakannya tengah bergerak di area konsolidasi konsruktif setelah mengalami koreksi wajar.
"Dengan mempertimbangkan dinamika industri hijau, permintaan fisik, serta interaksinya yang tinggi terhadap pergerakan emas, sejumlah analis memproyeksikan harga spot perak bergerak di rentang US$ 55,00 hingga US$ 75,00 per ons troi menjelang penutupan tahun 2026," imbuh Wahyu.
Wahyu juga menaruh berbagai skenario untuk pergerakan harga perak, di antaranya jika bank sentral AS (The Fed) akhirnya melangkah lebih lunak (dovish pivot) dan tensi geopolitik energi terus memanas, maka perak memiliki beta yang lebih tinggi dibanding emas.
Dalam kondisi ini, perak berpotensi melanjutkan tren naik (medium-term bullish) untuk menguji kembali area batas atas konsensus atau bahkan mendekati level resistance kunci di kisaran US$ 70,00 hingga US$ 90,00 per ons troi.
Sementara untuk skenario moderat, alias jika kondisinya ditandai dengan inflasi global yang mereda secara bertahap, sementara ketegangan geopolitik menjadi new normal tanpa eskalasi ekstrem, maka harga perak diperkirakan stabil bergerak di kisaran US$ 55,00 hingga US$ 75,00 per ons troi didukung oleh kuatnya permintaan struktural dari sektor manufaktur dan transisi energi, seperti panel surya dan kendaraan listrik.
Dalam skenario pesimisnya, Wahyu mengatakan hal ini bissa terjadi jika inflasi persisten mendorong The Fed untuk tetap mempertahankan siklus pengetatan yang agresif (Higher for Longer). Kondisi itu akan sebabkan tekanan jual lanjutan yang bisa dapat membawa perak menguji area penyangga (support area) kuat di kisaran US$ 55,00 hingga US$ 45,00 per ons troi.
"Hingga akhir tahun 2026, tren harga emas global secara garis besar masih berada dalam struktur jangka menengah yang konstruktif," ucap Wahyu.
