KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak bisa dihindari di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Imbasnya, peralihan kendaraan konvensional BBM ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) diprediksikan mengalami lonjakan dalam beberapa waktu ke depan.
Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko mengatakan minat kendaraan listrik akan mengalami lonjakan apabila harga BBM tak terkendali imbas konflik di Timur Tengah.
"Secara umum, pada awal tahun terjadi lonjakan penjualan sangat signifikan. Apalagi dengan melonjaknya harga minyak, dapat dipastikan migrasi ke EV akan semakin kuat lagi," ucap Moeldoko kepada KONTAN, Selasa (17/3).
Baca Juga: Permintaan Kendaraan Listrik Memacu Saham Emiten Nikel
Meski begitu, Periklindo belum bisa memastikan secara rinci tren penjualan kendaraan listrik ketika harga minyak mentah meroket.
"Tidak bisa dipastikan akurasinya tetep melihat tren, bisa-bisa dua kali lipat saat ini, bahkan lebih," kata dia.
Periklindo menyebutkan bahwa daya beli masyarakat saat ini juga masih menjadi tolok ukur untuk memproyeksikan peningkatan tren penjualan kendaraan listrik.
Berdasarkan data yang diterima, penjualan battery electric vehicle (BEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) pada awal tahun 2026 mengalami lonjakan yang positif.
BEV mengalami peningkatan penjualan hingga tiga kali lipat. Penjualan mobil listrik murni (BEV) pada Januari 2026 mencapai 10.211 unit, hampir empat kali lipat dibandingkan Januari 2025. Kemudian, total penjualan BEV selama Januari-Februari 2026 bahkan diperkirakan mencapai 22.500 unit, memberikan pangsa pasar 15% dari total penjualan mobil nasional.
Selanjutnya untuk penjualan PHEV mengalami pertumbuhan yang eksplosif. Sebab, segmen PHEV mencatat pertumbuhan paling spektakuler secara persentase.
Penjualan PHEV pada Januari 2026 sebanyak 502 unit, melonjak lebih dari 3.000% dibandingkan penjualan di periode yang sama tahun lalu, meskipun secara volume masih rendah.
Sedangkan untuk penjualan hybrid electric vehicle (HEV) relatif stabil di angka 4.195 unit. Namun pangsanya terhadap total pasar elektrifikasi turun drastis dari 61,9% pada Januari 2025 menjadi 28,1% di Januari 2026, menunjukkan pergeseran preferensi konsumen ke BEV. Adapun merek dominan yang mengalami tren penjualan positif di segmen BEV adalah BYD. Sebab, BYD mencatatkan penjualan lebih dari 10.000 unit pada Januari-Februari 2026.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto mengatakan, minat pembelian kendaraan listrik akan tetap terjaga di tengah meroketnya harga BBM.
Menurut dia, masyarakat Indonesia akan lebih memilih EV dengan baterai (BEV) yang lebih terjangkau harganya.
Dia menjelaskan, peningkatan penjualan kendaraan listrik belum bisa dipastikan akan terjadi signifikan. Namun Jongkie memastikan akan ada peningkatan saat harga minyak global melonjak tinggi. "Mungkin kenaikannya tak signifikan, tapi pasti ada peningkatan," kata Jongkie.
