Hati-Hati Kelola Defisit
Krisis di kawasan Timur Tengah mengubah lanskap geoekonomi global. Lebih dari dua pekan perang di Timur Tengah pecah, yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat-Israel ke Iran. Dalam serangan itu, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, gugur.Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalasnya dengan serangan masif ke Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Balasan Iran tak tanggung-tanggung. Mereka memblokade Selat Hormuz, yang selama ini menjadi "urat nadi" energi global. Dikabarkan, hanya kapal berbendera Rusia, China, dan Pakistan saja yang boleh melewati selat tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim cukup vital di dunia. Sekitar 20%22% pasokan minyak dan gas global atau seperlima dari total konsumsi dunia melintas setiap hari dari Teluk Persia ke seluruh dunia. Gangguan rantai pasok memicu konsekuensi, harga minyak mentah di pasar internasional memanas. Pada Kamis (12/3) pekan lalu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent masing-masing sudah menembus US$ 90 per barel, jauh melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
