IHSG & Kacamata Kuda

Senin, 06 April 2026 | 06:10 WIB
IHSG & Kacamata Kuda
[ILUSTRASI. Tedy Gumilar (KONTAN/Indra Surya)]
Tedy Gumilar | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jangan menuding kondisi Timur Tengah sebagai penyebab utama portofolio saham Anda yang mungkin hancur saat ini. Sebab, banyak bursa saham negara lain yang kini berada di zona merah namun koreksinya masih terbilang wajar. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menjadi indeks saham dengan kinerja paling buruk di dunia: -18,7% secara year to date (YtD) 2 April 2026.

Kejatuhan indeks secara masif tentu pernah terjadi. Secara YtD, IHSG anjlok -27,9% hingga akhir Maret 2020. Namun konteks IHSG sebagai yang paling buruk sedunia di saat bursa negara lain relatif terjaga adalah kejadian yang sangat langka.

Apa yang terjadi saat ini juga bukan kepanikan membabi-buta seperti yang terjadi di awal pandemi Covid-19. Melainkan hasil perhitungan matang institusi pengelola dana terhadap kondisi spesifik Indonesia, yang sudah diwanti-wanti lembaga pemeringkat dan keuangan internasional sebelumnya.

Muaranya, ketidakpercayaan investor global terhadap kemampuan pemerintah mengelola kebijakan fiskal akibat program bombastis yang tidak realistis. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghabiskan anggaran Rp 335 triliun di APBN 2026. Meski belakangan penyaluran MBG dipangkas dari 6 hari jadi 5 hari, penghematannya cuma Rp 20 triliun, tak cukup signifikan. 

Anggaran MBG yang kelewat besar mengebiri kapasitas APBN untuk membiayai program-program produktif. Di saat bersamaan, sulit menggenjot penerimaan pajak. Plus, sumber pemasukan berkurang akibat dividen BUMN disedot sepenuhnya oleh Danantara.

Konflik Timur Tengah yang terjadi belakangan menambahkan satu poin lagi: beban subsidi membengkak lantaran pemerintah tak mau menaikkan harga BBM meski harga minyak dunia melambung.

Di sisi lain, OJK, BEI, dan KSEI baru saja mengetuk palu penyelesaian empat agenda reformasi transparansi pada 2 April 2026. Diantaranya publikasi daftar saham dengan High Shareholding Concentration (HSC).

Namun, langkah otoritas ini murni bersifat defensif, agar MSCI tidak membuang Indonesia ke indeks Frontier Market. Bagi investor asing, transparansi bursa hanyalah syarat administrasi untuk masuk. Sementara keputusan untuk tetap menaruh uangnya di Indonesia lebih didorong faktor tingkat imbal hasil yang disesuaikan dengan country risk.

Ini bukanlah ulah antek-antek asing. Tapi efek kacamata kuda yang dipakai pengelola negara.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Hobi Unik Bos Logisticsplus International (LOPI): Mencuci Mobil Sendiri Saat Weekend
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:28 WIB

Hobi Unik Bos Logisticsplus International (LOPI): Mencuci Mobil Sendiri Saat Weekend

Presiden Komisaris LOPI Arfindi Batubara punya hobi tak terduga: mencuci mobil sendiri. Ada pesan penting dari ayahnya di balik kebiasaan ini.

Rupiah Anjlok dan Kemasan Mahal, Peritel Mengerek Harga Jual Produk
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:26 WIB

Rupiah Anjlok dan Kemasan Mahal, Peritel Mengerek Harga Jual Produk

Tekanan biaya produksi ini memaksa pelaku industri pangan, UMKM, hingga peritel mengerek harga jual produk agar bisa bertahan.

Pemerintah Klaim Fiskal Aman, tapi Belum Mampu Redakan Kekhawatiran
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:23 WIB

Pemerintah Klaim Fiskal Aman, tapi Belum Mampu Redakan Kekhawatiran

Realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) per Mei 2026 mengalami defisit sebesar Rp 180,4 triliun

Regulasi Tarif Baru Tiket Pesawat Segera Terbit
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:20 WIB

Regulasi Tarif Baru Tiket Pesawat Segera Terbit

Pembahasan tarif baru pesawat sudah memasuki tahap akhir dan sinkronisasi antar kementerian sebelum ditetapkan

 Kuli Bongkar Muat Jadi Konglomerat
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:14 WIB

Kuli Bongkar Muat Jadi Konglomerat

Kisah hidup dan perjalanan karier Jerry Hermawan Lo dari kerja serabutan hingga menjadi bos JHL Group

Strategi Investasi Berubah Total, Arfindi Batubara Pilih Strategi Lebih Konservatif
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:00 WIB

Strategi Investasi Berubah Total, Arfindi Batubara Pilih Strategi Lebih Konservatif

Arfindi A. Batubara, Komisaris Utama LOPI, bagikan strategi jitu capai untung dari properti. Pelajari kunci diversifikasi asetnya sekarang

Industri Manufaktur di Balik Tekanan Rupiah
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 07:10 WIB

Industri Manufaktur di Balik Tekanan Rupiah

Ketergantungan industri manufaktur terhadap bahan baku impor menciptakan efek domino yang mematikan.

Miskin Se-Indonesia
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 07:05 WIB

Miskin Se-Indonesia

Jika ekonomi saat ini mengandalkan belanja pemerintah bukan lagi dari konsumsi publik yang tengah loyo berarti ekonomi sedang terganggu.

Kredibilitas Pasar Finansial RI Diuji: Siapkan Portofolio Anda!
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 07:00 WIB

Kredibilitas Pasar Finansial RI Diuji: Siapkan Portofolio Anda!

Pasar finansial meriang, reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap tawarkan imbal hasil menarik. Simak strategi analis

Rupiah Merosot, Bank Semakin Hati-hati Kucurkan Kredit
| Sabtu, 06 Juni 2026 | 06:50 WIB

Rupiah Merosot, Bank Semakin Hati-hati Kucurkan Kredit

Pelemahan nilai tukar rupiah mendorong perbankan memperketat penyaluran kredit valas demi menjaga kualitas aset.

INDEKS BERITA

Terpopuler