IHSG & Kacamata Kuda
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jangan menuding kondisi Timur Tengah sebagai penyebab utama portofolio saham Anda yang mungkin hancur saat ini. Sebab, banyak bursa saham negara lain yang kini berada di zona merah namun koreksinya masih terbilang wajar. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menjadi indeks saham dengan kinerja paling buruk di dunia: -18,7% secara year to date (YtD) 2 April 2026.
Kejatuhan indeks secara masif tentu pernah terjadi. Secara YtD, IHSG anjlok -27,9% hingga akhir Maret 2020. Namun konteks IHSG sebagai yang paling buruk sedunia di saat bursa negara lain relatif terjaga adalah kejadian yang sangat langka.
Apa yang terjadi saat ini juga bukan kepanikan membabi-buta seperti yang terjadi di awal pandemi Covid-19. Melainkan hasil perhitungan matang institusi pengelola dana terhadap kondisi spesifik Indonesia, yang sudah diwanti-wanti lembaga pemeringkat dan keuangan internasional sebelumnya.
Muaranya, ketidakpercayaan investor global terhadap kemampuan pemerintah mengelola kebijakan fiskal akibat program bombastis yang tidak realistis. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghabiskan anggaran Rp 335 triliun di APBN 2026. Meski belakangan penyaluran MBG dipangkas dari 6 hari jadi 5 hari, penghematannya cuma Rp 20 triliun, tak cukup signifikan.
Anggaran MBG yang kelewat besar mengebiri kapasitas APBN untuk membiayai program-program produktif. Di saat bersamaan, sulit menggenjot penerimaan pajak. Plus, sumber pemasukan berkurang akibat dividen BUMN disedot sepenuhnya oleh Danantara.
Konflik Timur Tengah yang terjadi belakangan menambahkan satu poin lagi: beban subsidi membengkak lantaran pemerintah tak mau menaikkan harga BBM meski harga minyak dunia melambung.
Di sisi lain, OJK, BEI, dan KSEI baru saja mengetuk palu penyelesaian empat agenda reformasi transparansi pada 2 April 2026. Diantaranya publikasi daftar saham dengan High Shareholding Concentration (HSC).
Namun, langkah otoritas ini murni bersifat defensif, agar MSCI tidak membuang Indonesia ke indeks Frontier Market. Bagi investor asing, transparansi bursa hanyalah syarat administrasi untuk masuk. Sementara keputusan untuk tetap menaruh uangnya di Indonesia lebih didorong faktor tingkat imbal hasil yang disesuaikan dengan country risk.
Ini bukanlah ulah antek-antek asing. Tapi efek kacamata kuda yang dipakai pengelola negara.
