Investor Super

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:10 WIB
Investor Super
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja (KONTAN/Indra Surya)]
Djumyati Partawidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia pada Senin pagi di akhir Juli ini, sepertinya akan menandai babak baru arsitektur keuangan nasional. Belum selesai dari kaget, belum dipilih Gubernur BI baru, dan juga di tengah tertekannya Rupiah, pemerintah menyodorkan skema koordinasi baru untuk menjaga kestabilan ekonomi: "KSSK Plus Danantara".

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, sang super-holding pengelola aset negara, diundang duduk bersama para penjaga garda makroprudensial, yaitu: Kementerian Keuangan, BI, OJK, dan LPS. 

Pemerintah berargumen pelibatan Danantara krusial untuk menyelaraskan kebijakan finansial dengan denyut sektor riil. Kendati Menteri Keuangan menegaskan posisi Danantara murni sebagai pemberi masukan tanpa hak suara, model baru ini memicu alarm waspada di kalangan pengamat dan dunia usaha. 

Memasukkan entitas pengelola investasi ke dalam forum pengawas (regulator) adalah eksperimen kelembagaan berisiko tinggi. Dalam teori pemisahan kelembagaan (institutional separation) diungkapkan: kebebasan penilaian stabilitas menuntut jarak tegas antara pemilik modal dan pembuat kebijakan. 

Ketika investor negara berada di meja rapat yang sama dengan regulator, garis batas itu berisiko memudar. Timbul bahaya moral hazard: jika portofolio Danantara di bank sistemik terancam, akankah keputusan krisis murni didasari proteksi publik atau pertimbangan penyelamatan modal negara? 

Dalam praktik global, model ini juga bisa dikatakan anomali. Sovereign Wealth Fund (SWF) kelas dunia, seperti Temasek di Singapura, GPFG di Norwegia, maupun Khazanah di Malaysia, secara disiplin dipisahkan dari dewan stabilitas dan otoritas moneter. Mengacu pada Prinsip-Prinsip Santiago, tata kelola SWF yang kredibel wajib menjaga independensi operasional dan bertindak atas pertimbangan komersial yang transparan. Tidak ada satu pun negara maju yang memberikan kursi bagi pengelola investasinya di dalam dewan pengawas stabilitas makroprudensial nasional. 

Stabilitas sistem keuangan dibangun di atas fondasi kepercayaan dan independensi lembaga. In this economy, di mana kepercayaan jadi barang mahal, pemerintah perlu menegaskan kembali batas kelembagaan dengan tegas. Ambisi mobilisasi kapital jangka pendek tidak boleh mengorbankan integritas tata kelola yang telah dibangun susah payah pasca-krisis 1998.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:21 WIB

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027

Pemerintah mulai membuka periode pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan mineral dan batubara tahun 2027 

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:04 WIB

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan

 PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menyambut mitra strategis yang akan mengakuisisi anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom). 

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:01 WIB

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026

PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) optimistis mencapai target pertumbuhan kinerja keuangan di sepanjang tahun ini dari ekspansi gerai Mitra10.

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:15 WIB

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%

Bali menunjukkan sumber pertumbuhan baru sudah muncul; yang dibutuhkan kini kecepatan, keberanian dan disiplin.

Fiskal Terjepit
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:05 WIB

Fiskal Terjepit

Tantangan APBN bukan memilih antara subsidi energi dan bansos, tapi memastikan keduanya berjalan efektif tanpa mengabaikan keberlanjutan fiskal.

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:01 WIB

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global

Risiko outflow membayangi emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi (HSC) yang masuk ke indeks global

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:56 WIB

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati

Di tengah pelemahan IHSG pada perdagangan Selasa (13/10), dana asing tercatat net buy sebesar Rp 570,4 miliar.  

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T

Jika Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) digunakan, akan diperoleh penghematan nilai subsidi sebesar Rp 28,54 triliun. 

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November

Sentimen global yang membaik belum tentu cukup untuk memicu reli IHSG secara berkelanjutan selama ketidakpastian terkait MSCI belum terjawab.

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis

Emiten dengan merek yang kuat, jaringan distribusi luas, dan efisiensi operasional lebih berpeluang menjaga kinerja fundamentalnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler