Jadi Momentum Baik
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel membawa dampak besar. Salah satunya, pasokan minyak dan bahan baku plastik terganjal, berujung pada lonjakan harga. Tapi, efek konflik di Timur Tengah juga menjadi momentum untuk merawat Bumi.
Pasokan minyak dan bahan baku plastik dari Timur Tengah tersendat akibat Iran masih menutup Selat Hormuz. Perairan ini merupakan jalur perdagangan bagi 20% minyak dunia. Lalu, industri plastik negara kita membutuhkan nafta yang saat ini masih 100% impor, dan 70%-nya berasal dari Timur Tengah.
Memang, tidak seperti negara lain, harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, baik subsidi maupun nonsubsidi, tidak naik. Tapi, pemerintah sudah melakukan langkah-langkah penghematan untuk menekan konsumsi bensin dan solar. Misalnya, membatasi pembelian BBM maksimal 50 liter per hari, kecuali untuk angkutan umum.
Sebaliknya, harga plastik di dalam negeri naik gila-gilaan, hingga 100%, akibat lonjakan harga bahan baku. Efek berikutnya adalah, harga produk yang menggunakan kemasan plastik, terutama makanan dan minuman, ikutan menanjak.
Tapi, kondisi ini justru menjadi momentum untuk meningkatkan adopsi kendaraan listrik dan penggunaan plastik daur ulang, yang tentu, lebih ramah lingkungan. Pengurangan konsumsi BBM bisa memangkas emisi. Dan pengurangan penggunaan plastik mengurangi pencemaran lingkungan.
Adopsi mobil listrik, memang, dalam tren meningkat. Ini tampak dari penjualan mobil listrik berbasis baterai yang melonjak drastis hampir 100%, persisnya 95,9%, selama kuartal I-2026 menjadi 33.150 unit. Kontribusinya pun naik hampir dua kali lipat menjadi 15,9% dari total penjualan mobil nasional.
Cuma, penjualan sepeda motor listrik belum melaju kencang. Meski, ada lonjakan penjualan menyusul isu kenaikan harga BBM. Adalah langkah tepat, pemerintah memberi lagi subsidi pembelian motor setrum. Kebijakan ini terbukti mendorong penjualan motor listrik.
Juga, jadi momentum untuk meningkatkan penggunaan plastik daur ulang. Apalagi, kapasitas industri daur ulang domestik mencapai 2 juta ton per tahun, tapi baru terpakai 1,5 juta ton. Sayangnya, regulasi belum mendukung, bahkan masih ada disinsentif seperti pajak untuk industri daur ulang. Padahal, kalau beroperasi penuh, sampah-sampah di TPA bisa diproses menjadi barang plastik dengan harga dan kualitas yang bisa diterima pasar.
