Jadi Momentum Baik

Rabu, 15 April 2026 | 06:10 WIB
Jadi Momentum Baik
[ILUSTRASI. TAJUK - SS kurniawan (KONTAN/Steve GA)]
S.S. Kurniawan | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel membawa dampak besar. Salah satunya, pasokan minyak dan bahan baku plastik terganjal, berujung pada lonjakan harga. Tapi, efek konflik di Timur Tengah juga menjadi momentum untuk merawat Bumi.

Pasokan minyak dan bahan baku plastik dari Timur Tengah tersendat akibat Iran masih menutup Selat Hormuz. Perairan ini merupakan jalur perdagangan bagi 20% minyak dunia. Lalu, industri plastik negara kita membutuhkan nafta yang saat ini masih 100% impor, dan 70%-nya berasal dari Timur Tengah. 

Memang, tidak seperti negara lain, harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, baik subsidi maupun nonsubsidi, tidak naik. Tapi, pemerintah sudah melakukan langkah-langkah penghematan untuk menekan konsumsi bensin dan solar. Misalnya, membatasi pembelian BBM maksimal 50 liter per hari, kecuali untuk angkutan umum.

Sebaliknya, harga plastik di dalam negeri naik gila-gilaan, hingga 100%, akibat lonjakan harga bahan baku. Efek berikutnya adalah, harga produk yang menggunakan kemasan plastik, terutama makanan dan minuman, ikutan menanjak.

Tapi, kondisi ini justru menjadi momentum untuk meningkatkan adopsi kendaraan listrik dan penggunaan plastik daur ulang, yang tentu, lebih ramah lingkungan. Pengurangan konsumsi BBM bisa memangkas emisi. Dan pengurangan penggunaan plastik mengurangi pencemaran lingkungan.

Adopsi mobil listrik, memang, dalam tren meningkat. Ini tampak dari penjualan mobil listrik berbasis baterai yang melonjak drastis hampir 100%, persisnya 95,9%, selama kuartal I-2026 menjadi 33.150 unit. Kontribusinya pun naik hampir dua kali lipat menjadi 15,9% dari total penjualan mobil nasional.

Cuma, penjualan sepeda motor listrik belum melaju kencang. Meski, ada lonjakan penjualan menyusul isu kenaikan harga BBM. Adalah langkah tepat, pemerintah memberi lagi subsidi pembelian motor setrum. Kebijakan ini terbukti mendorong penjualan motor listrik.

Juga, jadi momentum untuk meningkatkan penggunaan plastik daur ulang. Apalagi, kapasitas industri daur ulang domestik mencapai 2 juta ton per tahun, tapi baru terpakai 1,5 juta ton. Sayangnya, regulasi belum mendukung, bahkan masih ada disinsentif seperti pajak untuk industri daur ulang. Padahal, kalau beroperasi penuh, sampah-sampah di TPA bisa diproses menjadi barang plastik dengan harga dan kualitas yang bisa diterima pasar.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:21 WIB

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027

Pemerintah mulai membuka periode pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan mineral dan batubara tahun 2027 

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:04 WIB

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan

 PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menyambut mitra strategis yang akan mengakuisisi anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom). 

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:01 WIB

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026

PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) optimistis mencapai target pertumbuhan kinerja keuangan di sepanjang tahun ini dari ekspansi gerai Mitra10.

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:15 WIB

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%

Bali menunjukkan sumber pertumbuhan baru sudah muncul; yang dibutuhkan kini kecepatan, keberanian dan disiplin.

Fiskal Terjepit
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:05 WIB

Fiskal Terjepit

Tantangan APBN bukan memilih antara subsidi energi dan bansos, tapi memastikan keduanya berjalan efektif tanpa mengabaikan keberlanjutan fiskal.

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:01 WIB

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global

Risiko outflow membayangi emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi (HSC) yang masuk ke indeks global

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:56 WIB

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati

Di tengah pelemahan IHSG pada perdagangan Selasa (13/10), dana asing tercatat net buy sebesar Rp 570,4 miliar.  

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T

Jika Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) digunakan, akan diperoleh penghematan nilai subsidi sebesar Rp 28,54 triliun. 

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November

Sentimen global yang membaik belum tentu cukup untuk memicu reli IHSG secara berkelanjutan selama ketidakpastian terkait MSCI belum terjawab.

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis

Emiten dengan merek yang kuat, jaringan distribusi luas, dan efisiensi operasional lebih berpeluang menjaga kinerja fundamentalnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler