Jalan ITMG di Semester II-2026 Makin Ringan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten yang bergerak pada produksi batubara, PT Indo Tambangaya Megah Tbk (ITMG), menjadi salah satu yang paling banyak diakumulasi sahamnya pada perdagangan Senin (3/4) lalu. Nilai akumulasi yang tercatat pada periode tersebut mencapai Rp 32,90 miliar.
Minat asing pada saham ITMG mampu mempertahankannya di zona hijau pada penutupan perdagangan Selasa (4/8). Harga saham ITMG terlihat menguat 0,81% ke level Rp 24.825, melanjutkan penguatan yang tercetak di seminggu terakhir yang sebesar 2,48% dan sebulan yang sudah terbang 10,21%. Bahkan dalam rentang sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD), saham ITMG juga konsisten berada di zona hijau, atau sudah membumbung 13,49%.
Dalam kacamata Head of Research Korea Investment & Indonesia Sekuritas Muhammad Wafi, minat asing memburu saham ITMG memang beralasan. Harga batu bara Newcastle yang masih bertahan di atas US$ 150 per ton, hal ini pun membuat ITMG yang bergerak di produksi batubara menjadi menarik.
Baca Juga: Terselamatkan Tingginya Harga Batubara dan Nikel
Kenaikan harga batubara gobal tersebut terjadi akibat premi risiko geopolitik serta meningkatnya kebutuhan listrik berbasis batu bara untuk menopang pusat data dan perkembangan artificial intelligence (AI).
Selanjutnya, adanya revisi kebijakan RKAB pada Juli yang membuka peluang bagi produsen tambang bisa meningkatkan volume produksinya di semester II-2026 ini. Para pelaku bisnis tambang tak menampik bahwa kebijakan RKAB sempat membuat produksi tertahan di semester I-2026.
Dua poin tersebut makin menarik karena ITMG sebagai emiten besar memiliki daya tarik dividen tertinggi di sektor batubara. Secara historis perusahaan membagikan dividend payout ratio lebih dari 80%, sehingga menarik bagi investor yang mencari pendapatan dividen.
“Investor saat ini melakukan positioning untuk memanfaatkan potensi pemulihan laba pada semester II sekaligus dividend yield yang masih sangat menarik di level harga sekarang,” ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (4/8).
Pandangan ini juga tercermin dalam riset NH Korindo Sekuritas Indonesia yang tayang pada pertengahan Juni 2026 lalu.
Menurut Senior Research Analyst Mining & Property NH Korindo Axell Ebenhaezer dan Research Associate NH Korindo Kevin Pratama menuturkan bahwa walau pun laba bersih ITMG pada kuartal I-2026 turun 14,7% YoY menjadi Rp 921,1 miliar, pencapaian tersebut justru lebih baik dari ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan lebih dalam akibat pembatasan RKAB. Pendapatan bahkan masih tumbuh 3% year on year (YoY) menjadi Rp8,37 triliun.
