Ketika Ekonomi Biru Kehilangan Arah
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pagi belum sepenuhnya terang ketika seorang nelayan sungai di Jakarta menarik jalanya. Tidak ada ikan belida, tidak pula ada baung yang dulu menjadi penopang lauk keluarga. Yang memenuhi jala justru ikan sapu-sapu, yang keras, tidak laku dijual, dan berisiko jika dikonsumsi. Jaringnya robek. Waktunya habis. Pendapatan nihil. Hari itu, sungai tidak memberi apa-apa.
Pengalaman serupa dialami nelayan kecil di banyak perairan darat Indonesia. Inilah sisi paling nyata dari paradoks insentif dalam ekonomi biru (blue economy), ketika jargon keberlanjutan terdengar lantang, tetapi nelayan justru kehilangan hasil. Itulah dampak keberadaan spesies invasif yang tidak terkelola dengan baik.
