Koneksi & Kompetensi

Rabu, 01 Juli 2026 | 06:10 WIB
Koneksi & Kompetensi
[ILUSTRASI. Adi Wikanto (KONTAN/Indra Surya)]
Adi Wikanto | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Undang-Undang (UU) BUMN yang terakhir kali diubah melalui UU Nomor 16 Tahun 2025 mengamanatkan tugas komisaris terdiri dari dua. Pertama, melakukan pengawasan. Kedua, memberikan nasihat kepada direksi dalam penyelenggaraan perusahaan. Dengan tugas yang sepenting itu, seharusnya hanya orang dengan kompetensi tinggi dan berpengalaman yang layak mengembannya. 

Namun UU hanyalah susunan kata yang mudah diabaikan pemerintah. Seperti yang belakangan terjadi, Mufli Budi Ananda ditunjuk menjadi Komisaris PT Krakatau Posco. Tentu menjadi pertanyaan, kenapa mantan asisten pribadi presenter sekaligus Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad ini bisa menduduki jabatan penting yang notabene harus mengawasi aset bernilai triliunan rupiah.

Mufli bukan satu-satunya orang dekat Raffi yang mendapat jabatan penting. Sebelumnya, adik ipar Raffi, Barry Tamin diberi jabatan Komisaris PT Sarinah. Kemudian, kakak ipar Raffi, Tubagus Fiki Chikara Satari menjadi Direktur Utama Pengganti Antarwaktu (PAW) TVRI.

Pemerintah memang memiliki hak menunjuk komisaris BUMN. Namun hak itu seharusnya digunakan berdasarkan kompetensi, pengalaman, integritas, dan kebutuhan perusahaan, bukan karena hubungan personal. Jika prosesnya tidak transparan, publik tidak percaya bahwa penunjukan tersebut benar-benar melalui mekanisme yang profesional.

Ironisnya, pemerintah selama ini gencar berbicara mengenai meritokrasi, reformasi birokrasi, dan penerapan good corporate governance. Namun, ketika penunjukan komisaris justru menimbulkan pertanyaan publik, slogan-slogan itu terdengar seperti materi presentasi yang indah, tetapi lupa diterapkan di ruang rapat.

BUMN bukan perusahaan keluarga, bukan pula panggung untuk membagikan penghargaan kepada orang-orang terdekat. BUMN mengelola uang negara, menjalankan proyek strategis, dan menjadi penopang ekonomi nasional. Kesalahan memilih komisaris bukan hanya berdampak pada satu perusahaan, tetapi juga dapat mengurangi kepercayaan investor terhadap tata kelola Indonesia.

Pemerintah semestinya menyadari bahwa kepercayaan publik jauh lebih mahal daripada sekadar memenuhi kepentingan politik atau kedekatan pribadi. Bila memang seseorang dipilih karena memiliki kompetensi, bukalah prosesnya secara transparan. Tunjukkan rekam jejak, pengalaman, dan alasan objektif di balik keputusan tersebut. Pastikan pula, kompetensi tidak kalah oleh koneksi.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 13:18 WIB

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?

Saat tren bunga tinggi, apakah saat yang tepat untuk mengambil KPR? Simak saran dari perencana keuangan.

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi
| Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00 WIB

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi

Saat ini revisi UU Sisdiknas belum mengatur mengenai putusan MK yang mewajibkan pemerintah menggratiskan biaya pendidikan dasar.

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing
| Rabu, 22 Juli 2026 | 09:08 WIB

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing

Di tengah optimisme terhadap proyek CA-EDC, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada strategi pendanaan yang dipilih TPIA.

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:32 WIB

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?

Kenaikan harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga dipicu sentimen pasar dan aksi bargain hunting.

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:30 WIB

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie

Analis menilai penguatan serentak kelima saham Grup Bakrie tak lepas dari sentimen risk-on yang sedang menyelimuti pasar secara keseluruhan.

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:27 WIB

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat

Kerja sama ini memperluas distribusi, memperkuat rantai pasok emas  dan meningkatkan akses terhadap emas melalui pembiayaan syariah. 

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:08 WIB

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?

Rally saham  PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) yang telah berlangsung selama berbulan-bulan membuka peluang terjadinya profit taking.

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:58 WIB

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, investor juga perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek.

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:19 WIB

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II

Perusahaan tetap berfokus merealisasikan target ekspansi yang telah ditetapkan sejak awal tahun, yakni menambah 300–400 gerai baru sepanjang 2026.

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:14 WIB

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat

IHSG Rabu (22/7) masih berpeluang menguat, dengan level support 6.240-6.250 dan resistance di 6.390-6.400.​

INDEKS BERITA

Terpopuler