Lebaran Lewat, Apa Lagi?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Euforia Idul Fitri 1447 H yang jatuh pada 20 Maret 2026 menyisakan residu ekonomi yang cukup menantang bagi rumah tangga. Sepekan setelah puncak konsumsi, fenomena kekeringan likuiditas atau cash crunch rumah tangga mulai menghantui. Pasalnya, Tunjangan Hari Raya (THR) yang mengguyur rekening sejak dua pekan lalu, telah terkuras habis untuk kebutuhan mudik dan konsumsi Lebaran.
Data perputaran uang selama periode Lebaran 2026 diperkirakan melesat di atas Rp 150 triliun, namun sisi gelapnya adalah terjadinya fenomena dissaving alias makan tabungan. Bagi bagi pengabdi gaji, kini likuiditas berada di titik nadir.
Ketidakmampuan mengelola arus kas di pekan pertama Syawal ini bukan sekadar masalah domestik. Perbankan dan multifinance biasanya mulai memantau ketat kualitas kredit di periode ini. Potensi keterlambatan pembayaran cicilan kendaraan bermotor maupun kartu kredit bakal meningkat saat masyarakat terjepit di antara sisa ongkos operasional harian.
Sektor ritel akan merasakan fase cooling down. Setelah volume penjualan melesat tajam pekan ketiga Maret, kini permintaan balik normal. Masyarakat mulai membatasi belanja keinginan dan kembali fokus pada belanja kebutuhan yang masih terdongak akibat inflasi musiman transportasi dan pangan.
Jika fenomena cash crunch ini meluas, konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026 bisa mengalami perlambatan pertumbuhan. Perlu diingat, konsumsi adalah penopang utama produk domestik bruto (PDB) Indonesia dengan kontribusi lebih dari 50%. Penurunan daya beli pasca Lebaran yang terlalu dalam dapat menekan optimisme pelaku usaha yang baru saja memacu kapasitas produksinya.
Karena itu, pekan ini menjadi fase krusial bagi rumah tangga untuk melakukan pengetatan ikat pinggang. Menghindari jebakan pinjaman instan (pinjol) dengan bunga tinggi adalah kunci agar defisit likuiditas sementara ini tidak berubah menjadi utang sistemik yang merusak skor kredit jangka panjang.
Di tengah risiko krisis energi global dan risiko imported inflation, pemerintah wajib perlu menebalkan bantalan sosial serta percepatan realisasi belanja negara untuk menjaga daya pasca-Lebaran. Langkah taktis melalui stabilisasi kurs Rupiah dan efisiensi subsidi energi menjadi krusial agar mesin konsumsi tidak anjlok, dan memastikan defisit anggaran tetap terjaga di bawah ambang batas 3% PDB. Selamat Lebaran dan aktivitas normal lagi!
