MBG ke Luar Negeri

Selasa, 02 Juni 2026 | 06:10 WIB
MBG ke Luar Negeri
[ILUSTRASI. TAJUK - Barratut Taqiyyah (KONTAN/Praksa Partajaya)]
Barratut Taqiyyah Rafie | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gagasan menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Indonesia Jeddah, Arab Saudi, untuk anak-anak pekerja migran Indonesia membuka diskusi baru mengenai arah dan cakupan salah satu program unggulan pemerintah. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan kemungkinan menjadikan Sekolah Indonesia Jeddah sebagai proyek percontohan pertama MBG di luar negeri. Alasannya sederhana, para siswa yang merupakan WNI ingin merasakan program yang sama seperti teman-teman mereka di Tanah Air. 

Secara prinsip, argumentasi tersebut dapat dipahami. Anak-anak Indonesia yang bersekolah di luar negeri tetap merupakan warga negara yang berhak memperoleh perhatian negara. Namun, karena MBG merupakan program strategis nasional dengan kebutuhan anggaran yang besar, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka alasan, prioritas, dan tujuan apabila program ini mulai diperluas ke luar negeri. Pertanyaan yang muncul adalah apakah perluasan tersebut sudah menjadi prioritas ketika pelaksanaan program di dalam negeri masih menghadapi berbagai tantangan.

Publik masih menyaksikan berbagai persoalan dalam implementasi MBG, mulai dari kesiapan infrastruktur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kualitas distribusi makanan, pengawasan keamanan pangan, hingga cakupan penerima manfaat yang belum sepenuhnya merata. Berbagai kendala tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan rumah program ini belum sepenuhnya selesai.

Di tengah kondisi tersebut, wajar jika muncul pertanyaan mengenai prioritas penggunaan sumber daya negara. Bukan karena menolak manfaat program bagi anak-anak Indonesia di Jeddah, melainkan karena setiap perluasan kebijakan perlu mempertimbangkan kebutuhan yang masih harus diselesaikan di dalam negeri.

Pemerintah juga perlu menjelaskan batasan kebijakan ini. Jika dasar pemberian MBG adalah status kewarganegaraan, maka tuntutan serupa berpotensi muncul dari sekolah-sekolah Indonesia di negara lain. Karena itu, kriteria dan cakupan program perlu dirumuskan secara jelas agar tidak menimbulkan ketidakpastian maupun ekspektasi yang sulit dipenuhi di kemudian hari. 

Setiap rencana perluasan harus disertai penjelasan yang transparan mengenai manfaat, urgensi, dan prioritasnya. Sebelum melangkah ke luar negeri, pemerintah perlu memastikan fondasi pelaksanaan program di dalam negeri benar-benar kuat.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Indonesia Tetap di Emerging Market, MSCI Beri Sorotan, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 24 Juni 2026 | 08:06 WIB

Indonesia Tetap di Emerging Market, MSCI Beri Sorotan, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Kemarin investor asing mencatatkan aksi jual bersih alias net sell Rp 311,55 miliar. Empat hari terakhir net sell menyentuh Rp 4,73 triliun.

King Tyre Indonesia (TYRE) Kejar Target Penjualan Tumbuh 5%
| Rabu, 24 Juni 2026 | 08:02 WIB

King Tyre Indonesia (TYRE) Kejar Target Penjualan Tumbuh 5%

Pada tahun ini, TYRE juga berupaya mengoptimalkan penjualan ban untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

GGRM Bakal Bagi Dividen Rp 800 Per Saham, Blackrock Hingga WisdomTree Akumulasi
| Rabu, 24 Juni 2026 | 08:00 WIB

GGRM Bakal Bagi Dividen Rp 800 Per Saham, Blackrock Hingga WisdomTree Akumulasi

RUPST menyetujui penggunaan Rp 1,54 triliun atau setara Rp 800 per saham dari keuntungan tahun buku 2025 sebagai dividen tunai.

Kawasan GBK Bakal Menjadi Pusat Sport Tourism
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:29 WIB

Kawasan GBK Bakal Menjadi Pusat Sport Tourism

Danantara juga berpeluang merobohkan Hotel Sultan yang selama ini dikelola oleh pihaaaak PT Indobuildco.

Optimalisasi Dana Haji Kian Mendesak
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:24 WIB

Optimalisasi Dana Haji Kian Mendesak

Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanul Haq mendorong BPKH agar semakin independen dan mandiri dalam mengelola dana haji

Daya Beli Masyarakat Loyo, Jakarta dan Jawa Masih Jadi Penopang Penjualan ACES
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:22 WIB

Daya Beli Masyarakat Loyo, Jakarta dan Jawa Masih Jadi Penopang Penjualan ACES

SSSG ACES tumbuh 2,1% hingga Mei 2026. Wilayah Jakarta dan Jawa jadi penopang utama, sedangkan luar Jawa masih tertekan. 

Regulasi Koperasi Saat Ini Sudah Tidak Relevan
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:19 WIB

Regulasi Koperasi Saat Ini Sudah Tidak Relevan

Parlemen sedang menggodok revisi UU Koperasi agar sesuai dengan tuntutan ekonomi modern dan teknologi digital

MSCI Perpanjang Indonesia di Emerging Market, Cek Proyeksi IHSG Hari Ini
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:14 WIB

MSCI Perpanjang Indonesia di Emerging Market, Cek Proyeksi IHSG Hari Ini

MSCI memperpanjang peninjauan status Indonesia sebagai ekonomi emerging market. Indonesia bisa ke frontier (perbatasan), jika tidak ada kemajuan.

Ada Peluang Harga Pertamax Turun
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:10 WIB

Ada Peluang Harga Pertamax Turun

Melandainya harga energi di pasar global dinilai dapat dimanfaatkan untuk menyelaraskan harga pasar Pertamax

Likuiditas Belum Tunjukkan Ekonomi Kuat
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:08 WIB

Likuiditas Belum Tunjukkan Ekonomi Kuat

Uang beredar dalam arti luas (M2) per Mei 2026 mencapai Rp 10.415,9 triliun, atau tumbuh 10,8% secara tahunan.

INDEKS BERITA

Terpopuler