Memahami Perbedaan Antara Nilai Saham dan Harga Saham

Senin, 19 Juni 2023 | 09:42 WIB
Memahami Perbedaan Antara Nilai Saham dan Harga Saham
[ILUSTRASI. ANALISIS - Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri]
Hans Kwee | Co Founder Pasar Dana, Dosen Magister Ekonomi Atma Jaya dan Trisakti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam sosialisasi terkait investasi saham, penulis mendapatkan beberapa pertanyaan menarik. Ada peserta yang berpendapat saham  Rp 100 lebih murah daripada saham dengan harga Rp 10.000..

Pertanyaan ini terlihat sederhana. Namun, ada beberapa konsep yang perlu dijelaskan. Secara absolut, benar Rp 10.000 lebih mahal daripada Rp 100. 
Seandainya harga rumah Rp 500 juta dan motor Rp 20 juta  secara absolut motor lebih murah.

Tapi bila keduanya dibandingkan dengan manfaat, mungkin berbeda. Rumah untuk tempat tinggal,  motor untuk transportasi.

Bila  ditukar dengan manfaat mobil dan motor, keduanya untuk transportasi. Apakah mobil lebih mahal dibandingkan motor? Belum tentu. Mobil menawarkan fitur kenyamanan, keamanan sedangkan motor menawarkan kecepatan dan fleksibilitas. Artinya harga mewakili apa yang kita dapat. Jadi harga sama dengan nilai yang kita dapat.

Untuk menentukan barang mahal dan murah kita harus memahami kondisi ideal atau harga pasar. Seandainya harga pasar mobil Rp 350 juta dan motor Rp  18 juta, bila mobil dijual Rp 300 juta, dapat dikatakan murah. Sedangkan motor Rp 20 juta mahal karena harga pasar Rp 18 juta.

Baca Juga: IHSG Menanti Sikap The Fed

Sampai di sini masuk akal. Tapi perlu perhatikan kondisi fisik kendaraan. Bisa jadi mobil Rp 300 juta itu kondisinya lebih buruk, sehingga harga murah dari harga pasar.  Sedangkan motor Rp 20 juta, kondisinya baik, sehingga harganya lebih tinggi dibandingkan harga pasar.

Idealnya, harga sama dengan nilai yang didapatkan. Harga pasar saham harga mewakili apa yang disepakati atau menjadi konsensus pasar. Harga saham mewakili konsesus para pelaku pasar berdasarkan data dan informasi yang dimiliki.

Harga kesepakatan apakah sama dengan nilai yang kita dapatkan. Seandainya hari ini harga cabai keriting di pasar Rp 50.000 per kilogram (kg). Artinya saat ini kita dapat membeli cabai keriting Rp 50.000 per kg. 

Tapi karena kenaikan permintaan menjelang Hari Raya dan penurunan penawaran akibat gangguan pasokan harga cabai keriting naik menjadi Rp 100.000 per kg.

Terjadi kenaikan harga padahal kemungkinan cabai keriting yang kita terima sama. Artinya ketika harga barang atau jasa meningkat belum tentu kualitas barang  juga meningkat.

Hal ini yang menjelaskan, harga mungkin berbeda dengan nilai yang didapatkan. Harga saham di pasar merupakan harga hasil konsensus pelaku pasar. Berdasarkan informasi dan data pelaku pasar, melakukan transaksi jual dan beli dan harga kesepakatan menjadi harga pasar. 

Ini sangat dipengaruhi psikologi dan sentimen. Ketika pasar saham optimistis,  harga saham naik sedangkan bila pasar pesimistis harga saham cenderung turun.

Minimal ada 4 konsep harga. Mulai harga nominal saham, harga buku, harga pasar dan harga atau nilai intrinsik. 

Baca Juga: Awal Pekan, Rekomendasi Saham Hari Ini Bisa Menjadi Pilihan, Ada Delapan Emiten

Harga nominal adalah nilai per saham dari perusahaan, dinyatakan di akta pendirian. Nilai nominal mewakili nilai modal disetor. Nilai ini biasa berbeda dengan harga buku, harga pasar. Dalam perjalanan,  perusahaan melakukan operasi dan mendapat keuntungan. 

Akumulasi keuntungan ini ada pos laba ditahan. Bila membagi nilai buku ini dengan jumlah saham, akan mendapat nilai buku perusahaan. Nilai buku mencerminkan nilai ekuitas, hasil pengurangan aset terhadap total kewajiban. Dalam perusahaan yang kompleks karena aksi korporasi, menjadi sulit bagi kita membedakan nilai nominal saham dengan nilai buku.

Nilai intrinsik mewakili nilai yang sebenarnya diterima investor atau pemegang saham. Ini hasil perhitungan risiko dan tingkat pengembalian di masa mendatang. Nilai ini dapat berbeda dengan nilai buku dan nilai pasar sebuah saham sehingga menimbulkan peluang keuntungan dan risiko di masa depan.

Bila harga pasar lebih tinggi dari intrinsik, sebuah saham dianggap overvalue. Bila sebaliknya, dianggap undervalue. Bila sama, dianggap fair value.

Ada beberapa pendekatan menentukan nilai intrinsik. Mulai dari asset based, discounted cash flow dan relative valuation. Dari asset based model, nilai buku  sering tidak mencerminkan harga pasar. Nilai buku mencatat harga atau aset berdasarkan harga perolehan.

Padahal harga perolehan bisa berbeda jauh dengan harga pasar barang atau aset. Dengan mengubah harga aset ke harga pasar, investor dapat menghitung nilai intrinsik berdasarkan pendekatan asset based.

Masalahnya, aset memiliki manfaat di masa depan. Untuk menentukan nilai perusahaan yang menghasilkan manfaat di masa depan kita perlu memperhitungkan semua potensi perusahaan.

Potensi sering diubah menjadi potensi penerimaan arus kas di masa depan. Dengan mendiskon potensi arus kas dengan risiko ketidakpastian di masa depan kita mendapatkan nilai intrinsik.

Model lain, konsep satu harga. Aset atau perusahaan bila memiliki bentuk, manfaat, ukuran, lokasi sama, seharusnya harga sama. Jadi membandingkan perusahaan sejenis, investor dapat memperkirakan nilai intrinsik sebuah perusahaan relatif terhadap perusahaan sejenis. Konsep ini nilai relatif bukan absolut seperti dua konsep sebelumnya.

Jadi harga saham Rp 100 belum tentu lebih murah dibanding harga Rp 10.000, karena tergantung yang didapat. Ini dihitung dengan membandingkan harga terhadap nilai intrinsik.            

Bagikan

Berita Terbaru

Di Balik Rencana Arsari Kibarkan Bisnis Digital
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:51 WIB

Di Balik Rencana Arsari Kibarkan Bisnis Digital

Saat ekonomi global sarat tantangan, Arsari Group justru tancap gas untuk membangun bisnis infrastruktur digital.

 
Peta Baru Bisnis Teh usai Peracik Sariwangi Berganti
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:48 WIB

Peta Baru Bisnis Teh usai Peracik Sariwangi Berganti

Pergantian kepemilikan merek teh Sariwangi akan menandai babak baru industri teh Indonesia, di tengah ketatnya persaingan.

 
Peluang Cuan Padel: Pengusaha Raup Untung dari Jasa Sewa Raket Premium
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:44 WIB

Peluang Cuan Padel: Pengusaha Raup Untung dari Jasa Sewa Raket Premium

Olahraga padel tak hanya bikin sehat dan bikin dompet tebal. Setelah ramai sewa lapangan padel, kini ramai jasa penyewa.

Luka Etika Demokrasi
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:42 WIB

Luka Etika Demokrasi

Ingatan kolektif masyarakat Indonesia pendek dan kerap bekerja selektif. Peristiwa besar yang sempat mengguncang ruang publik perlahan pudar.

Utang Luar Negeri Dalam Tren Menurun
| Minggu, 18 Januari 2026 | 10:00 WIB

Utang Luar Negeri Dalam Tren Menurun

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per akhir November 2025, ULN sebesar US$ 424,9 miliar, turun berturut-turut sejak Juni 2025.

Investasi Asing Tertahan, Domestik Jadi Bantalan
| Minggu, 18 Januari 2026 | 09:00 WIB

Investasi Asing Tertahan, Domestik Jadi Bantalan

Realisasi investasi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun, atau tumbuh 12,7% secara tahunan.

Punya Cuan Menarik, Investasi Jam Tangan Mewah Masih Diminati
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:17 WIB

Punya Cuan Menarik, Investasi Jam Tangan Mewah Masih Diminati

Minat untuk mengoleksi hingga investasi menjaga permintaan atas investasi jam tangan mewah di Indonesia

CYBR Akan Memperluas Jangkauan Pasar Keamanan Siber
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:13 WIB

CYBR Akan Memperluas Jangkauan Pasar Keamanan Siber

PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) membidik pendapatan lebih kuat dengan memperluas jangkauan ke berbagai negara

Prospek Bank Digital 2026: Kredit Diproyeksi tumbuh 11%, Sementara Laba Naik 5%
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:04 WIB

Prospek Bank Digital 2026: Kredit Diproyeksi tumbuh 11%, Sementara Laba Naik 5%

Sejumlah emiten bank digital mulai mencatatkan kenaikan harga disertai peningkatan volume transaksi, menandakan adanya akumulasi jangka pendek.

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:10 WIB

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit

Manajemen HALO menjalankan strategi efisiensi biaya secara berkelanjutan, khususnya pada cost of production

INDEKS BERITA