Menakhodai Harga Komoditas: Mengakhiri Kutukan Raksasa yang Didikte
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada sebuah ironi yang menggelayuti ekonomi Indonesia selama berdekade-dekade: kita adalah "raksasa" dalam produksi, namun "kerdil" dalam penentuan harga. Dalam literatur ekonomi politik, fenomena ini dikenal sebagai kegagalan domestic price discovery. Kita memiliki barangnya, menguasai cadangannya, mengekstraksi nilainya, tetapi tragisnya, entitas luar jurisdiksilah yang menentukan harganya di layar perdagangan ribuan kilometer dari tanah air.
Lihatlah fakta di lapangan yang memukul kesadaran kolektif kita. Minyak bumi kita mengacu pada Mean of Platts Singapore (MOPS). Sawit kita (CPO) -- meski kita adalah produsen terbesar di dunia yang menguasai mayoritas pasokan global -- masih berkiblat pada bursa derivatif di Malaysia (BMD) dan Rotterdam. Kini, nikel yang kita banggakan sebagai "emas baru" dan tulang punggung ekosistem kendaraan listrik (EV) pun harganya didikte oleh fluktuasi spekulatif di London Metal Exchange (LME) dan dinamika permintaan industri di China. Indonesia terjebak dalam posisi abadi sebagai price taker. Sampai kapan kita membiarkan nilai kekayaan alam Nusantara ditentukan oleh mekanisme pasar di luar kedaulatan kita sendiri?
