Menjembatani Jurang

Kamis, 19 Februari 2026 | 03:09 WIB
Menjembatani Jurang
[ILUSTRASI. TAJUK - Hendrika Yunapritta (KONTAN/Indra Surya)]
Hendrika Yunapritta | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada paradoks yang menyesakkan dalam potret ketenagakerjaan kita hari ini. Di satu sisi, angka pengangguran terdidik terus bertambah, di sisi lain, sektor industri justru kesulitan menemukan tenaga kerja dengan kompetensi yang pas. Laporan terbaru dari Mandiri Institute mengonfirmasi titik lemah ini: terjadi kesenjangan tajam antara apa yang diajarkan di bangku kuliah dengan kebutuhan lapangan kerja. Fenomena ini bukan lagi sekadar hambatan teknis, melainkan rem darurat bagi pertumbuhan ekonomi nasional. 

Kita harus berani jujur bahwa ijazah sering kali hanya menjadi potret masa lalu, bukan jaminan masa depan. Mandiri Institute mencatat bahwa lebih dari 50% perusahaan mengaku kesulitan mendapatkan kandidat dengan keahlian digital dan soft skills yang mumpuni, meskipun pelamar dengan gelar sarjana membanjir.  Ruang kelas kita terlalu sibuk dengan teori statis, sementara industri bergerak dengan cepat, didorong oleh kecerdasan buatan (AI) dan otomasi.

Akar masalahnya adalah "benang kusut" koordinasi. Program Link and Match yang bertahun-tahun didengungkan acap kali hanya berakhir sebagai seremoni penandatanganan nota kesepahaman tanpa eksekusi yang substantif. Kurikulum pendidikan masih kaku dan birokratis untuk beradaptasi dengan tren industri yang cepat berubah. Akibatnya, lulusan kita keluar dari kampus membawa senjata kedaluwarsa untuk bertempur di medan perang ekonomi modern.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan institusi pendidikan. Industri juga punya tanggung jawab moral untuk jadi investor talenta. Namun, beban utama tetap ada pada regulator. Kebijakan pendidikan harus bertransformasi dari pendekatan berbasis input (berapa banyak lulusan) menjadi berapa banyak  lulusan yang terserap secara produktif.

Solusinya mendesak: pemerintah perlu memberikan insentif yang lebih agresif bagi perusahaan yang membuka program magang dan terlibat langsung dalam penyusunan kurikulum. Institusi pendidikan harus diberi otonomi lebih luas untuk menggandeng praktisi industri sebagai pengajar.

Jika kita gagal memutus rantai ketidaksesuaian ini, maka bonus demografi hanya akan menjadi beban. Jangan biarkan ijazah anak-anak bangsa jadi tumpukan kertas tak bermakna di hadapan kebutuhan industri. Gelar adalah kunci, tapi kompetensi adalah pintu. Keduanya perlu selaras.

Selanjutnya: Harga Sebagian Komoditas Pangan Masih Tinggi

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Dinamika Saham Gocap, Belum Dilirik Karena Kinerjanya Belum Menarik
| Kamis, 12 Maret 2026 | 14:00 WIB

Dinamika Saham Gocap, Belum Dilirik Karena Kinerjanya Belum Menarik

Tidak semua saham gocap selalu bernasib tragis. Beberapa emiten yang penghuni saham gocap juga ada yang bisa menaikkan harga sahamnya.

Portofolio Diisi Saham Tidak Likuid, Asabri Upayakan Tidak Ulangi Kesalahan
| Kamis, 12 Maret 2026 | 13:00 WIB

Portofolio Diisi Saham Tidak Likuid, Asabri Upayakan Tidak Ulangi Kesalahan

Portofolio saham yang ada dan masuk dalam PPK merupakan portofolio Asabri terdahulu yang telah diakuisisi dan dimiliki sebelum tahun 2020.

Keponakan Prabowo Beli 5% Saham TRIN di Desember 2025, Balik Modal Usai Jual Sebagian
| Kamis, 12 Maret 2026 | 12:20 WIB

Keponakan Prabowo Beli 5% Saham TRIN di Desember 2025, Balik Modal Usai Jual Sebagian

BEI melihat, aksi ini tidak sesuai dengan informasi sebelumnya terkait rencana Rahayu untuk menambah kepemilikan di TRIN hingga 20%.

IHSG Tertekan, Cek Peluang dari Saham-Saham yang Murah
| Kamis, 12 Maret 2026 | 06:38 WIB

IHSG Tertekan, Cek Peluang dari Saham-Saham yang Murah

Di tengah tren pelemahan IHSG, beberapa saham menawarkan valuasi murah di tengah tekanan pasar saham

Pendapatan Naik, GOTO Memangkas Rugi Bersih 77%
| Kamis, 12 Maret 2026 | 06:34 WIB

Pendapatan Naik, GOTO Memangkas Rugi Bersih 77%

Rugi bersih GOTO terpangkas 77,08% (YoY) jadi Rp 1,18 triliun di 2025. Padahal, pada 2024 GOTO masih menanggung rugi bersih Rp 5,15 triliun.

Rupiah Loyo, Dolar AS Menguat, Geopolitik Global Memanas
| Kamis, 12 Maret 2026 | 04:45 WIB

Rupiah Loyo, Dolar AS Menguat, Geopolitik Global Memanas

Rupiah melemah 0,14% ke Rp 16.886 per dolar AS. Geopolitik global dan inflasi AS jadi pemicu. Simak proyeksi selengkapnya

Medco Energi (MEDC) Raih Fasilitas Kredit Rp 1,68 Triliun dari HSBC
| Kamis, 12 Maret 2026 | 04:39 WIB

Medco Energi (MEDC) Raih Fasilitas Kredit Rp 1,68 Triliun dari HSBC

Nilai pokok pinjaman HSBC Singapore Branch kepada PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,68 triliun. ​

Perang Iran Picu Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan
| Kamis, 12 Maret 2026 | 04:35 WIB

Perang Iran Picu Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan

Jika harga minyak ke atas US$ 100 per barel maka CAD akan melebar ke atas 1% dari PDB               

Elnusa (ELSA) Realisasikan Belanja Modal Rp 566 Miliar Pada 2025
| Kamis, 12 Maret 2026 | 04:25 WIB

Elnusa (ELSA) Realisasikan Belanja Modal Rp 566 Miliar Pada 2025

PT Elnusa Tbk (ELSA) merealisasikan alokasi belanja modal (capex) Rp 566 miliar atau setara 95% dari target yang dipatok tahun 2025 Rp 594 miliar.

Pembayaran Subsidi dan Kompensasi Energi Awal Tahun Melejit
| Kamis, 12 Maret 2026 | 04:25 WIB

Pembayaran Subsidi dan Kompensasi Energi Awal Tahun Melejit

Menurut Wakil Menteri Keuangan, lonjakan pembayaran subsidi dan kompensasi energi lantaran pembayaran kompensasi energi 2025

INDEKS BERITA

Terpopuler