Menjembatani Jurang
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada paradoks yang menyesakkan dalam potret ketenagakerjaan kita hari ini. Di satu sisi, angka pengangguran terdidik terus bertambah, di sisi lain, sektor industri justru kesulitan menemukan tenaga kerja dengan kompetensi yang pas. Laporan terbaru dari Mandiri Institute mengonfirmasi titik lemah ini: terjadi kesenjangan tajam antara apa yang diajarkan di bangku kuliah dengan kebutuhan lapangan kerja. Fenomena ini bukan lagi sekadar hambatan teknis, melainkan rem darurat bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Kita harus berani jujur bahwa ijazah sering kali hanya menjadi potret masa lalu, bukan jaminan masa depan. Mandiri Institute mencatat bahwa lebih dari 50% perusahaan mengaku kesulitan mendapatkan kandidat dengan keahlian digital dan soft skills yang mumpuni, meskipun pelamar dengan gelar sarjana membanjir. Ruang kelas kita terlalu sibuk dengan teori statis, sementara industri bergerak dengan cepat, didorong oleh kecerdasan buatan (AI) dan otomasi.
Akar masalahnya adalah "benang kusut" koordinasi. Program Link and Match yang bertahun-tahun didengungkan acap kali hanya berakhir sebagai seremoni penandatanganan nota kesepahaman tanpa eksekusi yang substantif. Kurikulum pendidikan masih kaku dan birokratis untuk beradaptasi dengan tren industri yang cepat berubah. Akibatnya, lulusan kita keluar dari kampus membawa senjata kedaluwarsa untuk bertempur di medan perang ekonomi modern.
Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan institusi pendidikan. Industri juga punya tanggung jawab moral untuk jadi investor talenta. Namun, beban utama tetap ada pada regulator. Kebijakan pendidikan harus bertransformasi dari pendekatan berbasis input (berapa banyak lulusan) menjadi berapa banyak lulusan yang terserap secara produktif.
Solusinya mendesak: pemerintah perlu memberikan insentif yang lebih agresif bagi perusahaan yang membuka program magang dan terlibat langsung dalam penyusunan kurikulum. Institusi pendidikan harus diberi otonomi lebih luas untuk menggandeng praktisi industri sebagai pengajar.
Jika kita gagal memutus rantai ketidaksesuaian ini, maka bonus demografi hanya akan menjadi beban. Jangan biarkan ijazah anak-anak bangsa jadi tumpukan kertas tak bermakna di hadapan kebutuhan industri. Gelar adalah kunci, tapi kompetensi adalah pintu. Keduanya perlu selaras.
