Menyoal Kualitas Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 06:10 WIB
Menyoal Kualitas Pertumbuhan Ekonomi
[ILUSTRASI. TAJUK - Sandy Baskoro (KONTAN/Steve G.A)]
Sandy Baskoro | Compartment Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,29% year-on-year (yoy) pada kuartal II-2026, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya di level 5,61%. Di tengah ketidakpastian global, laju ekonomi di atas 5% masih cukup bagus. Namun, pemerintah tidak boleh berpuas pada angka tersebut. Hal yang jauh lebih krusial adalah memastikan pertumbuhan itu terjaga dan berkualitas.

Selama lebih dari satu dekade, laju ekonomi Indonesia nyaris tak beranjak dari kisaran 5%. Ini menunjukkan persoalannya bukan lagi menjaga pertumbuhan, melainkan menciptakan lompatan. Apalagi, target pertumbuhan 8% hanya bisa dicapai jika ekonomi mampu menghasilkan investasi yang lebih produktif, lapangan kerja lebih baik, dan nilai tambah industri lebih tinggi.

Kualitas pertumbuhan masih menjadi pekerjaan rumah. Penurunan tingkat pengangguran memang patut diapresiasi, tetapi persoalan ketenagakerjaan belum selesai. Sebagian besar tambahan pekerjaan masih berasal dari sektor informal dengan produktivitas dan pendapatan yang rendah. Akibatnya, daya beli tumbuh terbatas dan kelas menengah terus tertekan.

Di sisi lain, arah belanja negara perlu dievaluasi. APBN seharusnya menjadi instrumen untuk mengerek kapasitas ekonomi, bukan sekadar memperbesar konsumsi. Program seperti makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih punya tujuan baik. Namun, besarnya anggaran menuntut tata kelola yang kuat, ukuran keberhasilan jelas, dan evaluasi yang ketat.

Persoalannya, ruang fiskal negara terbatas. Setiap tambahan anggaran untuk satu program berarti semakin sempit ruang bagi belanja produktif lainnya. Jika belanja untuk riset, pendidikan, pelatihan tenaga kerja, industrialisasi, transformasi digital, hingga infrastruktur pendukung investasi tersisih, maka pemerintah sesungguhnya sedang mengurangi sumber pertumbuhan jangka panjang.

Indonesia membutuhkan APBN yang menghasilkan multiplier effect jumbo terhadap perekonomian. Belanja sosial tetap penting untuk menjaga daya beli masyarakat, tetapi tidak boleh mengorbankan investasi yang mengerek produktivitas nasional.

Pemerintah juga tidak boleh mengejar angka pertumbuhan an sich. Fokuslah pada kualitasnya: seberapa banyak pekerjaan formal tercipta, seberapa tinggi produktivitas tenaga kerja meningkat, serta seberapa besar investasi mampu memperkuat daya saing industri. Tanpa perubahan orientasi belanja, pertumbuhan 5% hanya akan menjadi angka yang berulang setiap tahun. Dengan kata lain, pertumbuhan 8% cuma menjadi angan-angan.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi

Keterbatasan modal, UMKM sulit mengikuti lelang/tender proyek-proyek pemerintah karena secara kapasitas produksi dan modal tidak akan mencukupi.

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan

Peningkatan realisasi belanja dan kebutuhan pembiayaan pada kuartal IV berpotensi menambah tekanan pasokan SBN.

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49 WIB

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mengumumkan akan membagikan dividen interim kepada pemegang saham sebesar Rp 533,43 miliar.​

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44 WIB

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK

Manajemen PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) buka suara perihal sanksi yang diberikan OJK terkait dugaan manipulasi perdagangan saham.

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:43 WIB

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok

Aksi buyback dengan total anggaran Rp 2,5 triliun berpotensi membantu meredam tekanan jual dan menjaga stabilitas harga.

Emiten Big Caps Buyback Saham Saat Pasar Tertekan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:38 WIB

Emiten Big Caps Buyback Saham Saat Pasar Tertekan

Emiten berkapitalisasi besar di BEI, dari BREN hingga BBCA menyisihkan anggaran jumbo untuk buyback saham.

Bursa Butuh Dana Institusi Domestik Saat Tekanan Jual Asing Semakin Mencekik
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:26 WIB

Bursa Butuh Dana Institusi Domestik Saat Tekanan Jual Asing Semakin Mencekik

Investor institusi domestik bisa jadi penyangga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan jual investor asing​.

Aturan ARB 7% Berlaku, Penurunan Saham Big Cap Bisa Diredam Sementara Waktu
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Aturan ARB 7% Berlaku, Penurunan Saham Big Cap Bisa Diredam Sementara Waktu

Saham big caps dengan likuiditas tinggi dan fundamental kuat lebih mampu menyerap tekanan jual, meski tak otomatis kebal terhadap outflow asing.

El Nino Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Produksi Sawit, 6 Saham Ini bisa Cuan Maksimal
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:38 WIB

El Nino Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Produksi Sawit, 6 Saham Ini bisa Cuan Maksimal

Bagi emiten CPO yang punya eksposur besar pada bisnis upstream, kenaikan harga dapat memberikan leverage yang signifikan terhadap profitabilitas.

Dua Inisiatif Lagi Demi Merayu MSCI
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:49 WIB

Dua Inisiatif Lagi Demi Merayu MSCI

Inisiatif tersebut ialah menambah informasi status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan 1% dan mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG.

INDEKS BERITA

Terpopuler