Mimpi Petinggi BEI

Kamis, 02 Juli 2026 | 06:10 WIB
Mimpi Petinggi BEI
[ILUSTRASI. Tedy Gumilar (KONTAN/Indra Surya)]
Tedy Gumilar | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ambisi direksi baru Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membawa pasar modal Indonesia masuk 10 besar bursa dunia pada 2030 layak diapresiasi. Target kapitalisasi pasar Rp 30.000 triliun, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) Rp 31 triliun, 35 juta investor, dan lebih dari 1.100 emiten mencerminkan optimisme yang besar. 

Persoalannya, optimisme tanpa pijakan yang kokoh sering kali hanya sekadar menghasilkan ekspektasi. Saat ini, BEI ada di peringkat ke-19 dunia dari sisi kapitalisasi pasar dan ke-17 dari sisi nilai transaksi harian. Untuk melompat ke 10 besar dalam waktu empat tahun, Indonesia bukan hanya membutuhkan pertumbuhan yang cepat, melainkan perubahan struktural yang fundamental.

Untuk menggandakan kapitalisasi pasar menjadi Rp 30.000 triliun, misalnya, butuh kenaikan sekitar 200 persen dalam empat tahun. Ini bisa terjadi jika saham-saham, terutama big caps, kompak naik sangat signifikan. Plus, BEI mampu menghadirkan banyak emiten anyar berskala jumbo setara atau lebih besar dari  BBCA, BBRI, dan BREN saat ini.

Pertanyaannya, siapa yang bisa dan mau mendorong kenaikan harga saham tanpa risiko disemprit bursa dengan UMA, suspensi, hingga ancaman dikerangkeng di papan pemantauan khusus? Lalu, siapa dan berapa banyak pemilik korporasi besar yang rela memenuhi ketentuan minimum free float 15 persen?

Target yang terdengar realistis cuma jumlah perusahaan tercatat, dari 956 di 2025 menjadi 1.100 emiten pada 2030. Masalahnya, sejarah pasar modal Indonesia mengajarkan, mengejar kuantitas tanpa menjaga kualitas adalah jalan pintas yang mahal. Kita sudah mengalaminya, ketika pintu bursa dibuka selebar-lebarnya, termasuk untuk perusahaan yang dirundung rugi dan baru beroperasi beberapa tahun. 

Tidak sedikit perusahaan yang melantai di bursa tanpa model bisnis yang matang, tanpa profitabilitas yang jelas, dan akhirnya meninggalkan kerugian besar bagi investor publik. Ketika harga saham-saham tersebut ambruk, yang terkikis bukan hanya nilai investasi investor melainkan juga kredibilitas pasar modal dan regulatornya.

Pada akhirnya, pasar modal tidak memerlukan ambisi yang berlebihan. Yang dibutuhkan adalah konsistensi membangun kepercayaan. Ini sejatinya aset yang jauh lebih besar sekaligus sulit dibangun, namun harus diupayakan dengan niat baik dan kerja keras, ketimbang sekadar menggadang target dalam lembar presentasi.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

PPh Pasal 22 Pedagang Online di Marketplace
| Kamis, 02 Juli 2026 | 07:09 WIB

PPh Pasal 22 Pedagang Online di Marketplace

Wajib pajak orang pribadi dengan omzet di bawah Rp 500 juta tak akan dipungut PPh Pasal 22           

ORI030: Peluang Kupon Lebih Tinggi dari Deposito, Cek Detailnya!
| Kamis, 02 Juli 2026 | 07:00 WIB

ORI030: Peluang Kupon Lebih Tinggi dari Deposito, Cek Detailnya!

Kupon ORI030 diproyeksi capai 6,85%-7% oleh analis. Pelajari mengapa instrumen ini disebut lebih menarik dari deposito sekarang

Surplus Terputus, Tekanan Ekonomi Menguat
| Kamis, 02 Juli 2026 | 06:59 WIB

Surplus Terputus, Tekanan Ekonomi Menguat

Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit pertama setelah surplus 72 bulan berturut-turut       

Lampu Kuning Manufaktur Indonesia
| Kamis, 02 Juli 2026 | 06:55 WIB

Lampu Kuning Manufaktur Indonesia

PMI manufaktur terpuruk, dunia usaha minta pemerintah memperkuat perlindungan industri dan penurunan biaya

Nasib Rupiah di Tengah Sentimen Global Picu Pelemahan Lebih Lanjut
| Kamis, 02 Juli 2026 | 06:50 WIB

Nasib Rupiah di Tengah Sentimen Global Picu Pelemahan Lebih Lanjut

Rupiah kembali melemah erhadap dolar AS kemarin. Data ketenagakerjaan AS jadi biang kerok, simak proyeksi terbarunya!

Regulasi Baru Ojol Tekan Komisi Aplikator, Analis Berbeda Pandangan soal GOTO
| Kamis, 02 Juli 2026 | 06:50 WIB

Regulasi Baru Ojol Tekan Komisi Aplikator, Analis Berbeda Pandangan soal GOTO

Risiko regulasi menjadi ancaman terbesar buat PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan dampaknya bisa saja semakin menekan.

ATSI Kaji Pengembangan Akumulasi Kuota Internet
| Kamis, 02 Juli 2026 | 06:46 WIB

ATSI Kaji Pengembangan Akumulasi Kuota Internet

Pengemudi ojek online (ojol) Didi Supandi dan pedagang kuliner Wahyu Triana Sari mempersoalkan skema sisa kuota internet yang hangus

SPBU Swasta Pangkas  Harga BBM Nonsubsidi
| Kamis, 02 Juli 2026 | 06:39 WIB

SPBU Swasta Pangkas Harga BBM Nonsubsidi

Penyesuaian harga yang berlaku efektif mulai Rabu (1/7) dilakukan secara selektif pada BBM jenis diesel.

Aturan PMSE Baru, idEA Minta Ruang Adaptasi
| Kamis, 02 Juli 2026 | 06:35 WIB

Aturan PMSE Baru, idEA Minta Ruang Adaptasi

Beleid tersebut mengatur insentif berupa diskon biaya layanan sebesar 50% bagi UMK di platform marketplace.

Kredit Bank Milik Konglomerat Melambat, Pertumbuhan Laba Tak Seragam
| Kamis, 02 Juli 2026 | 06:35 WIB

Kredit Bank Milik Konglomerat Melambat, Pertumbuhan Laba Tak Seragam

Sejumlah bank milik konglomeratmencatat pertumbuhan laba yang terbatas, bahkan ada yang mengalami penurunan, seiring melambatnya ekspansi kredit 

INDEKS BERITA

Terpopuler