Mimpi Petinggi BEI
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ambisi direksi baru Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membawa pasar modal Indonesia masuk 10 besar bursa dunia pada 2030 layak diapresiasi. Target kapitalisasi pasar Rp 30.000 triliun, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) Rp 31 triliun, 35 juta investor, dan lebih dari 1.100 emiten mencerminkan optimisme yang besar.
Persoalannya, optimisme tanpa pijakan yang kokoh sering kali hanya sekadar menghasilkan ekspektasi. Saat ini, BEI ada di peringkat ke-19 dunia dari sisi kapitalisasi pasar dan ke-17 dari sisi nilai transaksi harian. Untuk melompat ke 10 besar dalam waktu empat tahun, Indonesia bukan hanya membutuhkan pertumbuhan yang cepat, melainkan perubahan struktural yang fundamental.
Untuk menggandakan kapitalisasi pasar menjadi Rp 30.000 triliun, misalnya, butuh kenaikan sekitar 200 persen dalam empat tahun. Ini bisa terjadi jika saham-saham, terutama big caps, kompak naik sangat signifikan. Plus, BEI mampu menghadirkan banyak emiten anyar berskala jumbo setara atau lebih besar dari BBCA, BBRI, dan BREN saat ini.
Pertanyaannya, siapa yang bisa dan mau mendorong kenaikan harga saham tanpa risiko disemprit bursa dengan UMA, suspensi, hingga ancaman dikerangkeng di papan pemantauan khusus? Lalu, siapa dan berapa banyak pemilik korporasi besar yang rela memenuhi ketentuan minimum free float 15 persen?
Target yang terdengar realistis cuma jumlah perusahaan tercatat, dari 956 di 2025 menjadi 1.100 emiten pada 2030. Masalahnya, sejarah pasar modal Indonesia mengajarkan, mengejar kuantitas tanpa menjaga kualitas adalah jalan pintas yang mahal. Kita sudah mengalaminya, ketika pintu bursa dibuka selebar-lebarnya, termasuk untuk perusahaan yang dirundung rugi dan baru beroperasi beberapa tahun.
Tidak sedikit perusahaan yang melantai di bursa tanpa model bisnis yang matang, tanpa profitabilitas yang jelas, dan akhirnya meninggalkan kerugian besar bagi investor publik. Ketika harga saham-saham tersebut ambruk, yang terkikis bukan hanya nilai investasi investor melainkan juga kredibilitas pasar modal dan regulatornya.
Pada akhirnya, pasar modal tidak memerlukan ambisi yang berlebihan. Yang dibutuhkan adalah konsistensi membangun kepercayaan. Ini sejatinya aset yang jauh lebih besar sekaligus sulit dibangun, namun harus diupayakan dengan niat baik dan kerja keras, ketimbang sekadar menggadang target dalam lembar presentasi.
