Perang Iran

Senin, 02 Maret 2026 | 03:19 WIB
Perang Iran
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja (KONTAN/Indra Surya)]
Djumyati Partawidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Serangan Amerika dan Israel kepada Iran di akhir minggu lalu cukup mengagetkan untuk banyak orang. Walau perseteruan sudah berlangsung lama, tapi serangan besar ini tetap mengejutkan karena menyebabkan kematian tokoh-tokoh kunci Iran, seperti Ali Khamenei pemimpin tertinggi Iran dan keluarganya, serta Komandan Korps Garda Revolusi Islam dan Menteri Pertahanan Iran. 

Setiap perang, apalagi dengan dampak kerusakan sebesar ini tentunya membawa gejolak baru. Demikian juga dengan serangan ini, Garda Revolusi Iran bertekad membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan drone menyerang kota-kota Israel dan pangkalan militer AS. Akibatnya perang ini sudah menjadi konfrontasi regional, karena ada banyak pangkalan Amerika di Timur Tengah, seperti Bahrain, Qatar dan UAE.

Membahas berbagai skenario perang dan retaliasinya memang menarik, tapi mungkin sebaiknya kita berfokus pada dampak ekonomi, karena perang zaman sekarang tidak hanya masalah politik. Dan pertanyaan utamanya tentu: apakah perang ini akan membawa dampak untuk perekonomian kita? 

Melihat posisi yang strategis dan skala perseteruan yang membesar, serangan ini tentunya memberi dampak ke seluruh dunia, terutama karena ada perubahan jalur pasok maritim dunia dan kenaikan harga minyak bumi. Dampaknya tentulah kenaikan inflasi karena kenaikan harga minyak bumi dan biaya transportasi yang lebih tinggi, serta volatilitas di pasar keuangan. Investor dunia akan memindahkan dananya dari aset berisiko ke aset aman, seperti emas, US Dolar, obligasi pemerintah AS dan Yen Jepang. 

Sementara Indonesia, sebagai negara berkembang dan negara yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi dan nilai tukar tentunya akan menghadapi tantangan besar akibat krisis ini. Sebelum krisis di Iran muncul, beberapa analis ekonomi dari beberapa lembaga dalam dan luar negeri sudah memperingatkan akan adanya tekanan ganda pada neraca fiskal dan stabilitas nilai tukar Rupiah. 

Kondisi fiskal Indonesia yang tidak terlalu baik ditambah ketidakpastian global, membuat opsi penambahan utang menjadi lebih mahal dan terbatas. Sementara potensi risk-off global bisa membuat arus modal asing keluar dan membuat Rupiah melemah.

Sepertinya tim ekonomi di negeri ini harus bekerja keras, karena tidak akan ada business as usual lagi. Apalagi perekonomian kita juga akan ada dalam tekanan berat setelah beberapa hari lalu menandatangani perjanjian Agreement on Reciprocal Trade dengan AS.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Prospek CPIN Ditopang Pemulihan Harga Unggas
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:30 WIB

Prospek CPIN Ditopang Pemulihan Harga Unggas

Harga produk unggas mulai pulih, setelah tertekan pada kuartal II-2026 dan menjadi angin segar bagi PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)

Bitcoin Rally 24% Sepekan, Waspadai Koreksi di Akhir Agustus
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Bitcoin Rally 24% Sepekan, Waspadai Koreksi di Akhir Agustus

Pergerakan harga bitcoin diperkirakan masih harus diperhatikan sebab akan rawan adanya aksi profit taking hingga akhir Agustus ini.

Prospek MYOR Masih Positif, Ditopang Perbaikan Margin dan Ekspansi Pasar Ekspor
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:00 WIB

Prospek MYOR Masih Positif, Ditopang Perbaikan Margin dan Ekspansi Pasar Ekspor

Saham MYOR memiliki prospek yang cukup positif ditopang oleh besarnya pendapatan dari ekspor di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.

Batasan Pertalite Tunggu Evaluasi DTSEN
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:53 WIB

Batasan Pertalite Tunggu Evaluasi DTSEN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku kecewa dengan kualitas DTSEN yang morat-marit tak akurat

Saham Bank Syariah Masih Adem, BRIS dan BTPS Disebut Punya Prospek Fundamental
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:53 WIB

Saham Bank Syariah Masih Adem, BRIS dan BTPS Disebut Punya Prospek Fundamental

Dalam jangka pendek, emiten bank syariah diperkirakan masih akan mengandalkan margin pembiayaan sebagai salah satu penopang utama kinerja.

Janji Jaga Independensi Sekaligus Tetap Bersinergi
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Janji Jaga Independensi Sekaligus Tetap Bersinergi

Calon pimpinan BI menjamin independensi bank sentral di tengah sinergi dengan pemerintah            

Kemarau Panjang Bikin Sungai Kalimantan Surut, Angkutan Batubara Mulai Terdampak
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:27 WIB

Kemarau Panjang Bikin Sungai Kalimantan Surut, Angkutan Batubara Mulai Terdampak

Merujuk data Badan Geologi Kementerian ESDM, sekitar 63% dari total cadangan batubara Indonesia berada di perut bumi Kalimantan.

Saham CENT Volatil, Analis Soroti Momentum, FOMO dan Risiko Koreksi
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 07:50 WIB

Saham CENT Volatil, Analis Soroti Momentum, FOMO dan Risiko Koreksi

CENT memiliki sekitar 11.000 site dan 5.000 km jaringan fiber dan akan sangat diuntungkan dengan kebutuhan fiber backhaul hingga pengembangan AI.

Rokok Ilegal Dibidik Lewat Layer Cukai Baru, Sentimen Positif Bagi HMSP, GGRM, & WIIM
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 07:24 WIB

Rokok Ilegal Dibidik Lewat Layer Cukai Baru, Sentimen Positif Bagi HMSP, GGRM, & WIIM

Penyempitan selisih harga antara rokok ilegal dan legal tidak serta-merta membuat konsumen beralih ke rokok legal dengan harga lebih tinggi.

Beban Tinggi Masih Menghantui Profitabilitas SRAJ
| Kamis, 27 Agustus 2026 | 07:08 WIB

Beban Tinggi Masih Menghantui Profitabilitas SRAJ

Pendapatan SRAJ berpeluang tumbuh, namun tekanan beban operasional dan keuangan tetap membayangi ruang pemulihan laba.

INDEKS BERITA

Terpopuler