KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Serangan Amerika dan Israel kepada Iran di akhir minggu lalu cukup mengagetkan untuk banyak orang. Walau perseteruan sudah berlangsung lama, tapi serangan besar ini tetap mengejutkan karena menyebabkan kematian tokoh-tokoh kunci Iran, seperti Ali Khamenei pemimpin tertinggi Iran dan keluarganya, serta Komandan Korps Garda Revolusi Islam dan Menteri Pertahanan Iran.
Setiap perang, apalagi dengan dampak kerusakan sebesar ini tentunya membawa gejolak baru. Demikian juga dengan serangan ini, Garda Revolusi Iran bertekad membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan drone menyerang kota-kota Israel dan pangkalan militer AS. Akibatnya perang ini sudah menjadi konfrontasi regional, karena ada banyak pangkalan Amerika di Timur Tengah, seperti Bahrain, Qatar dan UAE.
Membahas berbagai skenario perang dan retaliasinya memang menarik, tapi mungkin sebaiknya kita berfokus pada dampak ekonomi, karena perang zaman sekarang tidak hanya masalah politik. Dan pertanyaan utamanya tentu: apakah perang ini akan membawa dampak untuk perekonomian kita?
Melihat posisi yang strategis dan skala perseteruan yang membesar, serangan ini tentunya memberi dampak ke seluruh dunia, terutama karena ada perubahan jalur pasok maritim dunia dan kenaikan harga minyak bumi. Dampaknya tentulah kenaikan inflasi karena kenaikan harga minyak bumi dan biaya transportasi yang lebih tinggi, serta volatilitas di pasar keuangan. Investor dunia akan memindahkan dananya dari aset berisiko ke aset aman, seperti emas, US Dolar, obligasi pemerintah AS dan Yen Jepang.
Sementara Indonesia, sebagai negara berkembang dan negara yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi dan nilai tukar tentunya akan menghadapi tantangan besar akibat krisis ini. Sebelum krisis di Iran muncul, beberapa analis ekonomi dari beberapa lembaga dalam dan luar negeri sudah memperingatkan akan adanya tekanan ganda pada neraca fiskal dan stabilitas nilai tukar Rupiah.
Kondisi fiskal Indonesia yang tidak terlalu baik ditambah ketidakpastian global, membuat opsi penambahan utang menjadi lebih mahal dan terbatas. Sementara potensi risk-off global bisa membuat arus modal asing keluar dan membuat Rupiah melemah.
Sepertinya tim ekonomi di negeri ini harus bekerja keras, karena tidak akan ada business as usual lagi. Apalagi perekonomian kita juga akan ada dalam tekanan berat setelah beberapa hari lalu menandatangani perjanjian Agreement on Reciprocal Trade dengan AS.
