Realokasi Belanja

Rabu, 18 Februari 2026 | 03:14 WIB
Realokasi Belanja
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki "masa belanja" jelang Lebaran, gaya belanja pemerintah justru tengah menjadi sorotan para ekonom dan lembaga global. Di tengah ruang fiskal yang sempit dan kebutuhan pembiayaan yang meningkat, setiap rupiah belanja negara harus menghasilkan dampak produktif.

Sorotan institusi global, seperti Moody's dan IMF, terhadap defisit fiskal Indonesia menunjukkan bahwa dunia memantau arah kebijakan fiskal kita. Defisit memang masih dijaga di bawah 3% PDB, tetapi basis penerimaan negara yang lemah membuat ruang manuver fiskal sangat terbatas. Ketika belanja meningkat lebih cepat daripada penerimaan, tekanan terhadap pembiayaan akan membesar.

Perubahan outlook Indonesia menjadi negatif oleh Moody's memperkuat pesan  ini. Bukan angka utang yang menjadi sorotan utama, tapi mereka mengaku semakin sulit memprediksi arah kebijakan pemerintah. Persepsi terhadap kredibilitas institusi melemah. Dalam logika pasar, ketidakpastian kebijakan diterjemahkan menjadi premi risiko yang lebih tinggi, volatilitas nilai tukar, dan biaya pinjaman yang naik.

Dalam konteks ini, ekspansi program populis seperti makan bergizi gratis dan berbagai subsidi sosial berskala besar perlu ditimbang ulang secara rasional. Program sosial tetap penting, tetapi dampak ekonominya akan terbatas jika tidak dirancang untuk memperkuat produksi domestik, efisiensi distribusi, serta pemberdayaan pelaku usaha lokal. Belanja konsumtif tanpa desain produktif berpotensi menambah beban fiskal tanpa meningkatkan kapasitas ekonomi.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah risiko birokrasi terjebak dalam budaya asal bapak senang — mengejar target seremonial dan kepuasan politik jangka pendek tanpa membaca realitas ekonomi dan sosial di lapangan. Ketika kebijakan dirancang untuk menyenangkan atasan, bukan menjawab kebutuhan rakyat dan tantangan ekonomi, kualitas belanja negara akan menurun.

Karena itu, realokasi belanja menjadi kebutuhan mendesak. Anggaran harus lebih diarahkan pada sektor yang meningkatkan produktivitas: ketahanan pangan berbasis teknologi, pendidikan vokasi, kesehatan preventif, hilirisasi industri, dan infrastruktur logistik. Program sosial harus menjadi investasi sosial yang memperkuat kapasitas ekonomi, bukan sekadar bantalan konsumsi.

Di tengah ketidakpastian global, kebijakan yang rasional dan transparan adalah jangkar stabilitas serta sekaligus fondasi kepercayaan.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Dana Bencana Diduga untuk Beli Saham Pribadi Adik Mantan Kepala BNPB
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:20 WIB

Dana Bencana Diduga untuk Beli Saham Pribadi Adik Mantan Kepala BNPB

KPK menduga dana korupsi sebesar Rp 30,98 miliar digunakan untuk membeli saham PT MDLA              

Gejolak Pasar Keuangan Semakin Menekan Fiskal
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:06 WIB

Gejolak Pasar Keuangan Semakin Menekan Fiskal

Pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan lonjakan harga minyak memperbesar defisit               

IPAC Berencana Go Private, APAC Siap Tender Sukarela
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:08 WIB

IPAC Berencana Go Private, APAC Siap Tender Sukarela

APAC Investment 2 Pte.Ltd selaku pengendali IPAC akan melakukan penawaran tender sukarela untuk membeli saham milik pemegang saham publik. ​

PGEO Terbitkan 54,72 Juta Saham Baru dari Program MESOP
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:01 WIB

PGEO Terbitkan 54,72 Juta Saham Baru dari Program MESOP

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menerbitkan 54,72 juta saham baru melalui pelaksanaan program MESOP tahap I, II, dan III.

Bisnis Data Center Angkat Prospek TOTL
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:52 WIB

Bisnis Data Center Angkat Prospek TOTL

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) akan memfokuskan bisnisnya pada proyeksi kontruksi data center. Ini berpotensi mendongkrak laba TOTL pada 2027.

Saham Big Caps Jadi Pemberat, Laju IHSG Semakin Melambat
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:44 WIB

Saham Big Caps Jadi Pemberat, Laju IHSG Semakin Melambat

IHSG ambruk pasca MSCI umumkan rencana reklasifikasi pasar Indonesia ke standalone market. Saham bank big caps di posisi teratas pemberat IHSG.

Rupiah Berpotensi Terperosok ke Kisaran 18.500 per dolar AS
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Rupiah Berpotensi Terperosok ke Kisaran 18.500 per dolar AS

Rupiah kembali menembus 18.000  ke Rp 18.027 per dolar Amerika Serikat (AS) atau  melemah 0,50% secara harian pada Jumat (16/10).

Gaet Mitra Baru Demi Perkuat Bisnis
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Gaet Mitra Baru Demi Perkuat Bisnis

PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menggandeng Deniko asal Denmark untuk memperkuat segmen bisnis manufaktur

Imbal Hasil SBN Berpotensi Meningkat
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Imbal Hasil SBN Berpotensi Meningkat

Tekanan dari eksternal  dan internal masih akan menekan pasar surat utang domestik hingga akhir tahun

Sanksi Lambat, MSCI Lebih Cepat
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:12 WIB

Sanksi Lambat, MSCI Lebih Cepat

Sebelum usulan MSCI terkait penurunan status pasar Indonesia, sudah berembus kabar akan ada sanksi kepada pelanggar transaksi pasar saham

INDEKS BERITA

Terpopuler