Rencana Pengurangan Produksi Nikel Pemerintah Bisa Bikin Saham MBMA Merekah

Kamis, 01 Januari 2026 | 19:15 WIB
Rencana Pengurangan Produksi Nikel Pemerintah Bisa Bikin Saham MBMA Merekah
[ILUSTRASI. Merdeka Battery Materials, MBMA (DOK/MBMA)]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah untuk menurunkan produksi nikel nasional pada 2026 dari 379 juta ton pada tahun lalu menjadi hanya 250 juta ton menjadi angin segar bagi emiten pertambangan dan baterai. Kebijakan ini digulirkan sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan harga nikel global, sekaligus meningkatkan nilai tambah industri hilir di dalam negeri.

Wacana tersebut langsung memicu berbagai spekulasi mengenai dampaknya terhadap kinerja emiten-emiten berbasis nikel dan baterai. Di satu sisi, pembatasan produksi berpotensi menekan volume penjualan jangka pendek bagi perusahaan tambang.

Namun di sisi lain, langkah ini dinilai dapat menopang harga nikel agar tetap kompetitif dan stabil dalam jangka menengah hingga panjang. Kondisi tersebut justru membuka peluang bagi emiten yang telah memiliki posisi kuat di rantai nilai baterai, terutama yang fokus pada pengolahan dan pemanfaatan nikel untuk kebutuhan kendaraan listrik.

Salah satu saham yang dianggap menarik karena sentimen ini adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Sebagai emiten yang memiliki eksposur langsung ke bisnis nikel dan material baterai, MBMA dinilai berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan potensi perbaikan harga komoditas, meskipun produksi nasional berencana ditekan.

Baca Juga: Merdeka Battery Material (MBMA) Suntik Modal Anak Usaha US$ 51 juta

Kombinasi antara kebijakan pemerintah dan arah transformasi industri baterai membuat saham ini kembali masuk radar pelaku pasar. Tak heran jika pergerakan saham MBMA belakangan kerap diwarnai volatilitas, seiring pelaku pasar mencoba menakar dampak jangka pendek dan prospek jangka panjang dari kebijakan tersebut.

Di tengah tarik-menarik sentimen ini, rekomendasi analis dan sinyal teknikal menjadi rujukan penting bagi investor dalam menentukan strategi, apakah memanfaatkan fase konsolidasi sebagai peluang akumulasi atau memilih menunggu konfirmasi arah pergerakan selanjutnya.

Philips Sekuritas Indonesia merekomendasikan buy saham MBMA sebagai peluang menarik di tengah pergerakan pasar yang mulai selektif. Dari sisi tren, MBMA dinilai berada dalam kondisi bullish baik untuk jangka pendek maupun menengah, mencerminkan momentum positif yang masih terjaga serta potensi kelanjutan penguatan harga.

Pihaknya merekomendasikan buy di level 570, area yang dinilai ideal untuk memanfaatkan peluang kenaikan dalam waktu dekat. Dengan struktur pergerakan harga yang konstruktif, MBMA diproyeksikan mampu mengarah ke target harga pertama di 625, sebelum melanjutkan penguatan menuju target lanjutan di 660 jika sentimen dan momentum pasar tetap mendukung.

Baca Juga: Proyek Jangka Panjang Jadi Harapan Merdeka Battery Materials (MBMA)

Namun demikian, manajemen risiko tetap menjadi kunci. Philips Sekuritas menekankan pentingnya disiplin dengan menetapkan stop loss di 520 guna mengantisipasi skenario pembalikan arah yang tidak diharapkan. Dengan kombinasi tren yang solid dan strategi risiko yang terukur, saham MBMA dinilai layak dicermati oleh trader yang mengincar peluang dari pergerakan bullish jangka pendek hingga menengah.

Sedangkan, Hendro Hardiyanto, investment specialist Mirae Asset Sekuritas, menilai MBMA berada pada fase yang cukup menarik untuk dicermati, terutama setelah harga terakhirnya tercatat di level 580. Kondisi ini membuka ruang bagi investor dan trader untuk mulai menyiapkan strategi masuk secara lebih terukur.

Menurut Hendro, area beli yang ideal untuk MBMA berada pada rentang 560 hingga 570. Kisaran harga ini dinilai sebagai zona akumulasi yang relatif aman, baik bagi trader jangka pendek maupun investor yang mengincar peluang dari potensi kelanjutan tren. Strategi menunggu harga turun ke area tersebut dianggap lebih bijak dibandingkan mengejar harga saat momentum sudah terlalu tinggi.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Dana Asing Terus Keluar, Laju IHSG Semakin Liar
| Kamis, 12 Februari 2026 | 14:45 WIB

Dana Asing Terus Keluar, Laju IHSG Semakin Liar

Sejak awal tahun 2026, total net sell asing di pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 12,97 triliun.

Anak Usaha Medco Energi (MEDC) Jadi Operator PSC Cendramas
| Kamis, 12 Februari 2026 | 14:12 WIB

Anak Usaha Medco Energi (MEDC) Jadi Operator PSC Cendramas

Anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk mendapatkan Surat Penunjukan dari Petroliam Nasional Berhad untuk kontrak bagi hasil Cendramas.​

Prospek Emiten Nikel Terganjal Pemangkasan Kuota Produksi
| Kamis, 12 Februari 2026 | 13:37 WIB

Prospek Emiten Nikel Terganjal Pemangkasan Kuota Produksi

Pembatasan kuota berpotensi menekan target volume penjualan bijih nikel emiten dalam jangka pendek. 

ASII Bidik Pertumbuhan Penjualan Kendaraan Pada 2026
| Kamis, 12 Februari 2026 | 13:28 WIB

ASII Bidik Pertumbuhan Penjualan Kendaraan Pada 2026

Untuk mempertahankan dominasi pasar, ASII akan konsisten fokus pada penyediaan produk, teknologi, dan layanan yang sesuai kebutuhan pelanggan.

Saham Kena Depak MSCI, Dana Asing Lari Dari BEI
| Kamis, 12 Februari 2026 | 13:22 WIB

Saham Kena Depak MSCI, Dana Asing Lari Dari BEI

Dampak dari aksi rebalancing MSCI kali ini adalah pergerakan dana asing ke Bursa Efek Indonesia (BEI)​.

Mengurai Dosa Ekologis di Konsesi Batubara Eks KPC untuk NU, Potensi Konflik Menganga
| Kamis, 12 Februari 2026 | 10:30 WIB

Mengurai Dosa Ekologis di Konsesi Batubara Eks KPC untuk NU, Potensi Konflik Menganga

Konsesi batubara eks KPC yang diserahkan ke Nahdlatul Ulama (NU) berada di lahan yang sudah menjadi pemukiman dan 17.000 ha hutan sekunder. 

Pemangkasan RKAB Berdampak Instan pada Pergerakan Saham Emiten Nikel
| Kamis, 12 Februari 2026 | 10:00 WIB

Pemangkasan RKAB Berdampak Instan pada Pergerakan Saham Emiten Nikel

Industri sudah mengantisipasi penurunan RKAB hingga 250 juta ton, sehingga penetapan RKAB oleh pemerintah masih sedikit di atas ekspektasi awal.

Transparansi Cuma Sampai Pemilik di Atas 1%, Peluang Goreng Saham Masih Terbuka
| Kamis, 12 Februari 2026 | 09:12 WIB

Transparansi Cuma Sampai Pemilik di Atas 1%, Peluang Goreng Saham Masih Terbuka

Gorengan saham masih mungkin melalui pemegang saham di bawah 1%. Nominees account  dibuat sekecil mungkin, saya pernah bikin sampai 30 account.

Peta Emiten Batubara Bergeser Seiring Kebijakan Pemangkasan RKAB 2026 & Kenaikan DMO
| Kamis, 12 Februari 2026 | 09:00 WIB

Peta Emiten Batubara Bergeser Seiring Kebijakan Pemangkasan RKAB 2026 & Kenaikan DMO

Kebijakan DMO dan RKAB menggeser narasi sektor batubara, dari yang sebelumnya bertumpu pada volatilitas harga global yang liar.

Berharap Bisa Melanjutkan Penguatan, Simak Proyeksi IHSG Hari Ini, Kamis (12/2)
| Kamis, 12 Februari 2026 | 08:49 WIB

Berharap Bisa Melanjutkan Penguatan, Simak Proyeksi IHSG Hari Ini, Kamis (12/2)

Investor disarankan akumulasi pada saham-saham berfundamental solid. Khususnya undervalued  dengan tetap menerapkan manajemen risiko.

INDEKS BERITA

Terpopuler