Saham INET Masih Lanjutkan Tren Penguatan, Bagaimana Prospeknya?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menunjukkan tren penguatan dalam beberapa waktu terakhir. Pada penutupan perdagangan hari ini saja, Kamis (23/7) INET kembali ditutup menguat 1,71% ke level Rp 238.
Penguatan hari ini melanjutkan penguatan yang sudah tercetak selama sepekan dan sebulan belakangan yang masing-masing sudah naik sebesar 6,25% dan 17,82%. Walau demikian, kinerja saham INET pada horison sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD) masih tertekan 48,93%.
Namun penguatan konsisten yang terjadi ini mendorong pertanyaan mengenai katalis hingga prospek perseroan ke depan. Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta misalnya, memang menilai reli saham INET saat ini merupakan kombinasi antara sentimen positif pasar dan ekspektasi terhadap perbaikan fundamental perusahaan.
Tetapi untuk jangka pendek, faktor sentimen dinilai masih menjadi motor utama kenaikan harga saham.
Baca Juga: Tuntas Gelar Tender Wajib, Saham INET di PADA Melonjak Jadi 53,58%
Salah satu katalis terbesar bagi INET adalah aksi korporasi rights issue yang sebelumnya berhasil menghimpun dana sekitar Rp 3,2 triliun. Dana segar tersebut akan digunakan untuk mempercepat ekspansi bisnis, mulai dari pembangunan jaringan fiber to the home (FTTH), pengembangan teknologi Wi-Fi 7, hingga penguatan jaringan kabel bawah laut.
Rencana ekspansi tersebut dinilai meningkatkan optimisme investor bahwa INET memiliki ruang pertumbuhan yang lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.
“Pasar masih merespons positif rights issue yang memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperluas jaringan FTTH, mengembangkan teknologi Wi-Fi 7, serta memperkuat infrastruktur kabel bawah laut. Langkah tersebut meningkatkan ekspektasi terhadap pertumbuhan bisnis perseroan,” ujar Nafan kepada KONTAN, Kamis (23/7).
Tak hanya itu saja, sebagaimana dilaporkan keterbukaan informasi pada Kamis (23/7), INET hari ini telah menyerap 240.000 saham PT Personel Alih Daya Tbk (DAYA) dalam aksi penawaran tender wajib alias mandatory tender offer (MTO).
