Saham Sektor Properti Tertekan Faktor Eksternal

Senin, 07 November 2022 | 04:20 WIB
Saham Sektor Properti Tertekan Faktor Eksternal
[]
Reporter: Nur Qolbi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kinerja keuangan para emiten properti tumbuh signifikan di tahun ini. Namun di masa bisnisnya oke, performa saham properti malah berada di zona merah.

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) misalnya membukukan kenaikan pendapatan 9% secara tahunan menjadi Rp 7,22 triliun pada sembilan bulan pertama 2022. Sementara laba bersih naik 50% secara tahunan jadi Rp 1,52 triliun. 

Kinerja PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) tak jauh beda. Pendapatan SMRA tumbuh 11% menjadi Rp 4,21 triliun dengan laba bersih melesat 82% menjadi Rp 310 miliar. 

Baca Juga: Kinerja Moncer, Begini Prospek Emiten Sektor Properti Selanjutnya

Akan tetapi, saham SMRA merosot 32,34% secara year to date (ytd) ke level Rp 565 per saham. Sementara saham CTRA terkoreksi 5,15% ke Rp 920 per saham. 

Analis Sucor Sekuritas Benyamin Mikael menilai, performa negatif yang terjadi pada saham properti disebabkan oleh katalis negatif, seperti kenaikan suku bunga dan prediksi perlambatan ekonomi ke depan. 

Selain itu, sektor lain lebih menarik di tahun ini. Ambil contoh sektor komoditas yang mencatatkan kenaikan harga signifikan pada 2022.

Menurut Benyamin, valuasi saham-saham properti saat ini masih cukup murah meski diskonnya tidak sedalam awal tahun 2020. "Potensi kenaikan harganya masih cukup menarik sehingga bisa menjadi pilihan jika investor ingin melakukan diversifikasi," kata Benyamin, Minggu (6/11).

Efek bunga

Benyamin melihat, sentimen negatif masih akan membayangi sektor properti hingga akhir tahun ini. Akan tetapi, pada tahun 2023, sentimen negatif diprediksi selesai. Kemudian, sentimen positif berupa pertumbuhan marketing sales akan mulai menghiasi pergerakan sektor properti.

Baca Juga: Manfaatkan Window Dressing, Simak Saham Prospektif Pilihan Analis

JP Morgan Sekuritas Indonesia justru lebih waspada terhadap sektor properti Indonesia seiring dengan adanya potensi kenaikan suku bunga ke 5,75% pada kuartal I-2023 dari 3,5% pada pertengahan 2022. Hal ini sejalan dengan sikap The Fed yang masih bernada hawkish dan berpotensi menaikkan suku bunganya ke 4,75% pada awal tahun depan. 

"Ini akan mengarah ke suku bunga hipotek yang lebih tinggi yang akan mempengaruhi permintaan untuk membeli properti dan pada saat yang sama meningkatkan biaya pinjaman untuk pengembang properti," kata Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Henry Wibowo dalam riset 1 November 2022.

Nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah yang masih menguat juga akan menjadi sentimen pemberat bagi emiten properti. Terlebih lagi, insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk sektor properti sudah berakhir pada September 2022.

Marketing sales emiten properti dalam waktu dekat masih akan didukung oleh kenaikan harga komoditas yang memberikan keuntungan pada pelaku usaha yang bergerak di sektor ini. Akan tetapi, sentimen positif akan diimbangi sentimen yang tidak pasti memasuki tahun politik 2023-2024. Di tahun politik, masyarakat kemungkinan akan menunda pembelian big-ticket item seperti properti. 

Prospek saham emiten properti di tahun 2023 juga akan lebih ketat seiring potensi perlambatan ekonomi global dan normalisasi harga komoditas mulai pertengahan 2023 dan seterusnya.

Baca Juga: Rayakan 53 Tahun Membangun Industri Properti, Agung Podomoro Gelar Booster Run

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dalam riset pada 2 November 2022 juga menyebutkan jika masih ada prospek positif pada saham-saham sektor properti khususnya CTRA, SMRA, dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). CTRA misalnya cukup disukai karena mencatatkan marketing sales yang kuat di beberapa proyek unggulannya di Jakarta, Surabaya, dan Medan. 

Untuk SMRA, kinerja operasional SMRA diyakini tidak berubah. Bahkan sentimen negatif atas ada kasus suap yang melibatkan anak perusahaan dan petinggi perusahaan dinilai tidak akan banyak mempengaruhi. 

Prospek saham BSDE juga dinilai masih menarik dan banyak disukai. Pasalnya, berdasarkan realisasi marketing sales dan laba bersih BSDE yang tumbuh positif. 

Victor juga melihat prospek positif pada marketing sales dan pemulihan bisnis properti investasi ke depannya.    

Simak ulasan rekomendasi saham emiten sektor properti lebih rinci sebagai berikut: 

Pakuwon Jati (PWON)
PWON meraup pendapatan Rp 4,50 triliun, meningkat 18,78% dalam sembilan bulan di 2022. Jika dirinci, pendapatan PWON terbagi dalam dua segmen. Pendapatan kontrak dengan pelanggan mendominasi dengan raihan Rp 3,31 triliun. Sisanya disumbangkan pendapatan sewa ruangan dan jasa apartemen Rp 1,17 triliun. 
Rekomendasi: Underweight 
Target harga: Rp 390
Henry Wibowo, JP Morgan Sekuritas

Baca Juga: Kuartal III 2022, Metropolitan Land (MTLA) Bukukan Laba Rp 268 Miliar

Ciputra Development (CTRA)
Performa marketing sales CTRA di atas ekspektasi berkat proyek di Medan dan Sulawesi. Sepanjang sembilan bulan pertama 2022, CTRA membukukan marketing sales Rp 6,5 triliun atau meningkat 30,4% yoy. CTRA menaikkan target marketing sales untuk setahun penuh 2022 menjadi Rp 8,4 triliun dari target semula di Rp 7,8 triliun. 
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 1.200
Benyamin Mikael, Sucor Sekuritas

Bumi Serpong Damai (BSDE) 
BSDE membukukan laba bersih inti Rp 1,8 triliun pada sembilan bulan pertama 2022, melebihi estimasi analis yang memprediksi Rp 1,4 triliun dalam setahun penuh. Ini didukung kenaikan pendapatan berkat penjualan lahan ke perusahaan patungan PT Bumi Parama Wisesa (Nava Park) dan PT Sinar Mitbana Mas (Mitbana) sekitar Rp 1 triliun. 
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 1.400
Victor Stefano, BRI Danareksa Sekuritas

Summarecon Agung (SMRA)
Hingga sembilan bulan di 2022, SMRA membukukan marketing sales sebesar Rp 3,49 triliun. Realisasi ini memenuhi 70% dari target di tahun ini. Analis memperkirakan kenaikan suku bunga akan mengurangi selera masyarakat berinvestasi di properti. Namun analis masih yakin marketing sales bisa SMRA bisa mencapai Rp 5 triliun.
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 1.170
Yasmin Soulisa, Ciptadana Sekuritas

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Properti CTRA, SMRA, dan APLN dari Ajaib Sekuritas

Bagikan

Berita Terbaru

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia
| Senin, 12 Januari 2026 | 10:15 WIB

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia 2026 diprediksi US$ 56 per barel, begini rekomendasi saham RATU, ELSA, MEDC, ENRG, hingga PGAS.

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer
| Senin, 12 Januari 2026 | 09:23 WIB

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer

Kenaikan UMP 2026 rata-rata 5,7% & anggaran perlindungan sosial Rp 508,2 triliun dukung konsumsi. Rekomendasi overweight konsumer: ICBP top pick.

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:57 WIB

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional

Akselerasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen seasonal jadi amunisi pertumbuhan industri poultry.

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:30 WIB

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang

Kendala pembangunan rumah subsidi saat ini mencakup keterbatasan lahan, lonjakan harga material, hingga margin pengembang yang semakin tertekan.

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:29 WIB

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga

Ada risiko koreksi yang cukup dalam apabila proses transaksi akuisisi BULL pada akhirnya hanya sebatas rumor belaka.

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:20 WIB

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak

Selama ini, perusahaan tersebut dikenal cukup kuat di segmen properti bertingkat atawa high rise dan strata title.

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:11 WIB

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?

RLCO sebelumnya mendapatkan negative covenant dari Bank BRI dan Bank Mandiri karena rasio utang belum memenuhi rasio keuangan yang dipersyaratkan.

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:10 WIB

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026

Pasar dalam negeri masih menjadi tumpuan bagi industri gelas kaca. APGI pun berharap, tingkat konsumsi dan daya beli bisa membaik.

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:04 WIB

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api

Harga tembaga seakan tak lelah berlari sejak 2025 lalu. Mungkinkah relinya bisa mereda setelah menyentuh rekor?

ESG ESSA: Efisiensi Sambil Wujudkan Niat Memangkas Emisi dari Energi Baru
| Senin, 12 Januari 2026 | 07:48 WIB

ESG ESSA: Efisiensi Sambil Wujudkan Niat Memangkas Emisi dari Energi Baru

Berikut ekspansi yang dilakukan PT Essa Industries Tbk (ESSA) ke bisnis lebih hijau dan berkelanjutan

INDEKS BERITA

Terpopuler