Target Intraco Penta (INTA) Angkut Kinerja Dobel Digit

Selasa, 20 Januari 2026 | 05:20 WIB
Target Intraco Penta (INTA) Angkut Kinerja Dobel Digit
[ILUSTRASI. Alat berat PT Intraco Penta Tbk (INTA) (Dok/INTA)]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Intraco Penta Tbk (INTA) menyiapkan sejumlah strategi untuk mengejar pertumbuhan pendapatan dengan level dobel digit pada tahun 2026. INTA berupaya mendiversifikasi pasar penjualan alat berat sembari memacu pendapatan dari bisnis persewaan.

Direktur Intraco Penta, Willianto Febriansa mengungkapkan, pada tahun ini INTA menargetkan pertumbuhan pendapatan berada di kisaran 10% - 15% dibandingkan realisasi di tahun 2025. Meski telah menyiapkan strategi untuk mencapai target tersebut, tapi INTA akan waspada menghadapi sejumlah tantangan yang mengiringi industri alat berat pada tahun ini.

Baca Juga: Intraco Penta (INTA) Siapkan Strategi Demi Cetak Laba

Salah satu yang menjadi sorotan adalah kebijakan pemerintah memangkas target volume produksi sejumlah komoditas tambang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. INTA pun mengantisipasi langkah efisiensi yang kemungkinan dilakukan oleh para penambang di tengah pembatasan jumlah produksi.

"Prospek bisnis alat berat pada tahun 2026 akan menantang dan Perusahaan dituntut untuk melakukan efisiensi di segala aspek. Perseroan berharap kebijakan dan rencana dari pemerintah (memangkas target produksi) ini dapat meningkatkan harga komoditas tambang dunia, terutama batubara dan nikel," kata Willianto saat dihubungi KONTAN, Minggu (18/1).

Sektor pertambangan masih menjadi pasar utama bagi bisnis alat berat INTA. Permintaan dari pelanggan di segmen batubara berkontribusi sekitar 63% terhadap seluruh pendapatan INTA. Disusul oleh nikel dengan kontribusi 14%, semen (9%), emas (5%), sektor kehutanan (4%) dan sektor lainnya (5%).

Menimbang porsi tersebut, INTA pun ingin memacu diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan sumber pendapatan dari segmen batubara.

"Tahun ini perseroan mencoba mengurangi porsi batubara dan mengembangkan sektor semen dan forestry, di samping sektor nikel dan emas yang sudah mulai menambah kontribusinya," ungkap Willianto.

Ia belum membuka kinerja keuangan maupun realisasi penjualan alat berat INTA sepanjang tahun lalu. Ia hanya memberikan perkiraan bahwa realisasi penjualan INTA pada tahun 2025 akan stabil dibandingkan dengan 2024.

Hal yang pasti, INTA bakal memacu sumber pendapatan dari lini bisnis persewaan alat berat. Sekadar mengingatkan, pada tahun lalu INTA berhasil mendongkrak secara signifikan pendapatan dari segmen bisnis jasa persewaan.

Pendapatan INTA dari jasa persewaan meroket 4.836,79% secara tahunan dari Rp 3,18 miliar menjadi Rp 156,99 miliar hingga September 2025.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Siapkan Aturan Soal Nasib Proyek Whoosh
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57 WIB

Siapkan Aturan Soal Nasib Proyek Whoosh

Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, BP BUMN dan BPI Danantara sedang menyiapkan rancangan Perpres yang mengatur keberlanjutan Whoosh

2027, Siap Pungut Cukai Minuman Berpemanis
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:47 WIB

2027, Siap Pungut Cukai Minuman Berpemanis

Dirjen Bea dan Cukai Djaka Budi Utama menargetkan pungutan cukai minuman berpemanis berlaku semester II-2026

Menyoal Risiko Penyaluran Kredit dan Transparansi Bank Mandiri
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:23 WIB

Menyoal Risiko Penyaluran Kredit dan Transparansi Bank Mandiri

Kredit jumbo Bank Mandiri ke Jhonlin Group milik Haji Isam dengan jaminan saham menjadi sorotan karena nilai pinjaman dan risikonya belum jelas.

Pemerintah Percepat Restitusi Pajak
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:19 WIB

Pemerintah Percepat Restitusi Pajak

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menginstruksikan Ditjen Pajak untuk mempercepat restitusi pajak, khususnya untuk industri padat karya dan UMKM

Suntik Rp 20 Triliun ke BPJS Kesehatan
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:07 WIB

Suntik Rp 20 Triliun ke BPJS Kesehatan

Suntikan dana tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 73 Tahun 2026. Pencairan dana tersebut dilakukan bertahap.​

Upaya Mengejar Setoran Pajak hingga Akhir Tahun
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:53 WIB

Upaya Mengejar Setoran Pajak hingga Akhir Tahun

Pemerintah masih harus mengumpulkan penerimaan sekitar Rp 750 triliun dalam tiga bulan              

Dibayangi Sentimen AS, IHSG Sepekan Naik 0,94%
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:54 WIB

Dibayangi Sentimen AS, IHSG Sepekan Naik 0,94%

Jumat (9/10), IHSG naik 1,04% atau 62,48 poin ke level 6.093,76. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat menguat 0,94%.

Ecocare Indo Pasifik (HYGN) Siapkan Ekspansi Demi Kejar Target Kinerja
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:51 WIB

Ecocare Indo Pasifik (HYGN) Siapkan Ekspansi Demi Kejar Target Kinerja

PT Ecocare Indo Pasifik Tbk (HYGN) memperluas sumber pendapatan baru di bisnis layanan higienitas terintegrasi

Tertekan Aksi Jual Paksa, Bitcoin dan Ethereum Kompak Turun
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Tertekan Aksi Jual Paksa, Bitcoin dan Ethereum Kompak Turun

Pergerakan aset kripto masih berada dalam tekanan, akibat gelombang aksi jual paksa yang melanda berbagai platform aset digital

Review Sepekan: Otot Rupiah Masih Rapuh
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Review Sepekan: Otot Rupiah Masih Rapuh

Sempat melemah ke Rp 17.917 per dolar Amerika Serikat (AS) di awal pekan, rupiah menguat tipis di akhir perdagangan pekan ini.

INDEKS BERITA

Terpopuler