Ujian Swasembada
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selat Hormuz adalah "leher" bagi tubuh ekonomi dunia yang kini tengah tercekik. Blokade di celah sempit antara Teluk Oman dan Teluk Persia ini bukan lagi sekadar simulasi militer atau gertakan diplomatik, melainkan ancaman langsung pada "piring nasi" rakyat Indonesia. Saat harga minyak mentah dunia melambung melewati ambang US$110 per barel, lonceng peringatan seharusnya berbunyi nyaring di ruang-ruang pengambilan kebijakan kita. Bagi masyarakat luas, eskalasi di Timur Tengah ini adalah awal dari badai inflasi yang nyata.
Di tengah situasi genting inilah, seruan Presiden Prabowo Subianto mengenai urgensi swasembada pangan menemukan momentum kebenarannya yang paling absolut. Visi tersebut kini bukan lagi sekadar wacana politik atau target jangka panjang, melainkan instrumen pertahanan nasional yang paling mendesak diwujudkan. Ketergantungan kronis kita pada rantai pasok global yang rapuh telah menempatkan kedaulatan perut bangsa di tangan ketegangan geopolitik luar negeri yang tak bisa kita kendalikan.
Mari kita lihat faktanya. Harga gandum impor terancam naik, niscaya menyeret harga mi instan dan roti sebagai substitusi pangan pokok. Kedelai pun tak imun; biaya logistik yang membengkak akibat premi risiko perang akan memaksa pengrajin tahu dan tempe menaikkan harga. Belum lagi ketergantungan pada impor LPG, membuat dapur masyarakat kelas menengah rentan gejolak harga internasional. Tanpa kemandirian pangan yang riil, kita hanyalah penonton tak berdaya saat harga-harga mendikte daya beli rakyat kecil.
Langkah utama Pemerintah yang tak bisa ditawar adalah audit stok pangan nasional secara transparan. Pemerintah harus berani membuka data riil mengenai ketahanan cadangan pangan kita jika blokade ini bertahan lama. Audit ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan langkah intelijen ekonomi untuk mendeteksi dini praktik penimbunan oleh spekulan yang gemar "memancing di air keruh". Jangan biarkan rakyat bertarung sendirian melawan pasar yang liar sementara gudang-gudang besar menyembunyikan isinya.
Jika Selat Hormuz benar-benar terkunci rapat, kita tidak hanya akan menghadapi jalanan yang lebih sepi karena BBM mahal, tapi juga meja makan yang lebih sunyi. Swasembada pangan harus menjadi jihad ekonomi yang konkret, bukan sekadar jargon di atas kertas. Geopolitik di negeri jauh berdampak nyata di dalam dompet kita.
