Ujian Swasembada

Selasa, 10 Maret 2026 | 03:18 WIB
Ujian Swasembada
[ILUSTRASI. TAJUK - Hasbi Maulana (KONTAN/Indra Surya)]
Hasbi Maulana | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selat Hormuz adalah "leher" bagi tubuh ekonomi dunia yang kini tengah tercekik. Blokade di celah sempit antara Teluk Oman dan Teluk Persia ini bukan lagi sekadar simulasi militer atau gertakan diplomatik, melainkan ancaman langsung pada "piring nasi" rakyat Indonesia. Saat harga minyak mentah dunia melambung melewati ambang US$110 per barel, lonceng peringatan seharusnya berbunyi nyaring di ruang-ruang pengambilan kebijakan kita. Bagi masyarakat luas, eskalasi di Timur Tengah ini adalah awal dari badai inflasi yang nyata.

Di tengah situasi genting inilah, seruan Presiden Prabowo Subianto mengenai urgensi swasembada pangan menemukan momentum kebenarannya yang paling absolut. Visi tersebut kini bukan lagi sekadar wacana politik atau target jangka panjang, melainkan instrumen pertahanan nasional yang paling mendesak diwujudkan. Ketergantungan kronis kita pada rantai pasok global yang rapuh telah menempatkan kedaulatan perut bangsa di tangan ketegangan geopolitik luar negeri yang tak bisa kita kendalikan.

Mari kita lihat faktanya. Harga gandum impor terancam naik, niscaya menyeret harga mi instan dan roti sebagai substitusi pangan pokok. Kedelai pun tak imun; biaya logistik yang membengkak akibat premi risiko perang akan memaksa pengrajin tahu dan tempe menaikkan harga. Belum lagi ketergantungan pada impor LPG, membuat dapur masyarakat kelas menengah rentan gejolak harga internasional. Tanpa kemandirian pangan yang riil, kita hanyalah penonton tak berdaya saat harga-harga mendikte daya beli rakyat kecil.

Langkah utama Pemerintah yang tak bisa ditawar adalah audit stok pangan nasional secara transparan. Pemerintah harus berani membuka data riil mengenai ketahanan cadangan pangan kita jika blokade ini bertahan lama. Audit ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan langkah intelijen ekonomi untuk mendeteksi dini praktik penimbunan oleh spekulan yang gemar "memancing di air keruh". Jangan biarkan rakyat bertarung sendirian melawan pasar yang liar sementara gudang-gudang besar menyembunyikan isinya.

Jika Selat Hormuz benar-benar terkunci rapat, kita tidak hanya akan menghadapi jalanan yang lebih sepi karena BBM mahal, tapi juga meja makan yang lebih sunyi. Swasembada pangan harus menjadi jihad ekonomi yang konkret, bukan sekadar jargon di atas kertas. Geopolitik di negeri jauh berdampak nyata di dalam dompet kita.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Prabowo Ingin Semua Barang Subsidi Disalurkan Lewat Kopdes, Begini Catatan Ekonom
| Rabu, 15 Juli 2026 | 11:00 WIB

Prabowo Ingin Semua Barang Subsidi Disalurkan Lewat Kopdes, Begini Catatan Ekonom

Jika penyaluran barang bersubsidi langsung dipindahkan hanya lewat Kopdes secara nasional dan serentak, risikonya besar.

Sempat Rebound Dekati US$ 64.000, Ancaman Koreksi Bitcoin Masih Mengintai
| Rabu, 15 Juli 2026 | 10:00 WIB

Sempat Rebound Dekati US$ 64.000, Ancaman Koreksi Bitcoin Masih Mengintai

Penguatan bitcoin ditopang oleh pulihnya permintaan di pasar spot, khususnya yang datang dari investor jangka panjang dan investor institusional.

Berlina (BRNA) Menggelar Rights Issue dan Konversi Utang Rp 264,38 Miliar
| Rabu, 15 Juli 2026 | 09:02 WIB

Berlina (BRNA) Menggelar Rights Issue dan Konversi Utang Rp 264,38 Miliar

Pemegang saham pengendali  PT Berlina Tbk (BRNA) yaitu PT Dwi Satrya Utama (DSU) akan melaksanakan haknya melalui mekanisme kompensasi utang.

Menakar Arah Saham RAJA Pasca Stock Split
| Rabu, 15 Juli 2026 | 09:00 WIB

Menakar Arah Saham RAJA Pasca Stock Split

Analis mengingatkan, harga RAJA saat ini sudah berada di atas rata-rata PER maupun PBV historisnya dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir.

Dapat Penugasan Pemerintah, Asa Emiten Batubara Kembali Membara
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:58 WIB

Dapat Penugasan Pemerintah, Asa Emiten Batubara Kembali Membara

Kementerian ESDM meminta badan usaha pertambangan untuk memasok batubara hingga 212 juta ton ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). ​

Ekspor Perdana Aluminium Bisa Mengerek Pendapatan ADMR
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:46 WIB

Ekspor Perdana Aluminium Bisa Mengerek Pendapatan ADMR

Ekspansi pasar ke mancanegara jadi katalis penting bagi prospek jangka menengah PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

Saham IPO Masih Loyo, Cermati Prospek dan Fundamental Emiten
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:37 WIB

Saham IPO Masih Loyo, Cermati Prospek dan Fundamental Emiten

Harga saham enam emiten yang melantai di BEI lewat skema penawaran umum perdana saham (IPO) sepanjang Juli 2026 terus melemah.​

Tak Cuma Rights Issue, Harga Pelaksanaan Private Placement Juga bisa Dibawah Gocap
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:35 WIB

Tak Cuma Rights Issue, Harga Pelaksanaan Private Placement Juga bisa Dibawah Gocap

Perubahan aturan harga pelaksanaan rights issue dan private placement menjadi konsekuensi logis dari kebijakan BEI tiga tahun silam.

Rogoh Kocek Rp 1,48 Triliun, Merdeka Copper Gold (MDKA) Siap Lunasi Obligasi
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:30 WIB

Rogoh Kocek Rp 1,48 Triliun, Merdeka Copper Gold (MDKA) Siap Lunasi Obligasi

Dana pelunasan obligasi tersebut akan disetorkan MDKA kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebelum tanggal jatuh tempo.

Pergerakan IHSG Ditopang Sentimen Positif Inflasi AS
| Rabu, 15 Juli 2026 | 08:09 WIB

Pergerakan IHSG Ditopang Sentimen Positif Inflasi AS

Fokus utama investor adalah perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan nilai tukar rupiah, dan data inflasi AS.

INDEKS BERITA

Terpopuler