Usai Kemeriahan Lebaran, MAPI Bakal Hadapi Tantangan Tekanan Daya Beli

Senin, 23 Maret 2026 | 08:00 WIB
Usai Kemeriahan Lebaran, MAPI Bakal Hadapi Tantangan Tekanan Daya Beli
[ILUSTRASI. PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) - grup MAPI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dampak perang yang terjadi nun jauh di sana, secara perlahan bakal terasa di tanah air, salah satu yang paling cepat merasakan mungkin sektor ritel, khususnya menengah ke atas seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Ritel fesyen dan gaya hidup ini sangat bergantung dengan produk impor, jika biaya energi dan logistik naik, maka imbasnya langsung terasa ke gerai.

Andrianto Saputra, Research Analyst Indo Premier Sekuritas menilai sebagai importir produk fesyen dan gaya hidup, MAPI sangat bergantung pada belanja diskresioner, sehingga tekanan terhadap daya beli dapat langsung berdampak pada pertumbuhan penjualan di gerai atau same store sales growth (SSSG). Ini sempat dirasakan gerai fesyen ini pada tahun 2022-2023 lalu ketika gejolak harga minyak melanda.

Kala itu, kenaikan harga BBM non subsidi seperti Pertamax mengalami kenaikan, sejalan dengan itu, pertumbuhan penjualan MAPI juga ikut melambat karena konsumen menahan belanja non esensial. Oleh karena itu, kondisi harga minyak global yang relatif tinggi saat ini dan diperkirakan akan bertahan dalam waktu lama, diprediksi juga akan berpotensi menekan SSSG MAPI.

Baca Juga: Investor Asing Agresif di Saham Ritel Jelang Lebaran, MAPI Paling Banyak Dibeli

Indo Premier memperkirakan setiap penurunan 1% SSSG akan berdampak cukup signifikan terhadap kinerja dan laba emiten ritel ini. Laba MAPI diperkirakan bahkan bisa turun hingga 5% jika terjadi penurunan 1% pada SSSG. Sementara dari sisi valuasi, sektor ritel saat ini sebenarnya sudah diperdagangkan relatif rendah.

Dipta Amelia Daniswara, Equity Research Retail Sinarmas Sekuritas menilai penjualan fesyen MAPI pasti mengalami kenaikan saat Lebaran. Namun Lebaran kali ini tidak seperti Lebaran tahun-tahun sebelumnya, terjadinya perang di Timur Tengah sangat mempengaruhi perekonomian global, termasuk ekonomi Indonesia.

Pasar saham global bergejolak, orang cenderung menahan belanja.  Di sisi lain, harga energi, logistik dan komoditas juga ikutan melambung. Jadi meskipun demand-nya positif di dalam negeri, justru gejolak di luar negeri berpotensi merembet yang membuat daya beli tertekan pasca Lebaran. Antisipasinya justru terjadi setelah Lebaran nanti ketika momentum berakhir.

Kalau pada saat Lebaran, biasanya emiten sudah mengisi stok jauh-jauh hari, sedangkan setelah periode Lebaran usai, peritel baru akan mulai mengisi kembali stok dengan harga energi dan logistik yang disesuaikan. Apalagi untuk emiten yang mengandalkan produk impor, tentunya beban biaya logistik dan energi akan jauh lebih besar.

Kalau melihat penjualan hanya pada saat Lebaran, Dipta menilai kinerja MAPI masih cukup positif, tetap jika melihat jangka menengah, kinerjanya akan sangat bergantung dengan kondisi geopolitik. Jadi meskipun permintaan saat ini naik, tetapi keadaan global kurang mendukung, ya, itu akan jadi tantangan. Makanya Ia tak merekomendasikan sektor ritel untuk jangka menengah karena sentimennya masih kurang bagus.

Sementara, Christy Halim, Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa program diskon bisa menjadi salah satu strategi untuk memperpanjang nafas emiten ritel di kondisi saat ini. Tidak hanya promosi yang dilakukan menjelang Ramadan dan Lebaran, tetapi juga untuk mengurai stok lama, hal ini bertujuan untuk menjaga daya tarik konsumen di tengah tantangan daya beli.

MAPI telah sukses menerapkan strategi ini pada akhir tahun lalu saat periode libur panjang, namun di awal tahun polanya justru menurun seiring berakhirnya periode Nataru. Namun, yang menarik, promosi dan diskon yang saat ini  dilakukan MAPI fokus pada sisa stok atau stok lama yang belum terjual.

Rekomendasi Saham

BRIDS masih merekomendasikan beli untuk saham MAPI dengan target harga 1.400, saat ini saham MAPI diperdagangkan di harga 1.105, emiten ini dianggap masih menawarkan potensi kenaikan yang cukup menarik meskipun masih ada risiko dari tekanan daya beli dan biaya logistik.

Dari sisi valuasi, MAPI dinilai masih cukup atraktif dengan proyeksi PER tahun ini di level 9,9 kali dan PBV sebesar 1,4 kali. Sementara itu, tingkat pengembalian return of equity (ROE) diperkirakan mencapai 15%, profitabilitasnya dianggap masih cukup solid.

Sementara Andrianto juga merekomendasikan beli untuk saham MAPI dengan target yang lebih agresif di level 1.600 per saham. Dari sisi fundamental, Indo Premier memproyeksikan pertumbuhan laba yang kuat dengan earnings diperkirakan tumbuh 19,9% secara year on year (YoY), kenaikan ini juga masih akan berlanjut pada tahun depan dengan proyeksi 17,5%.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Siapkan Aturan Soal Nasib Proyek Whoosh
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57 WIB

Siapkan Aturan Soal Nasib Proyek Whoosh

Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, BP BUMN dan BPI Danantara sedang menyiapkan rancangan Perpres yang mengatur keberlanjutan Whoosh

2027, Siap Pungut Cukai Minuman Berpemanis
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:47 WIB

2027, Siap Pungut Cukai Minuman Berpemanis

Dirjen Bea dan Cukai Djaka Budi Utama menargetkan pungutan cukai minuman berpemanis berlaku semester II-2026

Menyoal Risiko Penyaluran Kredit dan Transparansi Bank Mandiri
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:23 WIB

Menyoal Risiko Penyaluran Kredit dan Transparansi Bank Mandiri

Kredit jumbo Bank Mandiri ke Jhonlin Group milik Haji Isam dengan jaminan saham menjadi sorotan karena nilai pinjaman dan risikonya belum jelas.

Pemerintah Percepat Restitusi Pajak
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:19 WIB

Pemerintah Percepat Restitusi Pajak

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menginstruksikan Ditjen Pajak untuk mempercepat restitusi pajak, khususnya untuk industri padat karya dan UMKM

Suntik Rp 20 Triliun ke BPJS Kesehatan
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:07 WIB

Suntik Rp 20 Triliun ke BPJS Kesehatan

Suntikan dana tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 73 Tahun 2026. Pencairan dana tersebut dilakukan bertahap.​

Upaya Mengejar Setoran Pajak hingga Akhir Tahun
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:53 WIB

Upaya Mengejar Setoran Pajak hingga Akhir Tahun

Pemerintah masih harus mengumpulkan penerimaan sekitar Rp 750 triliun dalam tiga bulan              

Dibayangi Sentimen AS, IHSG Sepekan Naik 0,94%
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:54 WIB

Dibayangi Sentimen AS, IHSG Sepekan Naik 0,94%

Jumat (9/10), IHSG naik 1,04% atau 62,48 poin ke level 6.093,76. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat menguat 0,94%.

Ecocare Indo Pasifik (HYGN) Siapkan Ekspansi Demi Kejar Target Kinerja
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:51 WIB

Ecocare Indo Pasifik (HYGN) Siapkan Ekspansi Demi Kejar Target Kinerja

PT Ecocare Indo Pasifik Tbk (HYGN) memperluas sumber pendapatan baru di bisnis layanan higienitas terintegrasi

Tertekan Aksi Jual Paksa, Bitcoin dan Ethereum Kompak Turun
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Tertekan Aksi Jual Paksa, Bitcoin dan Ethereum Kompak Turun

Pergerakan aset kripto masih berada dalam tekanan, akibat gelombang aksi jual paksa yang melanda berbagai platform aset digital

Review Sepekan: Otot Rupiah Masih Rapuh
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Review Sepekan: Otot Rupiah Masih Rapuh

Sempat melemah ke Rp 17.917 per dolar Amerika Serikat (AS) di awal pekan, rupiah menguat tipis di akhir perdagangan pekan ini.

INDEKS BERITA

Terpopuler