Akar Masalah Kepatuhan Pajak

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:35 WIB
Akar Masalah Kepatuhan Pajak
[ILUSTRASI. TAJUK - Haris Hadinata (KONTAN/Indra Surya)]
Harris Hadinata | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertengahan Juli lalu, Bank Dunia merilis laporan bertajuk Indonesia-Unlocking Businesses' Tax Potential for Growth. Laporan ini terutama membahas mengenai perpajakan di Indonesia, termasuk soal masalah dalam sistem perpajakan. Tentu saja, Bank Dunia juga menawarkan solusi.

KONTAN sejatinya sudah cukup sering membahas berbagai masalah perpajakan yang dipaparkan oleh Bank Dunia dalam laporan tersebut. Misalnya rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto yang masih rendah dibandingkan negara tetangga, tax buoyancy yang juga rendah, batas omzet UMKM penerima insentif pajak yang ketinggian, hingga penghindaran pajak.

Bank Dunia juga menilai tingginya tingkat informalitas usaha, dangkalnya kedalaman sektor keuangan Indonesia, serta kerumitan administrasi menjadi masalah perpajakan. Ini mempengaruhi kepatuhan para wajib pajak.

Yang menarik, sejumlah masalah tersebut terjadi sebenarnya bukan karena wajib pajak sengaja tidak membayar pajak buat memperbesar pendapatan. Tapi, Bank Dunia mendapati, masalah terjadi karena banyak wajib pajak yang tidak mempercayai pemerintah.

Laporan Bank Dunia tersebut memaparkan, banyak pelaku usaha kecil dan mikro merasa enggan membayar pajak karena munculnya persepsi bahwa dana pajak yang dikumpulkan tidak dikelola dengan baik, melainkan berisiko hilang akibat pemborosan atau korupsi.

Ini lantas juga berdampak pada pendalaman transaksi keuangan. Hasil survei Bank Dunia menunjukkan banyak pedagang atau pelaku usaha kecil ogah memakai transfer bank maupun pembayaran digital, termasuk QRIS.

Motivasi utamanya adalah menghindar dari pemantauan pemerintah. Para pelaku usaha memiliki rasa tidak percaya dan kekhawatiran bahwa pajak yang dipungut dari mereka akan terbuang sia-sia.

Bank Dunia juga menyebut, tingginya informalitas usaha tidak hanya disebabkan oleh biaya perizinan yang mahal, tetapi juga oleh rendahnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga pemerintah. Info saja, proporsi usaha informal mencapai 67% hingga 78,4%.

Bank Dunia juga memberi solusi atas masalah ini. Caranya, pemerintah harus menunjukkan manfaat nyata hasil dari pengumpulan pajak kepada publik. Pemerintah harus membuktikan uang pajak yang dikumpulkan benar-benar kembali ke masyarakat. Nah, bisa enggak pemerintah membuktikan ini?

Bagikan

Berita Terbaru

Investor Asing Rajin Borong Saham BRPT, Ditopang TPIA hingga Proyek Waste to Energy
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:17 WIB

Investor Asing Rajin Borong Saham BRPT, Ditopang TPIA hingga Proyek Waste to Energy

Tekanan yang sempat muncul akibat faktor MSCI telah membuat sebagian besar risiko tercermin dalam harga saham BRPT.

Rupiah Masih Akan Cermati Data Ekonomi pada Selasa (4/8)
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:55 WIB

Rupiah Masih Akan Cermati Data Ekonomi pada Selasa (4/8)

Melansir Bloomberg, di pasar spot rupiah ditutup menguat 0,14% per hari ke level Rp 17.997 per dolar AS, Senin (3/8).

Too Good to Be Trump, Narasi yang Menggerakkan Pasar
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:51 WIB

Too Good to Be Trump, Narasi yang Menggerakkan Pasar

Inilah framing effect: sebuah cara peristiwa dibingkai dapat menghasilkan reaksi yang bertolak belakang.

Ekspansi Kredit Bank Digital Masih Melaju Kencang
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:50 WIB

Ekspansi Kredit Bank Digital Masih Melaju Kencang

​Bank digital masih tancap gas. Pertumbuhan kreditnya melampaui laju industri, meski kini mulai lebih selektif menjaga kualitas aset.

Di Balik 6 Juta Hektare Lahan Sawit Ilegal
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:43 WIB

Di Balik 6 Juta Hektare Lahan Sawit Ilegal

Transformasi tata kelola ekspor sawit, juga mempersyaratkan transformasi tata kelola produksi berupa percepatan pelaksanaan reforma agraria.

Akar Masalah Kepatuhan Pajak
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:35 WIB

Akar Masalah Kepatuhan Pajak

Banyak pelaku UMKM merasa enggan membayar pajak karena munculnya persepsi bahwa dana pajak yang dikumpulkan tidak dikelola dengan baik.

Kredit Konsumer Semakin Loyo
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:35 WIB

Kredit Konsumer Semakin Loyo

​Di tengah laju kredit perbankan yang semakin menguat, kredit konsumer justru semakin kehilangan tenaga.

Konflik Timur Tengah Memantik Yield SBN
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:30 WIB

Konflik Timur Tengah Memantik Yield SBN

Sepanjang kuartal II-2026 investor nonresiden membukukan pembelian bersih (net buy) SBN sebesar Rp 32,09 triliun.

Biaya Dana Naik, Penerbitan Obligasi Korporasi Menurun
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:30 WIB

Biaya Dana Naik, Penerbitan Obligasi Korporasi Menurun

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat,  penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 112,31 triliun pada Januari–Juli 2026

Rasio NPL Turun, Namun Risiko Kredit Masih Mengintai Perbankan
| Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:30 WIB

Rasio NPL Turun, Namun Risiko Kredit Masih Mengintai Perbankan

​Rasio NPL perbankan memang mengalami penurunab, tetapi nilai kredit bermasalah justru masih bertambah.

INDEKS BERITA

Terpopuler