Ambisi Energi Surya

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:11 WIB
Ambisi Energi Surya
[ILUSTRASI. TAJUK - SS kurniawan (KONTAN/Steve GA)]
S.S. Kurniawan | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Panel surya yang membentang, tidak hanya di atap bangunan, juga di permukaan tanah dan air, kelak bakal menjadi pemandangan biasa. Bahkan, hingga daerah-daerah di pelosok negeri.

Pemerintah belakangan menggaungkan megaproyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas total 100 gigawatt (GW). Bahkan, pemerintah berambisi pembangunannya dalam waktu yang singkat, dua tahun ke depan. PLTS jadi strategi untuk mengatasi tantangan transisi energi dan memperkuat swasembada energi.

Rencananya, pemerintah mengembangkan PLTS melalui berbagai pendekatan, mulai skala besar hingga kecil, termasuk di wilayah terpencil. Salah satu strateginya adalah memperluas program dedieselisasi atau penggantian pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berbahan bakar solar dengan PLTS.

Untuk ini, PLN berencana melakukan pengurangan pada 741 lokasi PLTD yang terdiri dari 2.396 unit di seluruh Indonesia, dengan kapasitas total 1.076 megawatt (MW).

Kemudian, untuk mempercepat pengembangan PLTS 100 GW, PLN meluncurkan PLTS Mentari Nusantara I dengan total kapasitas 1,225 GW. Pengembangan proyek energi bersih ini melalui skema pengadaan terintegrasi bertajuk Giga One. 

Energi surya memang sangat layak jadi pilihan utama. Selain potensi sinar Matahari melimpah ruah di Indonesia, mencapai 3.200 GW, biaya pengembangan energi surya termasuk sistem penyimpanan energi baterai (BESS) turun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga, harga keekonomian pembangkit ini menjadi sangat kompetitif.

Program PLTS 100 GW juga bisa menjadi penyelamat industri panel surya dalam negeri yang saat ini terkena tarif bea masuk sangat tinggi oleh Amerika Serikat (AS), mencapai 85,99% hingga 143,30%. Ini mengingat, AS merupakan pasar penting bagi produk panel surya Indonesia. Ekspornya melonjak hingga 757% menjadi US$ 2,1 miliar di 2025 dibanding angka 2023.

Alhasil, Program PLTS 100 GW bisa menyerap produk panel surya lokal yang kapasitas produksinya saat ini total 10 GW per tahun.

Hanya, untuk menjadi game changer, wajib ada dukungan penuh dari pemerintah seperti penyediaan lahan. Sebab, untuk membangun PLTS 1 MW, butuh lahan seluas 1 hektare. Lalu, insentif dan aturan yang bisa membangun ekosistem industri rantai pasok PLTS yang kondusif bagi investor dalam dan luar negeri. Sehingga, mau membangun manufaktur di Indonesia.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik
| Senin, 02 November 2026 | 07:51 WIB

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik

Rencana akuisisi Frisian Flag Indonesia juga berpotensi memperkuat posisi bisnis PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ).

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG
| Senin, 02 November 2026 | 07:09 WIB

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG

Peristiwa ini membuktikan OJK independen dan menjatuhkan sanksi tanpa pandang bulu, sekalipun sekuritas tersebut dimiliki  tokoh penting,

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027
| Senin, 02 November 2026 | 07:06 WIB

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027

Pemerintah memberikan sinyal akan melanjutkan pengetatan kontrol kuota produksi di RKAB 2027, khususnya untuk komoditas bijih nikel dan batubara

Tak Sekedar Memantau Kendaraan
| Senin, 02 November 2026 | 07:06 WIB

Tak Sekedar Memantau Kendaraan

Fleet management system (FMS) membantu berbagai industri mendongkrak efisiensi, menekan biaya, meningkatkan keselamatan.

Pebisnis Rental Mobil Andalkan Momentum Akhir Tahun
| Senin, 02 November 2026 | 07:05 WIB

Pebisnis Rental Mobil Andalkan Momentum Akhir Tahun

Permintaan rental kendaraan secara umum masih cukup baik. Secara musiman, permintaan biasanya meningkat memasuki periode akhir tahun.

Dibayangi Data Domestik dan Implementasi HSC, IHSG Masih Berisiko Tertekan
| Senin, 02 November 2026 | 07:04 WIB

Dibayangi Data Domestik dan Implementasi HSC, IHSG Masih Berisiko Tertekan

Pergerakan IHSG akan dibayangi implementasi kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) perkembangan isu MSCI, dan sejumlah data ekonomi.

OJK Tidak Menutup Opsi Sanksi Pidana
| Senin, 02 November 2026 | 07:03 WIB

OJK Tidak Menutup Opsi Sanksi Pidana

Upaya penindakan atas kecurangan dalam penawaran saham perdana bakal terus berlanjut dalam waktu dekat

Emiten Mind Id Mengantongi Laba Tinggi
| Senin, 02 November 2026 | 07:00 WIB

Emiten Mind Id Mengantongi Laba Tinggi

Kinerja emiten Mind Id ditopang oleh kenaikan harga komoditas, peningkatan volume produksi dan penjualan, serta efisiensi operasional.

Awal Pekan, HSC Mulai Didepak dari Perhitungan IHSG, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 02 November 2026 | 06:44 WIB

Awal Pekan, HSC Mulai Didepak dari Perhitungan IHSG, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Kebijakan baru BEI mulai 2 November, saham-saham high shareholding concentration (HSC) dikecualikan dari perhitungan IHSG.

Instrumen Investasi Berguguran di Oktober
| Senin, 02 November 2026 | 06:30 WIB

Instrumen Investasi Berguguran di Oktober

Penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik menjadikan investor wait and see

INDEKS BERITA

Terpopuler