Analisis Astra International, Bisnis Mobil Lesu tapi Saham ASII Malah Terbang 31,85%

Minggu, 21 Desember 2025 | 09:05 WIB
Analisis Astra International, Bisnis Mobil Lesu tapi Saham ASII  Malah Terbang 31,85%
[ILUSTRASI. Pengunjung memadati ruang pamer kendaraan jelang penutupan pameran automotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (2/8/2025). KONTAN/Carolus Agus Waluyo]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) menunjukkan anomali menarik di pengujung tahun 2025. Di satu sisi, kinerja penjualan mobil masih terperosok lesu. Namun di sisi lain, harga saham ASII justru tampil perkasa dan bergerak kontradiktif dengan data riil di lapangan.

Data terbaru menunjukkan, penjualan mobil Astra merosot 16,41% secara tahunan (year on year/YoY) sepanjang Januari-November 2025. Total penjualan hanya mencapai 368.426 unit, menyusut dibandingkan periode sama tahun lalu yang menembus 440.806 unit. Meski demikian, Astra masih menggenggam dominasi pangsa pasar (market share) sebesar 52%.

Rinciannya, penjualan didominasi merek Toyota dan Lexus yang mencapai 225.458 unit, disusul Daihatsu 118.774 unit, Isuzu 22.668 unit, dan UD Trucks 1.526 unit.

Koreksi paling dalam terjadi di segmen Low Cost Green Car (LCGC). Penjualan mobil murah ramah lingkungan ini anjlok 30,52% menjadi 84.015 unit per November 2025, jauh di bawah capaian tahun sebelumnya yang sebesar 120.936 unit.

Meski secara akumulasi tahunan melemah, ada sedikit sinyal pemulihan bulanan. Penjualan mobil Astra pada November 2025 tercatat 36.041 unit, naik 3,3% dibanding Oktober 2025.

Baca Juga: SUPA Ngegas, Saham Bank Digital Lain Lemas

Kontras dengan lengangnya showroom mobil, lantai bursa justru mengapresiasi saham ASII. Pada perdagangan Jumat (19/12/2025), saham ASII ditutup menguat 0,38% ke level Rp 6.252 per saham.

Walau dalam sepekan terakhir terkoreksi tipis 2,97%, performa jangka panjangnya terbilang impresif. Dalam sebulan terakhir, ASII menguat 1,95%. Bahkan sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD), saham konglomerasi ini sudah terbang 31,85%.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia menganalisa, secara teknikal pergerakan saham ASII masih dalam kategori uptrend. Polanya relatif mirip dengan Indeks Keyakinan Konsumen (ICI). Namun, ia memberi peringatan dini.

Uptrend tersebut cenderung terbatas. Hal ini disebabkan oleh mulai munculnya negative divergence pada sejumlah indikator momentum,” ujar Nafan kepada KONTAN, Jumat (19/12).

Artinya, kenaikan harga saham tidak lagi didukung oleh kekuatan fundamental penjualan yang solid. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian ekspektasi pasar sudah tercermin (priced in) dalam harga saat ini. Menurut Nafan, ruang kenaikan saham ASII berpotensi terbatas atau bahkan mendekati fase akhir siklus kenaikan (final wave).

Baca Juga: Konsumsi Dijaga, Ekonomi Tetap Moderat

Diversifikasi dan Momentum Lebaran

Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Provina Visindo menambahkan, kokohnya saham ASII di tengah badai otomotif tak lepas dari struktur bisnisnya yang terdiversifikasi. Pelemahan di sektor otomotif tertopang oleh lini bisnis lain seperti jasa keuangan, alat berat (United Tractors), dan agribisnis.

“Ke depannya dengan daya beli yang diharapkan meningkat bisa meningkatkan penjualan dan stabilitas makroekonomi terjaga,” imbuh Indy.

Windy Riswanty, Head of Corporate Communications ASII mengakui tantangan daya beli yang melemah. Namun, strategi peluncuran model baru dan promo agresif di pameran otomotif menjadi andalan mempertahankan pasar.

“Kepuasan pelanggan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berharap kondisi pasar dapat berangsur membaik pada tahun depan,” kata Windy.

Optimisme juga datang dari momentum musiman. Nafan memproyeksi permintaan kendaraan berpotensi terdongkrak pada kuartal I-2026 berkat rangkaian perayaan Imlek, Ramadan, dan Lebaran. Ditambah lagi, tren penurunan suku bunga acuan diharapkan menurunkan biaya dana (cost of funds) kredit kendaraan.

Baca Juga: Laju Saham Barang Konsumsi Masih Mini

Proyeksi Keuangan & Rekomendasi Saham

Riset CGS International (25/11) menyoroti peluncuran produk baru seperti Veloz Hybrid sebagai katalis penahan penurunan volume. Analis CGS International Handy Noverdanius, Owen Tjandra, dan Elizabeth Noviana menghitung, setiap kenaikan 1% penjualan roda empat akan mengerek laba bersih ASII sebesar 22 basis poin.

CGS memproyeksikan pendapatan ASII akhir 2025 mencapai Rp 339,26 triliun, naik tipis 2,52% YoY. Namun, laba bersih diprediksi terkoreksi 8,07% YoY menjadi Rp 31,30 triliun.

Berikut adalah rangkuman rekomendasi saham ASII dari para analis:

1. CGS International

  • Rekomendasi: Add (Tambah)

  • Target Harga: Rp 6.825

  • Alasan: Momentum produk baru dan inisiatif pengembalian imbal hasil ke pemegang saham (total shareholder return).

2. Mirae Asset Sekuritas (Nafan Aji Gusta)

  • Rekomendasi: Add (Tambah)

  • Target Harga: Rp 7.175

  • Alasan: Potensi permintaan musiman (Nataru/Lebaran) dan valuasi yang masih menarik.

3. Edvisor Provina Visindo (Indy Naila)

  • Rekomendasi: Buy on Weakness

  • Target Harga: Rp 7.000

  • Alasan: Diversifikasi bisnis yang menopang kinerja konsolidasi.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Strategi Manajer Investasi di Saat IHSG Terpuruk
| Senin, 03 Agustus 2026 | 22:24 WIB

Strategi Manajer Investasi di Saat IHSG Terpuruk

Jika investor merasa kurang nyaman berada di segmen investasi saham, maka bisa beralih ke produk yang sesuai dengan profil risikonya.

Inflasi Juli 2026 Melandai ke 2,88%, Harga Pangan Turun Secara Bulanan
| Senin, 03 Agustus 2026 | 17:02 WIB

Inflasi Juli 2026 Melandai ke 2,88%, Harga Pangan Turun Secara Bulanan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88% secara tahunan atau year on year (yoy). 

Dua Bulan Minus, Neraca Dagang Indonesia Defisit US$450,5 Juta pada Juni 2026
| Senin, 03 Agustus 2026 | 15:42 WIB

Dua Bulan Minus, Neraca Dagang Indonesia Defisit US$450,5 Juta pada Juni 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia sebesar US$ 450,5 juta pada Juni 2026.

Penerimaan Negara dari Sawit Melonjak, Manfaat untuk Daerah Penghasil Masih Tersendat
| Senin, 03 Agustus 2026 | 10:15 WIB

Penerimaan Negara dari Sawit Melonjak, Manfaat untuk Daerah Penghasil Masih Tersendat

Sekitar 63% volume dan 80% nilai ekspor CPO serta produk turunannya pada 2025 berasal dari 57 perusahaan penerima fasilitas Kawasan Berikat.

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)
| Senin, 03 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)

Sentimen pasar awal pekan ini akan dipengaruhi oleh rilis sejumlah data makro, baik dari dalam negeri maupun global. 

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:47 WIB

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mulai merasakan manfaat dari energi terbarukan. Bukan hanya mengurangi emisi GRK, sekaligus efisiensi energi.

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas

Di balik upaya menjaga pasokan energi tersebut, para pekerja pengeboran migas di sektor hulu menjadi garda terdepan.

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%

Pemulihan industri otomotif nasional juga turut mendorong peningkatan permintaan terhadap produk komponen otomotif perusahaan. 

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury

Apabila imbal hasil US Treasury masih terus tinggi, maka ada kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga acuan.

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:33 WIB

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri

Kementerian Perindustrian memantau kondisi industri secara berkala guna mendeteksi potensi persoalan sejak dini.

INDEKS BERITA

Terpopuler