Berita Bisnis

Aneka Siasat Bank Genjot Porsi Kredit UMKM

Rabu, 14 Juli 2021 | 06:30 WIB
Aneka Siasat Bank Genjot Porsi Kredit UMKM

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mendorong perbankan lebih gencar menyalurkan kredit ke pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). BI bahkan akan menaikkan target porsi  kredit ke UMKM, dari 20% menjadi 30% dari total nilai penyaluran kredit perbankan. 

Per Mei 2021, BI  mencatat, penyaluran kredit ke UMKM baru mencapai Rp 1.024,4 triliun. Nilai itu setara 18,58% dari total portofolio kredit industri perbankan yang senilai Rp 5.512,2 triliun. 
 
BI menyatakan, pemenuhan porsi kredit UMKM dari 20% menjadi 30% akan dilakukan bertahap hingga tahun 2024. Agar memenuhi terget tersebut, bank bisa menempuh sejumlah strategi selain menyalurkan kredit secara langsung. Misalnya,  bermitra dengan  fintech peer to peer lending (p2p lending), Permodalan Nasional Madani (PNM), Pegadaian, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan lainnya. Juga bisa lewat pembiayaan surat berharga yang penggunaan dananya untuk pembiayaan inklusif. 
 
Direktur Utama Bank Neo Commerce (BBYB) Tjandra Gunawan bilang, untuk penyaluran kredit UMKM, Bank Neo bekerjasama dengan sekitar sembilan fintech untuk menyalurkan pembiayaan produktif,  modal kerja dan pembiayaan konsumtif. "Kami harapkan ini dapat membantu pelaku UMKM untuk beroperasi lebih efisien," ujarnya, kemarin (13/7). 
 
Untuk pembiayaan produktif, Bank Neo bekerja sama dengan Crowdo, Esta Kapital, Restock.id, dan Modal Rakyat. Sedangkan untuk pembiayaan konsumtif, bank ini bekerja sama dengan Finmas dan Kredito, dan dalam jangka waktu dekat Kredit Cepat, Finplus, Danai.id dan Bantusaku. 
Tjandra menargetkan dapat menyalurkan kredit hingga akhir 2021 senilai Rp 750 miliar melalui kemitraan dengan 15 hingga 20 entitas fintech.
 
Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP (NISP) Parwati Surjaudaja menyatakan bahwa segmen UMKM punya tantangan tersendiri. Terlebih saat kondisi ekonomi dan pandemi saat ini telah berdampak bagi pelaku UMKM. "Rasio kredit UMKM di OCBC sebesar 16% dari total kredit. Kami tetap optimistis ini akan menjadi satu core nasabah yang akan kami bina," ujar Parwati, Selasa (13/7).
 
Bergantung konsumsi
 
Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga berkomitmen tetap salurkan kredit UMKM meskipun mendapatkan mandat untuk tetap fokus di sektor properti. Direktur Risk Management and Transformation Bank BTN Setiyo Wibowo bilang, strategi ke sektor UMKM akan difokuskan pada ekosistem perumahan.
 
"Mulai dari pengembang kecil, para kontraktor, supplier bangunan, toko bangunan, dan lainnya yang menjadi bagian dari ekosistem perumahan. Sebagian besar akan dikerjakan oleh BTN sendiri, atau kerjasama dengan institusi lain," ujar Setiyo.
 
Adapun Direktur Bank Central Asia Tbk (BBCA) Vera Eve Lim mencermati bahwa faktor yang mendorong pertumbuhan kredit UMKM bergantung pola konsumsi masyarakat yang juga berdampak pada kebutuhan modal kerja. "Dukungan BCA terhadap UMKM diimplementasikan dengan gerakan Bangga Lokal yang sejalan dengan program pemerintah yakni gerakan Bangga Buatan Indonesia," kata dia kepada KONTAN.
 
BCA mencatatkan outstanding kredit UMKM sebesar Rp 76,5 triliun per Maret 2021. Nilai itu setara dengan 13,03% dari total kredit BCA senilai Rp 586,8 triliun pada kuartal pertama tahun 2021.    


Baca juga