Arungi Pesta Pernikahan Tanpa Menambah Beban Alam
Jika Anda melihat tumpukan kado yang dibawa para tamu, rasanya seperti sedang berada di acara tukar kado di acara sekolah. Tidak pakai kertas kado cantik berhiaskan bunga, melainkan menggunakan kertas koran.
Sayangnya bukan. Ini adalah acara resepsi pernikahan Moyang dan Ipang. Sejak membagikan undangan pernikahannya, kedua pasangan yang menikah tahun 2017 silam itu berpesan, agar kado yang diberikan dibungkus dengan kertas bekas.
Rupanya tak hanya kado, amplop diberikan tamu undangan ada juga yang menggunakan kertas bekas. "Walaupun tidak banyak, tapi kami luar biasa bahagia menemukan tamu yang mematuhi instruksi dan bungkus kado dengan koran bekas atau menggunakan kembali lembar undangan sebagai amplop," kenangnya.
Saat menyiapkan pernikahan, Moyang mengaku sempat tertegun membayangkan berapa banyak sampah yang akan disumbangkan dari hajatan seharinya. Apalagi ia sempat membaca artikel bahwa pernikahan selama 3-4 jam dan dihadiri 300 orang saja bisa menyumbang 182 kg - 272 kg sampah.
Walau bukan penggiat lingkungan, tetapi Moyang dan Ipang ingin mencoba menerapkan yang tidak memberi dampak buruk terhadap bumi. Dalam kurun 6-7 bulan setelah lamaran, kedua pasangan itu melakukan riset untuk mencari konsep pernikahan yang lebih ramah lingkungan.
Akhirnya, pernikahan impian mereka diwujudkan dengan memilih benih tanaman sebagai souvenir, menggunakan kertas bekas sebagai dekorasi, meminta katering yang memakai alat makan yang bisa dicuci hingga membeli sendiri peralatan makan tambahan bahan kulit jagung. "Kami bekerja sama dengan komunitas yang mengolah bunga sisa acara pernikahan. Mereka datang, lalu bunganya dibuatkan buklet dan dibagikan ke tamu," bebernya.
Untuk mengurangi jejak karbon, pasangan ini juga meminta tamu menggunakan transportasi umum. Sebab, lokasi acara dekat dengan stasiun Pasar Minggu. "Bila berkenan Anda bisa menggunakan transportasi umum," demikian pesan yang ditulis di undangan.
Hal serupa dilakukan Bukhi dan Iksan yang sempat viral di awal tahun ini. Pernikahan mereka menjadi perbincangan di media sosial lantaran banyak mengadopsi konsep sustainable wedding.
Tidak sekedar melakukan riset pernikahan ramah lingkungan yang sudah ada saja, pasangan ini benar-benar melakukan persiapan jauh-jauh hari. Wanita yang memiliki ketertarikan akan sustainable lifestyle ini mengumpulkan rekan-rekannya untuk membuat riset tentang konsep pernikahan ideal dengan tujuan menemukan pemaknaan kembali pesta perayaan pernikahan yang sakral namun tetap berkontribusi bagi keberlangsungan hidup alam.
Menurut Bukhi Prima Putri, ide ini berangkat dari falsafah Bali, Tri Hita Karana. Bagaimana menjaga keharmonisan dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan. "Kami ingin membawa falsafah itu di pernikahan ini," ujarnya.
Meski konsepnya disusun sendiri, pernikahan ramah lingkungan ini juga menggunakan bantuan perencana pernikahan. Vendor yang diajak bekerja sama adalah perusahaan yang pernah menyelenggarakan konsep serupa.
Tak cukup sampai di situ, dalam pelaksanaannya ia pun berusaha memastikan proses mempersiapkan hidangan benar-benar tidak menimbulkan tambahan sampah baru.
Vendor katering diajak ke pasar, dan sebelumnya sudah disiapkan terlebih dahulu tempat membungkus agar bahan yang dibeli tidak menghasilkan sampah baru. Lalu minyaknya juga pakai minyak kelapa bukan minyak sawit.
Untuk suvenir dipilih hasil bumi. Ada pete, mangga, bawang putih, kacang dan beras. "Tidak seribet yang dibayangkan. Banyak yang membantu," cetusnya.
Yang berbeda dari pernikahan lain, tak sekedar soal penyelenggaraan acara, Bukhi dan Iksan juga memberi kesempatan tamu yang datang merasakan gaya hidup keberlanjutan. Tamu diberi kesempatan merasakan mencuci piring sendiri menggunakan lerak dan loofah, tamu bisa ikut terlibat mengurangi jejak karbon yang terpakai selama persiapan acara dengan mengadopsi pohon.
Kemudian pasangan ini juga menghadirkan pengalaman memilah sampah. Sampah yang dihasilkan selama acara disalurkan ke bank sampah tak jauh dari lokasi pernikahan. Sedangkan sisa makanan juga ditimbang. Hasilnya sekitar 10 kg.
Penuh tantangan
Sebagai sesuatu yang baru, konsep sustainable wedding bukan tanpa tantangan. Apalagi bisa dibilang kehadirannya belum tentu sejalan dengan adat dan kebiasaan masyarakatnya.
Walaupun semuanya dikonsep dari awal, realita di lapangan bisa berbeda. Contohnya ketika memutuskan tidak menggunakan air minum dalam kemasan, melainkan menyediakan gelas dan tempat isi ulang. Saat hari pelaksanaan, ada beberapa tamu Bukhi dan Iksan bingung karena ada dispenser tetapi gelas tidak ada.
Menurut Bukhi, tantangannya adalah menyamakan visi dan misi dengan mitra yang terlibat menjadi persoalan tersendiri. Bagaimana edukasi pihak katering mengurangi penggunaan plastik? Lalu bagaimana memberi pemahaman agar tidak pakai air minum kemasan?"Waktu itu sempat terlupa dan pakai air kemasan. Praktiknya memang tidak bisa 100%," terangnya.
Namun Bukhi dan Iksan beruntung, soalnya keluarga dan teman-teman mereka sudah cukup terbiasa dengan gaya hidup ramah lingkungan. Menurut Bukhi, sebenarnya dalam penyelenggaraan sustainable wedding tidak ada rumus bakunya. Semuanya ini kembali pada konsep yang diinginkan oleh masing-masing pasangan saja.
Sementara itu, Moyang mengaku harus beradaptasi dengan keluarga. Lantaran keluarga pasangannya adalah keluarga besar, jumlah tamu yang diundang tidak bisa ditekan. Akhirnya diusahakan mengimbangi potensi sampah baru dengan menggunakan alat makan ramah lingkungan. Pasangan ini rela merogoh koceknya lagi untuk membelinya sendiri.
Persoalan lain terjadi pada himbauan yang sudah dibuat pada undangan, tidak semua tamu ikut arahan. Yang datang pakai transportasi umum, menggunakan kertas bekas untuk kado kebanyakan teman-temannya saja. "Kalau saudara atau tamu yang usianya lebih tua agak susah," timpalnya.
Soraya Ayu Hapsari, pemilik Savitri Wedding menilai, penyelenggaraan pernikahan yang ramah lingkungan ini sangat memerlukan dukungan keluarga. Tidak bisa kalau hanya sekedar datang dari keinginan calon pengantinnya saja. "Kami pernah bertemu calon klien yang sudah semangat banget dengan konsep ini tetapi terpaksa batal karena keluarganya tidak setuju," kisahnya.
Yang sering terjadi kalau ini adalah pernikahan anak tunggal atau anak bungsu, biasanya orang tua punya keinginan membuat pesta besar-besaran. Nah inilah yang sering berseberangan dengan konsep sustainable wedding.
Sementara terkait biaya, Soraya malah menyebut konsep sustainable wedding ini tidak harus mengeluarkan anggaran besar. Ia masih meyakini ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menekan biaya.
Seharusnya dengan konsep sustainable wedding yang identik dengan intimasi, jumlah tamunya tidak terlalu banyak. Besaran biaya sudah bisa ditekan dengan jumlah tamu.
Kemudian beberapa kebutuhan seperti baju pengantin dan dekorasi juga bisa disewa. Selain lebih murah, cara ini juga mengurangi potensi sampah. "Kalau mau hemat, bisa juga dibuat undangannya tidak semua dicetak, lalu dokumentasi acara juga tidak semua dicetak tetapi disimpan dalam bentuk digital," terangnya.
Semakin ke sini kebutuhan material yang ramah lingkungan sudah jauh lebih murah, karena tingkat permintaan dan pasokannya yang tinggi. Lain cerita dengan jaman dulu, dimana masih jarang penjualannya alhasil mau tak mau harganya pasti lebih mahal.
Pengalamannya cukup dengan biaya Rp 80 juta sudah bisa membuat pesta pernikahan ramah lingkungan untuk 200 undangan. Malah Soraya bilang, dari sisi perencana pernikahan, konsep sustainable wedding ini menuntut penyelenggara acara lebih detail memikirkan acaranya.
Terkait persoalan sampah dan sisa makanan, jika sebelumnya ini hanya dibuang ke tempat pembuangan sekarang harus dipikirkan betul bagaimana bisa diolah lagi dan dimanfaatkan kembali.
Contohnya bunga sisa dekorasi. Bunga sisa ini tidak dibiarkan terbuang, tetapi Savitri Wedding bekerja sama dengan komunitas Jogja Berbunga untuk mengemas lagi bunga tersebut dan memberikannya lagi ke orang terkasih atau orang yang sedang sakit.
Lalu untuk sampah masker dan sarung tangan, juga diteruskan ke mitra yang bisa mengolahnya dengan lebih bertanggung jawab.
"Yang paling penting adalah harus banyak melakukan kolaborasi," ujar Soraya.
Tertarik bikin pernikahan ramah lingkungan?
