Antisipasi Dampak B50

Sabtu, 04 April 2026 | 06:10 WIB
Antisipasi Dampak B50
[ILUSTRASI. Adi Wikanto (KONTAN/Indra Surya)]
Adi Wikanto | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah bidang energi menahan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 1 April 2026 layak mendapat apresiasi. Meskipun langkah pemerintah ini sangat berisiko terhadap kesehatan fiskal. Harga BBM yang stabil penting untuk menjaga daya beli masyarakat kalangan menengah ke bawah. 

Namun jangan terlalu bergembira! Ada kebijakan energi lain yang perlu diwaspadai dampak negatifnya. Kebijakan tersebut adalah rencana mandatori B50 mulai 1 Juli 2026 yang bisa berimplikasi buruk terhadap ketahanan pangan dan stabilitas harga kebutuhan pokok. 

Meskipun pemerintah menyatakan B50 mendukung kemandirian energi dan efisiensi fiskal. Bahkan, pemerintah klaim penghematan subsidi energi hingga Rp 48 triliun dalam enam bulan. 

Berlakunya B50 berarti peningkatan signifikan penggunaan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel. Ketika permintaan CPO untuk energi melonjak, kompetisi antara kebutuhan energi dan pangan menjadi tak terhindarkan. Padahal di tengah moratorium lahan sawit yang berlangsung sejak 2018, CPO tetap menjadi bahan baku utama produksi minyak goreng serta komoditas ekspor unggulan. 

Pengalaman sebelumnya saat implementasi B30 dan B40 menunjukkan pola yang sama: meningkatnya alokasi CPO untuk energi berbanding lurus dengan tekanan terhadap pasokan domestik minyak goreng. Akibatnya, harga melonjak dan kelangkaan kerap terjadi di pasar. 

Harga minyak goreng MinyaKita yang merupakan bagian dari kebijakan domestic market obligation (DMO) industri kelapa sawit sering di atas harga eceran tertinggi (HET). Kementerian Perdagangan menetapkan HET MinyaKita Rp 15.700 per liter. Realisasinya, rata-rata nasional harga MinyaKita Rp 16.800 per liter. Jika harga MinyaKita sudah di atas HET, harga minyak kemasan tentu lebih mahal dan membebani masyarakat.

Jika B50 diterapkan tanpa mekanisme pengaman yang kuat, risiko lonjakan harga minyak goreng semakin besar. Masalahnya bukan sekadar pada kenaikan harga, tetapi juga pada distribusi. 

Ketika produsen lebih memilih menjual CPO ke sektor energi yang menjanjikan permintaan besar dan stabil, pasokan ke industri minyak goreng bisa terpinggirkan. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat memicu praktik spekulasi dan penimbunan yang memperparah kelangkaan di tingkat konsumen.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang

Analis mengingatkan perlu berhati-hati agar tidak menganggap seluruh nilai ekonomi dari bursa karbon akan otomatis masuk ke kantong emiten EBT.

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:00 WIB

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M

Pasar sedang berspekulasi tinggi terhadap JGLE seiring dengan adanya rencana rights issue sambil mengejar tren harga saham yang terbaca uptrend.

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:30 WIB

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?

Menurut analis, BRMS menarik karena ada kombinasi antara harga emas yang tinggi dan potensi peningkatan produksi emas di Poboya secara bertahap.

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026

Dalam laporannya, Stockbit menyebutkan konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah pada 2027 berada di US$ 44.750 per ton.

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:00 WIB

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?

Mengingat jumlah pemegang saham GOTO mencapai lebih dari 456 ribu, risiko panic selling begitu nyata ketika batas psikologis Rp 50 hilang.

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:17 WIB

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?

Peningkatan frekuensi dividen BBCA cukup efektif dalam menjaga minat investor, khususnya investor yang mengutamakan pendapatan tunai dari saham.

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:20 WIB

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat

Di balik humor girl math di media sosial, pembenaran atas belanja impulsif ternyata bisa berdampak panjang. Simak ulasannya!

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:00 WIB

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?

Sukuk Ritel seri SR025 menawarkan jaminan negara dan imbalan rutin di tengah ketidakpastian pasar. Simak pertimbangan sebelum berinvestasi!

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:34 WIB

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air

Di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air yang berkelanjutan, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) menawarkan solusi pengola

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:31 WIB

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah

Persaingan bisnis taksi di layanan segmen menengah kini semakin masif. Siuapa yang dibidik dan seperti apa pasarnya? 

 
INDEKS BERITA

Terpopuler