Bank SMBC Indonesia (BTPN) Selamatan Nama Baru biar Tumbuh Berkelanjutan

Senin, 13 Januari 2025 | 06:39 WIB
Bank SMBC Indonesia (BTPN) Selamatan Nama Baru biar Tumbuh Berkelanjutan
[ILUSTRASI. Transformasi Bank BTPN menjadi SMBC Indonesia dorong pertumbuhan yang lebih mermakna dan kemajuan yang berpusat pada nasabah.]
Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Tahun 2025 menjadi lebih spesial bagi PT Bank BTPN Tbk. Per Desember tahun lalu, di usianya yang ke-66, Bank BTPN menyandang nama baru PT Bank SMBC Indonesia Tbk.

Sebenarnya, entitas SMBC Indonesia sudah ada sebagai hasil perkawinan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia pada 2019 lalu. Namun, rapat umum pemegang saham (RUPS) baru memberi restu pada Agustus 2024. Dan, nama SMBC Indonesia resmi disandang pada Desember 2024 lalu.

Henoch Munandar, Direktur Utama SMBC Indonesia menjelaskan, perubahan nama ini menjadi tonggak penting BTPN selama lima tahun bersama SMBC Indonesia. Memadukan keahlian global dan keunggulan lokal BTPN, transformasi ini memperkuat komitmen Bank SMBC untuk berinovasi menawarkan solusi finansial.

"Kami yakin, semangat kolaboratif ini akan membantu SMBC Indonesia menciptakan kehidupan yang lebih bermakna dan sejahtera bagi masyarakat Indonesia," kata Henoch.

Akihiro Fukutome, Presiden & CEO SMBC, dalam rilis resminya juga menilai, transformasi merek ini mempertegas komitmen SMBC yang kuat untuk bisnis di Indonesia.

"Dengan memanfaatkan jaringan global dan kapabilitas produk, kami akan terus memperluas bisnis kami di Indonesia," ungkap Akihiro.

Kunci dari identitas baru ini adalah segmen nasabah lebih luas. SMBC ingin pertumbuhan bank bermakna dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan (environment), sosial (social), dan tata kelola perusahaan yang baik (governance) atau ESG.

Bentuk penerapan ESG ini berupa penyediaan solusi keuangan hijau, baik berupa pinjaman maupun penyimpanan dana. Pembiayaan hijau Bank SMBC terutama untuk infrastruktur ramah lingkungan yang sejalan dengan target nol emisi karbon Pemerintah Indonesia pada 2060 mendatang.

Pembiayaan hijau, misalnya, memberikan pinjaman untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata atau Cirata Floating Power serta pemberian kredit untuk PLN dalam mengembangkan transisi energi terbarukan.

Pada akhir Desember lalu, untuk mendorong penetrasi penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT), SMBC Indonesia mengucurkan pinjaman untuk PT Surya Utama Nuansa (SUN Energy) untuk pemanfaatan energi matahari.

SMBC memberikan fasilitas multi-option trade senilai US$ 10 juta untuk mendukung kebutuhan operasional dan ekspansi proyek surya di sektor komersial dan industri. Fasilitas ini berisi letter of credit (LC) untuk mempermudah proses pembayaran internasional untuk pengadaan bahan baku, bank garansi untuk memberi jaminan keuangan saat berpartisipasi dalam lelang atau tender, serta kredit modal kerja yang menjadi sumber pendanaan operasional kelangsungan proyek. Dukungan fasilitas ini, harapannya, meningkatkan peluang SUN Energy dalam memenangkan proyek-proyek energi surya penting di Indonesia.

Sejak berdiri pada 2016, SUN Energy telah mengembangkan lebih dari 360 MWp proyek energi surya di Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Australia.

SMBC Indonesia sebelumnya sempat menyalurkan pembiayaan infrastruktur hijau, seperti pengelolaan limbah, pengelolaan air, serta infrastruktur, yang mengurangi dampak perubahan iklim. Contoh, pemberian sindikasi bagi PT Air Bersih Jakarta (ABJ) dengan total nilai Rp 8,87 triliun untuk pembangunan jaringan pipa air bersih di Kota Jakarta.

Kemudian, SMBC Indonesia berinvestasi dalam green real estate financing, yaitu pembiayaan pembangunan gedung atau proyek properti yang ramah lingkungan.

Nathan Christanto, Head of Wholesale, Commercial, and Transaction Banking SMBC Indonesia, menjelaskan, SMBC aktif menyalurkan pembiayaan hijau dan sustainability-linked loan di proyek pembangkit listrik ramah lingkungan, perkebunan berkelanjutan, kendaraan ramah lingkungan, dan proyek lainnya yang sejalan dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Mereka menargetkan mencapai emisi nol bersih, baik secara aktivitas operasional pada 2030 maupun untuk portofolio pinjaman dan investasi pada 2050 nanti.

SMBC Indonesia mencatat, penyaluran pinjaman berkelanjutan sebesar hampir Rp 17,3 triliun per akhir September 2024, atau naik 18% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, di berbagai sektor, termasuk energi terbarukan.

 

Melibatkan nasabah

Pembiayaan hijau tersebut melengkapi solusi finansial SMBC Indonesia berbasis ESG. Pada awal 2024, BTPN meluncurkan produk simpanan bernama ESG Deposit.

Dana dalam deposito tersebut nantinya dialokasikan ke proyek-proyek ESG di berbagai kategori, seperti energi terbarukan, bangunan ramah lingkungan, transportasi ramah lingkungan, efisiensi energi, pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan ramah lingkungan, penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan dan sistem pangan berkelanjutan, kemajuan sosial ekonomi, dan juga pemberdayaan.

Nasabah yang ingin secara tidak langsung membiayai proyek ESG ini, bisa menempatkan dana minimal US$ 1 juta atau setara dengan nilai rupiah.

Dari keterlibatan itu, nasabah atau deposan korporasi mendapat imbal hasil yang telah disepakati pada awal penempatan. Syaratnya, penempatan dipenuhi hingga jatuh tempo.

Untuk kegiatan sosial, SMBC Indonesia juga berkomitmen memberdayakan masyarakat melalui Program Daya yang memiliki empat pilar, yakni pengembangan kapasitas diri, literasi keuangan, peningkatan kapasitas usaha, dan kehidupan yang berkelanjutan.

Tak sendirian, SMBC Indonesia juga menggandeng mitra untuk berkolaborasi. Misalnya dengan Djarum Foundation, keduanya fokus pada pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan dengan mendanai sekolah kejuruan yang dilakukan sejak 2015. Dalam rentang 2021 hingga 2023, kolaborasi ini telah memberikan dampak positif kepada lebih dari 2.300 siswa.

Masih menggandeng Bakti Lingkungan Djarum Foundation, SMBC Indonesia juga menggelar kegiatan lari amal bertajuk Berlari untuk Bumi pada Desember tahun lalu. Satu bibit pohon mangga akan ditanam dari setiap 3,5 km yang ditempuh peserta lari. Kegiatan ini menghasilkan 1.500 bibit yang ditanam di kawasan Kudus, Jawa Tengah.

Lalu, bersama Sekolah Bisnis IPB, SMBC Indonesia telah mengembangkan kurikulum dan program pelatihan kewirausahaan untuk UMKM dan para nasabah purnabakti. Kolaborasi juga dilakukan bersama dengan coach bisnis Ari Handojo untuk penyediaan program latihan bagi karyawan dan nasabah SMBC Indonesia, serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk penyediaan akses dan informasi kesehatan terutama untuk nasabah purnabakti.

Per September 2024, Program Daya diikuti 8,75 juta penerima manfaat dari 7.659 kegiatan.

Tak hanya untuk debitur, deposan, dan masyarakat luas, SMBC Indonesia juga menerapkan gaya hidup hijau di internal. Mereka, misalnya, sudah mengantongi sertifikat greenship dengan peringkat emas dari Green Building Council Indonesia untuk SMBC Tower.

Selain itu, SMBC Indonesia mengadopsi energi terbarukan dengan memasang panel surya di salah satu kantor cabang mereka dan menyediakan mobil listrik sebagai kendaraan operasional rendah emisi.

Untuk mengurangi jejak karbon dalam operasional, SMBC Indonesia mengadopsi teknologi digital guna mengurangi penggunaan kertas, menyediakan shuttle bus karyawan buat menghemat bahan bakar minyak, dan menggunakan lampu dengan sensor gerak untuk menghemat listrik.

 

Bank universal

Kunci dari identitas baru SMBC Indonesia adalah merambah semua segmen sebagai bank universal. Sebelum merger, Bank BTPN memang fokus kepada retail. Tapi, setelah merger dan terutama rebranding, perusahaan menjadi universal banking dan lebih luas melayani korporasi.

Bagi nasabah ritel, SMBC Indonesia menyediakan berbagai layanan komprehensif seperti perbankan digital, pinjaman, pembiayaan otomotif, dan pengelolaan aset (wealth management) lewat Sinaya.

Untuk korporasi, bank ini menawarkan solusi corporate banking dan wholesale banking. Selain itu, SMBC Indonesia juga berkomitmen penuh dalam memberikan solusi finansial bagi para pensiunan dan meningkatkan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Mereka juga mengembangkan layanan perbankan digital untuk masyarakat digital melalui Jenius. Sampai akhir September 2024, SMBC Indonesia mencatatkan, Jenius digunakan lebih dari 5,9 juta pengguna yang menyebar di 38 provinsi yang ada di Indonesia.

Bukan cuma itu, SMBC Indonesia memperluas nasabah lewat anak-anak usahanya. Salah satunya, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) yang melayani nasabah dari komunitas prasejahtera produktif.

Sekadar informasi, BTPS memiliki skor ESG 28,51 dari Morningstar Sustainalytics. Untuk skor 20-30, bisnis suatu perusahaan dianggap memiliki risiko ESG medium.

Lalu, untuk menambah basis nasabah, pada Maret 2024, SMBC Indonesia mengakuisisi 51% saham OTO Group. Di dalamnya ada PT Oto Multiartha untuk pembiayaan kendaraan bermotor roda empat dan PT Summit Oto Finance (OTO Group) untuk pembiayaan kendaraan bermotor roda dua.

Bersamaan dengan segmen yang lebih luas, Bank SMBC Indonesia mencatatkan pertumbuhan bisnis. Pada Januari-September 2024, penyaluran kredit mencapai Rp 175,1 triliun, naik 16% dari periode yang sama di 2023. Mayoritas pertumbuhan disumbang Grup OTO.

Penyaluran kredit di segmen Joint Financing, Jenius, serta UMKM juga meningkat, masing-masing sebesar 676%, 124%, serta 12% year on year.

Total dana pihak ketiga SMBC Indonesia meningkat 4,4% yoy menjadi Rp 113,4 triliun. Aplikasi Jenius di antaranya menyumbang dana pihak ketiga sebesar Rp 27,2 triliun.

Jika merinci porsi simpanan, saldo simpanan murah atau current account & saving account (CASA) naik 8,1% yoy menjadi Rp 38,0 triliun. Porsinya mencapai 33,6% dari semua simpanan masyarakat. Namun, belum ada figur untuk ESG Deposit, produk baru simpanan dari SMBC Indonesia.

Dari bisnis yang lebih komplit ini, SMBC Indonesia mencatatkan pendapatan operasional konsolidasi Rp 12,97 triliun, atau lebih tinggi 24% dibanding periode sama 2023.

Pendapatan operasional ini di antaranya disumbang pendapatan bunga bersih yang naik 22% year on year menjadi Rp 10,98 triliun. Pendapatan bunga dikumpulkan dari bunga kredit, penempatan aset likuid seperti surat berharga, serta pendapatan bunga bersih dari Grup OTO. Pendapatan lainnya didapatkan dari jasa bancassurance, kartu kredit, pengelolaan kas, dan trade and guarantee.

Akhir September tahun lalu, aset SMBC Indonesia bertambah menjadi Rp 228,6 triliun.

Kendati bisnisnya semakin besar, SMBC Indonesia menanggung biaya besar dalam transformasi tersebut. Laba bersih konsolidasi tercatat sebesar Rp 1,99 triliun pada akhir September 2024, lebih rendah 4,8% yoy. Faktor penyebabnya adalah biaya kredit yang melonjak hingga 45% atau sebesar Rp 863 miliar dan peningkatan beban operasional sebesar 27% menjadi Rp 7 triliun.

Biaya-biaya tersebut berasal dari pertumbuhan volume usaha dan inisiatif yang sedang dikerjakan SMBC Indonesia serta perhitungan biaya kredit dan operasional dari Grup OTO seiring dengan pertumbuhan bisnis. Sayang, manajemen SMBC Indonesia belum mau membocorkan kinerja perusahaan akhir Desember 2024.

Meski dengan semangat baru ini, Analis Ivan Rosanova dari Binaartha Sekuritas masih merekomendasikan wait and see untuk saham BTPN. Saham BTPN di akhir tahun 2023 di Rp 2.553 dan ditutup pada 2024 di Rp 2.200. Ini artinya, ada ada penurunan 13,8% di tahun lalu. Sementara sahamnya pada Kamis (9/1) ada di posisi Rp 2.220.

Dari grup ini, menurut Ivan, saham BTPS lebih menarik. BTPS menarik untuk spekulasi beli dengan support Rp 830. Target harga Rp 1.020 dan jika menembusnya berpotensi ke Rp 1.170.

Saham BTPS di Rp 895 per saham pada Kamis (9/1). Sejumlah analis pun memberikan rekomendasi untuk BTPS. Analis Victor Stefano dari BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan hold saham BTPS dengan target harga Rp 12.00. Sedang Erni Siahaan dari Ciptadana Sekuritas memberi rekomendasi buy BTPS dengan target harga Rp 1.370 per saham.

Perlu diingat, rekomendasi saham ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham, ya. Risiko dari keputusan investasi ada di tangan masing-masing, sehingga sebaiknya disesuaikan dulu dengan tujuan keuangan dan profil risiko.

Bagikan

Berita Terbaru

Menakar Saham-saham Otomotif Pilihan Ditengah Potensi Perbaikan Permintaan
| Rabu, 04 Februari 2026 | 18:06 WIB

Menakar Saham-saham Otomotif Pilihan Ditengah Potensi Perbaikan Permintaan

Total penjualan mobil roda empat pada tahun lalu tercatat mencapai 803.687 unit, turun 7,2% YoY, sementara penjualan ritel melemah 6,3% YoY.

Harga Minyak Dunia Memanas, Ini Saham-saham yang Berpotensi Kena Imbas
| Rabu, 04 Februari 2026 | 17:25 WIB

Harga Minyak Dunia Memanas, Ini Saham-saham yang Berpotensi Kena Imbas

Harga minyak dunia kembali memanas pada perdagangan hari ini, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

A$1,6 Triliun Dana Pensiun Australia Siap Guyur RI, Ini Proyek Incaran!
| Rabu, 04 Februari 2026 | 14:59 WIB

A$1,6 Triliun Dana Pensiun Australia Siap Guyur RI, Ini Proyek Incaran!

Misi bisnis Australia lebih konkret, dengan investor institusi A$ 1,6 triliun mencari peluang di Indonesia. Pahami mengapa mereka tertarik.

Hubungan Dagang Australia–Indonesia Menguat, Investasi Energi Hijau Jadi Fokus
| Rabu, 04 Februari 2026 | 14:41 WIB

Hubungan Dagang Australia–Indonesia Menguat, Investasi Energi Hijau Jadi Fokus

Hubungan ekonomi Indonesia-Australia makin solid. Austrade ungkap potensi investasi di energi hijau, SDM, dan hilirisasi. Cek sektor prioritasnya!

Penjualan BBM dan Lahan JIIPE Melesat, Potensi Dividen dari Saham AKRA Menggoda
| Rabu, 04 Februari 2026 | 09:35 WIB

Penjualan BBM dan Lahan JIIPE Melesat, Potensi Dividen dari Saham AKRA Menggoda

Total penjualan lahan industri PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sepanjang tahun 2025 tembus 84 hektare (ha).

Batas Atas Investasi Asuransi & Dapen di Saham Naik, Penegak Hukum Harus Paham Pasar
| Rabu, 04 Februari 2026 | 09:05 WIB

Batas Atas Investasi Asuransi & Dapen di Saham Naik, Penegak Hukum Harus Paham Pasar

Investasi dapen dan asuransi bisa menjadi buffer namun mereka harus diberikan kepastian hukum agar tak jadi korban di kemudian hari.

Seminggu Terbang 23%, Saham Samator (AGII) Jadi Primadona di Tengah Pasar yang Labil
| Rabu, 04 Februari 2026 | 08:14 WIB

Seminggu Terbang 23%, Saham Samator (AGII) Jadi Primadona di Tengah Pasar yang Labil

Permintaan gas industri mayoritas datang dari pelanggan tetap dengan kontrak jangka menengah hingga panjang.

Fundamental Kuat, Prospek Phapros (PEHA) Masih Sehat
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:42 WIB

Fundamental Kuat, Prospek Phapros (PEHA) Masih Sehat

Prospek PT Phapros Tbk (PEHA) pada 2026 dinilai semakin membaik seiring perbaikan fundamental kinerja dan fokus bisnis ke produk bermargin tinggi.

MSCI Effect Menghantam Saham Konglomerasi, Duo Indofood ICBP dan INDF Justru Menari
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:39 WIB

MSCI Effect Menghantam Saham Konglomerasi, Duo Indofood ICBP dan INDF Justru Menari

Jauh sebelum badai MSCI menghantam IHSG, saham INDF dan ICBP sejatinya sudah berada di fase bearish.

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Menuntaskan Akuisisi Saham PADA
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:37 WIB

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Menuntaskan Akuisisi Saham PADA

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) telah membeli sekitar 1,68 juta saham PADA di harga Rp 63 per saham.  

INDEKS BERITA

Terpopuler