Beban Fiskal

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:30 WIB
Beban Fiskal
[ILUSTRASI. TAJUK - Khomarul Hidayat (KONTAN/Indra Surya)]
Khomarul Hidayat | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Apakah kondisi fiskal Indonesia saat ini rentan? Pertanyaan ini mengemuka setelah realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 membengkak melampaui target. Bahkan mendekati batas level aman defisit anggaran yang ditetapkan.

Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN 2025 mencapai 2,92% dari produk domestik bruto (PDB) atau setara Rp 695,1 triliun. Rasio defisit anggaran itu melebar dibandingkan outlook 2025 sebesar 2,78% PDB. Juga jauh lebih tinggi dari target dalam APBN 2025 sebesar 2,53% PDB. Namun, masih dalam batas aman karena tidak melampaui 3% PDB. 

Walau masih dalam batas aman, defisit anggaran yang membengkak itu menimbulkan kekhawatiran peningkatan risiko fiskal. Apalagi angkanya nyaris menyenggol level batas aman defisit APBN yang sebesar 3% PDB. Kekhawatiran soal fiskal itu pula yang menambah tekanan di pasar keuangan. Nilai tukar rupiah yang melemah menembus level Rp 16.800 per dolar AS, menurut analis, salah satu sentimennya karena defisit APBN 2025 yang membengkak.

Maklum, defisit anggaran yang membengkak berarti akan menambah kebutuhan penerbitan surat utang pemerintah untuk membiayai defisit. Padahal, pemerintah juga harus menyiapkan pembiayaan untuk menambal defisit anggaran tahun ini yang direncanakan mencapai Rp 689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.

Ruang fiskal bakal semakin sempit andai penerimaan negara tahun ini masih berat. Sementara, kebutuhan belanja tahun ini tetap besar terutama untuk mendukung program prioritas pemerintah yang memakan anggaran jumbo seperti makan bergizi gratis. Sebagai gambaran, realisasi pendapatan negara di 2025 mencapai Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari outlook. Sedangkan realisasi belanja negara tercatat Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari outlook.

Keberlanjutan fiskal dan pengelolaan fiskal yang prudent menjadi isu sangat penting dan harus menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab, APBN adalah jangkar perekonomian. Kesehatan keuangan negara cerminnya adalah kesehatan fiskal.

Ekspansi fiskal dengan menggenjot belanja memang hal yang wajar untuk memacu ekonomi Indonesia yang sedang lesu. Apalagi, pemerintah punya target ambisius pertumbuhan ekonomi 8% di tahun 2029 nanti.

Saat krisis Covid-19, pemerintah juga melonggarkan defisit anggaran sampai di atas 3% PDB agar ekonomi tetap berdenyut. Hanya saja, ekspansi fiskal juga harus dibarengi pengelolaan yang hati-hati. Belanja negara yang jor-joran harus terukur dan punya efek gulir ekonomi yang besar. Bukan belanja yang malah menjadi beban fiskal.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

BRIS Makin Tertekan Usai Muncul Kabar Rencana Rights Issue 6,8 Miliar Saham
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:10 WIB

BRIS Makin Tertekan Usai Muncul Kabar Rencana Rights Issue 6,8 Miliar Saham

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B untuk memperkuat permodalan.

Laba TAPG Masih Kencang, Tapi El Niño dan Biaya Pupuk Menguji 2027
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Laba TAPG Masih Kencang, Tapi El Niño dan Biaya Pupuk Menguji 2027

Produksi yang lebih rendah oleh TAPG dapat tetap diimbangi oleh volume penjualan yang lebih tinggi melalui pelepasan persediaan.

Akhir Tahun Trafik Bakal Naik, Prospek Emiten Jalan Tol JSMR dan CMNP Kian Menarik
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:30 WIB

Akhir Tahun Trafik Bakal Naik, Prospek Emiten Jalan Tol JSMR dan CMNP Kian Menarik

Selain trafik yang akan naik seiring mobilitas masyarakat yang meninggi jelang pergantian tahun, kenaikan tarif tol juga memberi angin segar.

Percepatan Penyaluran FLPP Menjadi Katalis Pendorong Kinerja BBTN
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 20:50 WIB

Percepatan Penyaluran FLPP Menjadi Katalis Pendorong Kinerja BBTN

Prospek BBTN masih cukup positif, tetapi akan bergantung pada percepatan FLPP, kondisi pendanaan, dan kualitas aset.

Indeks Keyakinan Konsumen Menurun, Pola Konsumsi Jadi Faktor Penentu Sektor Ritel
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 16:21 WIB

Indeks Keyakinan Konsumen Menurun, Pola Konsumsi Jadi Faktor Penentu Sektor Ritel

Penurunan tipis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 ke level 118,1 dari 118,5 menempatkan persepsi masyarakat di zona optimistis.

Perdagangan Obat di Minimarket Diperketat, Bagaimana Dampaknya ke Emiten Farmasi?
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Perdagangan Obat di Minimarket Diperketat, Bagaimana Dampaknya ke Emiten Farmasi?

Emiten farmasi besar seperti KLBF, KAEF, SIDO dan TPSC masih memiliki banyak pilihan kanal distribusi sehingga tidak bergantung dengan minimarket.

Ada Perpindahan Dana, Total Kelolaan Industri Reksadana Turun pada September 2026
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 12:02 WIB

Ada Perpindahan Dana, Total Kelolaan Industri Reksadana Turun pada September 2026

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total dana kelolaan reksadana pada September 2026 tercatat sebesar Rp 641,10 triliun.

Pengembangan Industri Pusat Data di Kawasan Barelang
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 08:46 WIB

Pengembangan Industri Pusat Data di Kawasan Barelang

Industri ini membutuhkan dukungan utilitas dan konektivitas yang kuat, mulai dari pasokan listrik, air, jaringan telekomunikasi,

11 Proyek Hilirisasi  Rp 180 Triliun Diresmikan
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 08:38 WIB

11 Proyek Hilirisasi Rp 180 Triliun Diresmikan

Presiden Prabowo Subianto menyebut realisasi investasi di Kawasan IWIP mencapai lebih dari US$ 20 miliar

Beragam Respons Parpol di Parlemen
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 08:28 WIB

Beragam Respons Parpol di Parlemen

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menuturkan, tindak lanjut putusan MK akan berada di ranah politik

INDEKS BERITA

Terpopuler