Bensin Batubara dan Ujian Ekonomi Hilirisasi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana bensin dari batubara akan menguji kemampuan Indonesia membangun industri yang mampu bersaing tanpa subsidi berkepanjangan. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana itu dalam resepsi kesyukuran 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, 19 September 2026. Pengurangan impor memang dapat memperkuat ketahanan energi, tetapi manfaatnya bergantung pada biaya pengolahan dan dukungan yang harus disediakan negara. Pemerintah perlu memastikan keuntungan produsen sejalan dengan manfaat bagi perekonomian.
Indonesia membutuhkan tambahan pasokan bensin. Menurut Kementerian ESDM pada Juni 2026, kebutuhan bensin nasional diperkirakan sekitar 40 juta kiloliter setahun. Sebelum pengembangan Kilang Balikpapan, kapasitas produksi hanya 14,3 juta kiloliter. Tambahan kapasitas 5,5 juta kiloliter dari kilang itu menyisakan kebutuhan impor sekitar 20 juta kiloliter. Artinya, sekalipun kilang diperluas, sekitar separuh kebutuhan masih harus dipenuhi dari luar negeri. Pemerintah juga menyiapkan E20, yakni bensin dengan campuran etanol 20%. Besarnya impor saat ini belum tentu bertahan sepanjang umur pabrik bensin batubara. Proyeksi penjualan perlu memperhitungkan tambahan produksi kilang dan pasokan etanol agar berbagai program pengurangan impor tidak berebut pasar yang sama.
