Berat Sama Dipikul

Rabu, 29 April 2026 | 06:03 WIB
Berat Sama Dipikul
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Situasi ekonomi hari ini tidak sedang baik-baik saja. Tekanan datang dari berbagai arah: ketidakpastian global, harga energi yang terus bergejolak, pasar modal yang rontok, hingga tanda-tanda perlambatan ekonomi di dalam negeri. Dalam kondisi seperti ini, narasi klasik “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” kembali relevan. Namun, ada satu prasyarat utama agar semangat itu benar-benar hidup, yakni kepercayaan. 

Tanpa kepercayaan, narasi itu hanya menjadi slogan kosong. Dengan kepercayaan, beban yang berat sekalipun dapat ditanggung bersama, baik oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Sayangnya, tanda-tanda yang muncul justru menunjukkan arah sebaliknya. Dari sisi dunia usaha, Survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menunjukkan mayoritas pelaku usaha memilih menahan ekspansi. Mereka ragu.

Dari sisi fiskal, kepatuhan masyarakat dalam pelaporan pajak juga belum menunjukkan perbaikan signifikan. Hingga akhir April, momentum perpanjangan pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) belum menggambarkan lonjakan kepatuhan yang diharapkan. 

Jika serius menyimak, kita akan menangkap suara sebagian masyarakat dan pelaku usaha yang mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi. Di tengah tekanan yang meningkat, pemerintah tetap mempertahankan belanja besar untuk program-program prioritas yang haus anggaran namun tak langsung mengungkit ekonomi.

Di saat yang sama, kekhawatiran akan kebocoran anggaran tersebut juga menggerus kepercayaan. Rakyat semakin sensitif terhadap setiap rupiah yang dibelanjakan negara.

Pertanyaan tentang sense of crisis pun sering mengemuka. Ketika dunia usaha menahan ekspansi dan masyarakat mulai mengatur belanja dengan ketat, pemerintah justru kembali menambah kementerian dan lembaga baru.

Di titik ini, jelas bahwa tantangan terbesar bukan semata-mata pada indikator ekonomi, melainkan pada kepercayaan publik. Pemerintah perlu mengirimkan sinyal yang kuat dan konsisten bahwa situasi ini ditangani dengan sense of urgency yang memadai. 

Pada akhirnya, "berat sama dipikul" bukan hanya soal berbagi beban, tetapi juga soal berbagi keyakinan bahwa setiap pihak menjalankan perannya secara adil dan bertanggung jawab. Tanpa itu, beban justru akan terasa semakin berat dan dipikul sendiri-sendiri. 

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Rupiah Anjlok ke Rekor Terlemah: Waspada Pelemahan Lebih Dalam!
| Kamis, 30 April 2026 | 16:49 WIB

Rupiah Anjlok ke Rekor Terlemah: Waspada Pelemahan Lebih Dalam!

Rupiah capai rekor terlemah Rp 17.378 per dolar AS. Ketahui faktor pemicu utama pelemahan ini dan skenario terburuknya.

GOTO Akhirnya Catat Bottom Line Positif, Apa Saja Upaya Jitu Menjaga Laba?
| Kamis, 30 April 2026 | 14:50 WIB

GOTO Akhirnya Catat Bottom Line Positif, Apa Saja Upaya Jitu Menjaga Laba?

Analis mengatakan, perolehan laba bersih GOTO didorong oleh peningkatan signifikan di bisnis financial technology (fintech).

Setelah UAE, Anggota OPEC Lain Berpotensi Ikut Hengkang Manfaatkan Momentum
| Kamis, 30 April 2026 | 14:27 WIB

Setelah UAE, Anggota OPEC Lain Berpotensi Ikut Hengkang Manfaatkan Momentum

Pasca keluarnya Uni Emirate Arab (UEA), kendali OPEC atas pasokan minyak global akan semakin melemah.

Pasokan Kakao Sering Terganggu, Pengembangan Cokelat Lab Jadi Diversifikasi Penting
| Kamis, 30 April 2026 | 12:19 WIB

Pasokan Kakao Sering Terganggu, Pengembangan Cokelat Lab Jadi Diversifikasi Penting

Selain bermitra dengan petani kako di berbagai wilayah, Mondelez juga bermitra dengan start-up untuk mengembangkan bahan baku lab-grown cocoa.

Saham ANTM Tertekan Meski Kinerja Keuangannya Mengesankan, Akibat Ulah Investor Asing
| Kamis, 30 April 2026 | 08:30 WIB

Saham ANTM Tertekan Meski Kinerja Keuangannya Mengesankan, Akibat Ulah Investor Asing

Pelemahan rupiah serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan makroekonomi Indonesia memicu aksi jual saham ANTM.

Pupuk Kaltim Investasi untuk Peremajaan Pabrik Amonia
| Kamis, 30 April 2026 | 08:26 WIB

Pupuk Kaltim Investasi untuk Peremajaan Pabrik Amonia

Pihaknya mengucurkan dana berkisar Rp 900 miliar untuk proyek revamping alias peremajaan pabrik Ammonia  Pabrik 2 di Bontang, Kalimantan Timur,

Bantu Anak Usaha Bayar Utang, Energi Mega Persada (ENRG) Rilis Obligasi Rp 500 Miliar
| Kamis, 30 April 2026 | 08:21 WIB

Bantu Anak Usaha Bayar Utang, Energi Mega Persada (ENRG) Rilis Obligasi Rp 500 Miliar

Masa penawaran umum Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap III Tahun 2026 berlangsung pada 11-13 Mei 2026.

Penjualan Emas Kuartal I-2026 Melejit, Laba ANTM Tumbuh Dua Digit
| Kamis, 30 April 2026 | 08:16 WIB

Penjualan Emas Kuartal I-2026 Melejit, Laba ANTM Tumbuh Dua Digit

Segmen emas berkontribusi 81% terhadap total pendapatan ANTM di kuartal I-2026. Pendapatan dari segmen ini tumbuh 11% yoy jadi Rp 23,89 triliun.

Bukalapak (BUKA) Membukukan Rugi Rp 425 Miliar Pada Kuartal I-2026
| Kamis, 30 April 2026 | 08:08 WIB

Bukalapak (BUKA) Membukukan Rugi Rp 425 Miliar Pada Kuartal I-2026

Emiten teknologi yang bergerak di bisnis e-commerce, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), membukukan rugi bersih Rp 425,78 miliar di kuartal I-2026.

Saham Konglomerat Jadi Bandul Pemberat
| Kamis, 30 April 2026 | 08:03 WIB

Saham Konglomerat Jadi Bandul Pemberat

Harga mayoritas saham emiten konglomerat ringsek di sepanjang tahun berjalan ini. DSSA, BBCA dan BREN merupakan tiga saham yang menggerus indeks​.

INDEKS BERITA

Terpopuler