Berat Sama Dipikul
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Situasi ekonomi hari ini tidak sedang baik-baik saja. Tekanan datang dari berbagai arah: ketidakpastian global, harga energi yang terus bergejolak, pasar modal yang rontok, hingga tanda-tanda perlambatan ekonomi di dalam negeri. Dalam kondisi seperti ini, narasi klasik “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” kembali relevan. Namun, ada satu prasyarat utama agar semangat itu benar-benar hidup, yakni kepercayaan.
Tanpa kepercayaan, narasi itu hanya menjadi slogan kosong. Dengan kepercayaan, beban yang berat sekalipun dapat ditanggung bersama, baik oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Sayangnya, tanda-tanda yang muncul justru menunjukkan arah sebaliknya. Dari sisi dunia usaha, Survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menunjukkan mayoritas pelaku usaha memilih menahan ekspansi. Mereka ragu.
Dari sisi fiskal, kepatuhan masyarakat dalam pelaporan pajak juga belum menunjukkan perbaikan signifikan. Hingga akhir April, momentum perpanjangan pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) belum menggambarkan lonjakan kepatuhan yang diharapkan.
Jika serius menyimak, kita akan menangkap suara sebagian masyarakat dan pelaku usaha yang mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi. Di tengah tekanan yang meningkat, pemerintah tetap mempertahankan belanja besar untuk program-program prioritas yang haus anggaran namun tak langsung mengungkit ekonomi.
Di saat yang sama, kekhawatiran akan kebocoran anggaran tersebut juga menggerus kepercayaan. Rakyat semakin sensitif terhadap setiap rupiah yang dibelanjakan negara.
Pertanyaan tentang sense of crisis pun sering mengemuka. Ketika dunia usaha menahan ekspansi dan masyarakat mulai mengatur belanja dengan ketat, pemerintah justru kembali menambah kementerian dan lembaga baru.
Di titik ini, jelas bahwa tantangan terbesar bukan semata-mata pada indikator ekonomi, melainkan pada kepercayaan publik. Pemerintah perlu mengirimkan sinyal yang kuat dan konsisten bahwa situasi ini ditangani dengan sense of urgency yang memadai.
Pada akhirnya, "berat sama dipikul" bukan hanya soal berbagi beban, tetapi juga soal berbagi keyakinan bahwa setiap pihak menjalankan perannya secara adil dan bertanggung jawab. Tanpa itu, beban justru akan terasa semakin berat dan dipikul sendiri-sendiri.
